HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Ibu Bunuh Anak Kandung Karena Kesal



Berita HOT:

Reporter : Sisca T Gurning - Asep Syaifullah
Juru Kamera : Iwan Agung - Rudi Asmoro - Wahyu Wacana

indosiar.com, Jawa Barat - Petaka yang menimpa keluarga Nadi berawal sepekan lalu, ketika Nuryana, salah satu anaknya meninggal secara mendadak. Kerabat Nadi dan warga Kampung Cibarengkok, Desa Binong, Kerawang, yang memandikan jasad anak berusia tiga tahun itu, menemukan beberapa luka memar yang mencurigakan. Ternyata, dibalik luka yang membiru itu tersembunyi rangkaian cerita yang menyedihkan.

Peristiwa

Kesedihan tampak menggelayuti wajah lelaki tengah baya ini. Bersama putra bungsunya, ia menuju ke Pemakaman Umum Desa Binong, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Di salah satu makam, pria tersebut tak kuasa melepas rasa dukanya. Karena gundukan tanah didepannya adalah makam putra sulungnya, yang tewas tujuh hari yang lalu.

Sepekan lalu, tanggal 7 Agustus, dua orang warga melapor ke Polsek Binong, bahwa di Kampung Cibarongkok, Desa Binong, seorang anak usia tiga tahun tewas karena sebab yang tidak wajar. Warga tersebut curiga, di tubuh dan kepala bocah berusia tiga tahun yang bernama Nuryana terdapat luka memar. Warga menduga LRI, ibu kandung anak itu, telah menganiaya korban hingga tewas.

Aparat kepolisian pun menuju tempat kejadian perkara. Di rumah korban, tim Forensik Polres Subang memeriksa tempat kejadian perkara dan mengamankan beberapa barang bukti. Pemeriksaan petugas juga dilakukan terhadap jasad Nuryana, di Rumah Sakit Umum Daerah Subang. Dari hasil otopsi, di tubuh kecil bocah umur tiga tahun ini, terdapat luka memar yang parah di kepala bagian belakang, yang diduga akibat benturan benda tumpul.

Sementara beberapa petugas lainnya mengamankan LRI, ibu kandung korban, yang diduga mengetahui betul peristiwa tragis itu. Ketika akan diamankan polisi, ibu korban menolak dan membantah dianggap telah menganiaya anaknya hingga tewas. Menurut LRI, saat itu dirinya tengah memasak di dapur, tanpa dia tahu, Nuryana anak sulungnya jatuh dari kursi dan ditemukan telah tewas.

Namun aparat keamanan tidak mempercayai keterangan sang ibu. LRI tetap digiring ke Mapolres Subang, Jawa Barat. LRI, ibu kandung Nuryana, akhirnya mengaku telah menganiaya anaknya dengan memukulkan kayu pembersih wc ke kepala korban berulang kali. Selain memukul kepala anaknya yang baru berusia tiga tahun, LRI juga membanting Nuryana ke lantai.

Di hari naas itu, Nuryana bermain dengan saudara kembarnya Nuryanto, mereka akhirnya bertengkar karena berebutan mainan. LRI marah, lalu memisahkan mereka dengan menyuruh adik korban untuk pergi ke rumah orang tuanya, yang tidak jauh dari rumah mereka. Sedangkan Nuryana dihukum sang ibu untuk diam ditempat. Kenakalan Nuryana, layaknya anak seusianya terus terjadi, hingga akhirnya korban terjatuh karena air di lantai.

Melihat kejadian itu, LRI justru tidak bisa menahan amarahnya. Ibu muda itu melampiaskannya dengan mengambil pembersih WC dan memukulkan berulang kali ke kepala korban.

Seperti orang kalap, LRI membanting tubuh Nuryana ke lantai, hingga kepala korban menghantam lantai dengan keras. Saat itu pula, Nuryana sesak napas. Sang ibu memeriksa kondisi Nuryana dan membawanya lari ke rumah orang tuanya. Dari rumah orang tua LRI, dengan mengendarai motor tubuh, Nuryana dibawa ke Puskesmas Binong, namun ditengah perjalanan nyawa anak kecil ini tidak dapat tertolong lagi.

Kekerasan terhadap anak, sepatutnya tidak dilakukan oleh orang tua apapun alasannya. Walaupun untuk mendidik sang anak karena dapat berakibat fatal. Kekerasan mengakibatkan kematian adalah tindak kriminal. LRI, ibu kandung Nuryana kini harus mempertanggung jawabkan perbuatannya dibalik jeruji penjara.

Kesaksian

Warga Kampung Cibarongkok, Desa Binong, Kecamatan Binong, Kabupaten Subang, menaruh curiga atas kematian Nuryana, akibat penganiayaan LRI. Walau LRI mengakui anaknya tewas karena jatuh dari kursi, mereka tahu LRI tega dan sering memukul anaknya sendiri.

Suami tersangka Nadi, awalnya mempercayai pengakuan istrinya kalau anak sulungnya jatuh dari kursi. Namun setelah melihat luka memar di kepala Nuryana dan pengakuan LRI, bahwa LRI memukuli anak kandungnya, rasa sesal dan duka tampak di wajah lelaki tengah baya ini.

Perasaan perih karena sedih dan kecewa yang hanya tersisa. Kematian anak kandung akibat penganiayaan ibunya sendiri, meninggalkan duka yang mendalam buat suami dan keluarga tersangka. Anak seharusnya tumbuh dengan bimbingan kasih sayang bukan dengan kekerasan.

Delik

Dalam pemeriksaan aparat kepolisian Polres Subang, awalnya LRI bungkam dan tidak mengakui perbuatannya menganiaya anak kandungnya sendiri hingga tewas. Namun dari keterangan para saksi dan adanya benturan benda tumpul dibagian belakang kepala korban, tersangka akhirnya mengaku telah menganiaya anaknya. Kekerasan yang dilakukan LRI hingga dan menewaskan anak kandungnya, dapat diganjar hukuman pasal pembunuhan 351 ayat 3 KUHP penganiayaan, yang mengakibatkan matinya orang lain.

Apa Kata Mereka

Perbuatan LRI terhadap anak kandungnya sendiri disesali warga dan keluarga. Mereka berharap LRI mendapat hukuman setimpal dengan perbuatannya. Kemarahan Nadi, terhadap istrinya berujung keinginan Nadi untuk menceraikan istrinya. Tak habis pikir, ibu kandung tega menghabisi nyawa anaknya sendiri.

Menurut Ketua Pusat Krisis Terpadu RSCM Dokter Budi Sampurna, orang tua yang hendak memberikan hukuman kepada anak, seharusnya hukuman fisik adalah alternatif terakhir dalam mendidik anak. Karena kekerasan fisik akan meninggalkan trauma fisik dan psikis pada si anak.

Awalnya pukulan hanya untuk memberi pelajaran pada sang anak. Namun saat pukulan itu tidak terkendali, maut menjadi taruhannya. Seharusnya kekerasan fisik terhadap anak dihentikan, biarkan mereka tumbuh dengan bimbingan dan kasih sayang orang tua. Kini, mendung duka harus menyelimuti kehidupan Nadi dan keluarga. Keutuhan rumah tangga pun harus kandas, karena LRI tega menghabisi nyawa anaknya sendiri.

Kekesalan orang tua terhadap anak seperti yang dirasakan oleh LRI, sebetulnya juga banyak dirasakan oleh orang tua lain. Apa yang terjadi dalam peristiwa ini, semogga saja bisa menjadi peringatan bagi kita sebagai orang tua untuk berhati-hati dalam menjatuhkan hukuman dan menumpahkan amarah pada anak.(Sup/Idh)

Video Streaming

Bookmark and Share