HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Hiruk Pikuk Demokrasi Di Desa Bojong Kulur Kabupaten Bogor



Berita HOT:

Liputan : Ninok Hariyani dan Johny Suryadi

indosiar.com, Bogor - Kesibukan penduduk Desa Bojong Kulur, Kabupaten Bogor, menjelang pemilihan kepala desa, atau Pilkades, sudah tampak beberapa hari sebelumnya. Mereka tengah sibuk memasang berbagai atribut kampanye, mulai dari brosur bergambar foto calon kades, hingga duplikat buah-buahan, lambang masing-masing calon kades.

Kampanye keliling kampung, menjadi kesenangan tersendiri bagi para pendukung dan simpatisan calon kades, tua maupun muda. Pendatang dan penduduk setempat, beramai-ramai berpartisipasi menggunakan hak pilih mereka dalam suasana demokrasi yang berjalan murni, apa adanya.

Sesuai peraturan, pemasangan tanda gambar dan kampanye, dilaksanakan 4 hari berturut-turut, menjelang pemilihan. Ada 2 calon kades yang akan ikut ajang pertarungan ini. Bagi pendukung Andi Sugandhi, salah satu calon Kades Bojong Kulur, memasang setandan buah pisang yang menjadi lambang calon dukungannya , berikut gambar fotonya, memberi makna yang sangat besar.

Upaya mereka ini , bagian dari sebuah kampanye memperkenalkan calon kades terpilih, kepada warga Bojong Kulur, yang sebagian besar mungkin belum mengenalnya. Tidak jarang mereka mendapat sambutan hangat warga, menanyakan lebih jauh bagaimana kehidupan dan kesibukan sosok sang calon. Ini berarti, kampanye yang dilakukan, cukup membuahkan hasil.

Bagi si calon kades sendiri, Andi Sugandhi, yang baru pertama kali mencalonkan diri, antusiasme warga mengenal dirinya lebih jauh, ditanggapi secara positif, sebagai upaya untuk mendapat dukungan mereka. Sebab, tanpa dukungan masyarakat ,pencalonan dirinya sebagai kades, tentu tidak akan berarti apa-apa.

Begitu pula bagi calon kades yang lain, Haji Sunta. Dengan semangat melaksanakan demokrasi, para pendukungnya memasang gambar foto dan membuat duplikat buah durian, yang menjadi lambang pencalonannya. Kebersamaan, sikap gotong royong, mewarnai perjalanan pendukung dan simpatisan Haji Sunta, menyebarkan informasi tentang pencalonan dirinya sebagai kades.

Bagi calon kades itu sendiri, sebenarnya menjadi kades, tak semudah yang dibayangkan. Selain dibutuhkan jiwa yang besar, semangat melaksanakan demokrasi yang baik, dan sikap pengabdian terhadap masyarakat, calon kades pun harus melalui serangkaian test yang telah ditetapkan. Disamping itu, secara finansial mampu menyediakan puluhan juta rupiah, pada saat pendaftaran. Biaya tersebut dipergunakan untuk menyelenggarakan pemilihan kades.

Seperti di Bojong Kulur, kali ini membutuhkan anggaran sebesar 63 juta rupiah. Anggaran sebesar itu, tentunya menjadi tanggungan 2 orang calon kades. Sehingga untuk bisa mengikuti pencalonan, setidaknya setiap calon harus menyiapkan dana sebesar 31 juta 5 ratus ribu rupiah, pada saat pendaftaran. Anggaran tersebut belum termasuk biaya kampanye yang harus ditanggung masing-masing kades.

Minimal, untuk kampanye keliling kampung, mencetak brosur dan membuat pernak-pernik kampanye lainnya, membutuhkan dana sebesar 30 juta rupiah. Jika di total, sekurangnya 60 juta rupiah harus tersedia. Sebagaimana biasa, isyu uang juga tidak lepas mewarnai setiap pemilihan kepala desa. Isyu "money politic" ini, biasa disebut Serangan Fajar, menerpa pula Bojong Kulur.

Sayangnya sulit untuk membuktikan adanya politik uang tersebut. Apalagi warga sekitar, terutama mereka yang tinggal di kawasan perumahan menengah ke atas terlihat kurang peduli. Alhasil, proses pemilihan berjalan terus, nyaris tanpa hambatan.

Saat pemilihan pun tiba. Bilik-bilik suara telah tertata rapi di lapangan tempat penyelenggaraan pemungutan suara. Ruas jalan tak jauh dari lapangan, disulap menjadi pasar tumpah. Pesta demokrasi pilkades menjanjikan rejeki tersendiri bagi para pedagang segala jenis barang, mulai dari makanan hingga perlengkapan rumah tangga.

Bagi calon kades, hari itu adalah hari yang sangat menentukan karir mereka mendatang. Terpilih sebagai kades atau tidak, untuk periode 2003 hingga 2008. Sedangkan bagi warga Bojong Kulur , mencapai 24 ribu jiwa lebih, ajang pilkades ini mendatangkan keceriaan tersendiri.

Hari itu juga, sebanyak 14 ribu lebih warga yang punya hak pilih, secara resmi diundang ke TPS untuk memberikan hak pilih mereka. Proses pemungutan suara pun berjalan tertib. Tak ada kericuhan berarti.

Satu hal yang menarik, animo terbesar justru datang dari warga menengah ke bawah yang merupakan penduduk asli perkampungan itu. Dari 6000 jiwa lebih, 90 persen telah menyampaikan hak pilihnya. Sementara pendatang yang tinggal di perumahan-perumahan elit, yang jumlahnya mencapai mayoritas, yakni sekitar 9000 jiwa, justru tak mengenal dengan baik arti sebuah demokrasi.

Waktu perpanjangan yang diberikan panitia 4 jam lamanya, sesuai kesepakatan sesama calon kades, ternyata tak membuahkan hasil. Kenyataan menunjukkan, dari daftar hadir yang ada, hanya sekitar 45 persen saja warga perumahan menengah ke atas yang menggunakan hak pilihnya. Ironis memang. Padahal sosialisasi telah dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya.

Bagaimana pun, penghitungan suara tetap dilaksanakan, meski jumlahnya tak mencapai quorum. Kesepakatan agar tidak mempermasalahkan hasil penghitungan pun, telah disetujui kedua calon kades. Berapapun perolehan suara, yang terbanyaklah yang akhirnya terpilih sebagai Kepala Desa Bojong Kulur. Pada pemilihan kali ini, Haji Sugandhi yang sebelumnya dikenal sebagai sekretaris desa, memperoleh suara mayoritas. Rasa suka cita , tentu mewarnai perayaan kemenangannya.

Begitulah sebuah pesta demokrasi pemilihan kepala desa, yang berakhir dengan damai. Ini memang hanya sebuah potret kecil di sebuah desa di Kabupaten Bogor. Peristiwa yang bisa terjadi pada ribuan desa di tanah air, dengan nuansa berbeda. Pelajaran mengenai arti demokrasi yang menjunjung tinggi sportifitas, tercermin di sana.(Idh)

Video Streaming

Bookmark and Share