
indosiar.com, Jakarta - Pembuatan ikan asin di Muara Angke, Jakarta Utara masih tradisional. Pengeringan sangat tergantung cuaca. Sejak merebaknya isu pemakaian formalin, omset penjualan ikan asin menurun tajam.
Kekayaan laut Indonesia, sungguh kaya dengan aneka jenis ikan yang dapat diperoleh dengan mudah. Seperti ikan teri, tongkol, jambal, cumi hingga ikan pari.
Dikawasan pengolahan ikan Muara Angke, Jakarta Utara, ikan segar ini diolah menjadi ikan asin. Seperti ikan pari. Bagian yang dibuang lebih dulu adalah ekor.
Takarannya, satu karung garam untuk setiap gram ikan. Perendaman memakan waktu 12 jam. Bahkan hingga semalam suntuk.
Setelah larutan garam meresap, ikan kemudian dijemur dibawah sinar matahari. Cara produksinya memang masih manual. Karena itu, pengeringan ikan sangat tergantung dari cuaca.
Jika musim hujan, pengeringan bisa berhari-hari. Ikan-ikan ini dipastikan harus benar-benar kering. Sebab jika proses penjemuran kurang sempurna, bahan makanan akan muda ditumbuhi jamur dan mudah hancur.
Sarana pengolahan ikan asin Muara Angke berdiri sejak tahun 1984. Menempati areal seluas 4,5 hektar. Produksi ikan asin Muara Angke mencapai 30 hingga 40 ton perhari.
Mereka sengaja membubukan formalin bahan pengawet, agar ikan yang telah kering ini tidak cepat ditumbuhi jamur dan lebih awet.
Seiring gencarnya sosialisasi bahaya formalin bagi keamanan bahan pangan, sebagian pengolah sebenarnya mulai memperbaiki kebersihan produksi. Pengasin di Muara Angke tercatat berjumlah 200 orang.
Hasil pengasinan biasanya dikirim ke Pulau Sumatera seperti Lampung, Jambi, Padang dan Medan. Dan gurihnya ikan asin sebagai menu pelengkap makanan yang telah bebas formalin dapat dinikmati kembali tanpa rasa khawatir. (Sup)