HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
RAGAM

Ikhlasku Menerima Takdir



Liputan : Eliza Amanda & Dedi Suhardiman
Tayang : Jumat, 16 Maret 2007, Pukul 12:00 WIB

indosiar.com, Jakarta - Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing – masing. Karena itu semua manusia hakekatnya sama, dan saling membutuhkan. Tak bijak kita merasa lebih sempurna, atau sebaliknya, merasa tak berarti. Karena nilai seseorang tidak ditentukan oleh kesempurnaan fisik, atau kekuatan tenaga, tapi oleh seberapa besar ia memberi manfaat bagi orang lain. Segmen I

Namaku Ramdani. Nama itu diambil dari kelahiranku, bulan Ramadhan, 22 tahun lalu. Tapi orang - orang lebih sering memanggilku Idan. Aku anak pertama dari empat bersaudara. Dari kami berempat, hanya aku yang memiliki tubuh seperti ini. Kedua kaki kecil dan tidak bisa berjalan normal seperti orang lain pada umumnya.

Aku sebenarnya lahir normal. Tapi saat usia lima bulan, orang tuaku melihat keanehan, pertumbuhan kedua kakiku tidak seperti anggota tubuh yang lain. Orang tua telah beberapa kali membawa ke rumah sakit, sampai dua tahun, tapi tak ada hasil.

Kakiku tetap tak tumbuh normal, bahkan makin mengecil. Seorang dokter menyarankan untuk dioperasi, tapi ibuku tak mengijinkan, mungkin karena alasan biaya. Sejak saat itulah aku cacat seumur hidup. Gerakanku lambat, hanya bertumpu kekuatan tangan dan lutut. Lelah sekali menjalaninya.

Aku manusia, sama seperti yang lain, tapi ada saja yang mengejekku, menyebutku kambing. Yang menyakitkan, mereka itu tetanggaku sendiri. Ada rasa geram, tapi kucoba menahannya dalam hati. Kadang, mereka melontarkan ejekan itu di depan kedua orangtuaku.

Kami dari keluarga sederhana, atau tepatnya keluarga miskin. Adikku yang pertama sudah menikah dan tinggal di Tangerang dengan dua anaknya. Adikku yang kedua berjualan di warung depan rumah, sedangkan yang bungsu masih sekolah kelas II SMA.

Ayahku bernama Sidik, dulu dia bekerja sebagai tukang potong ayam di Pasar Senen, tapi usaha itu bangkrut dan sampai kini ayah belum juga dapat pekerjaan lagi.

Ibu coba membantu perekonomian keluarga dengan membuka warung di pinggir kali, tapi musibah dating. Tiba - tiba ibu sakit, tubuhnya lemah tak bisa bergerak. Kata dokter, ibu kelebihan darah putih. Sejak itu perekonomian kami kian morat – marit. Sedang kebutuhan begitu banyak, untuk makan, biaya sekolah si bungsu, dan tentu saja, untuk biaya berobat ibu.

Sebagai anak sulung, tak kuat rasanya hanya berdiam diri. Aku harus melakukan sesuatu, semampu. Berbekal kursi roda yang diberikan seseorang, akupun merintis menjadi penjual koran di pinggir jalan. Tanpa terasa, waktu berjalan, aku menikmati pekerjaan ini.

Segmen II

Berbekal kursi roda pemberian seseorang, Idan coba merintis langkah, dengan membantu temannya berjualan Koran. Dari situlah ia memulai sampai kemudian bisa berjalan sendiri, menjadi penjual Koran.

Beginilah pekerjaanku setiap hari. Pagi - pagi sudah harus mengantar koran ke rumah langganan. Padahal aku baru pulang dini hari setelah menjajakan koran sore.
Kelelahan membuatku mudah tertidur, dimana saja . Apalagi rumahku sempit, dihuni empat kepala keluarga.

Aku bersyukur, kondisi kesehatan ibuku mulai membaik dan sudah mulai berjualan lagi. Di hatiku, ingin melihat ibu istirahat saja, dan memberiku kepercayaan memikul tanggung jawab keluarga. Tapi beliau tidak mau, mungkin tak tega setiap kali melihat kelelahan setiba di rumah.

Aku juga bersyukur, agen tempatku bekerja sangat baik dan mengerti keadaanku. Mereka mau mengantar koran ke rumah. Selain mengantar ke pelanggan, aku juga menjajakannya. Tempatku bisanya di sekitar lampu merah Kebon Sirih.

Jujur, situasi di jalanan memang berat buatku. Sering aku merenung, di sela - sela aku berjualan, kadang muncul pertanyaan, tentang masa depanku. Saat aku dihingapi rasa sedih, aku menghibur diri, mencoba tertawa, tak mau ada orang lain tahu kesedihanku.

Inilah hidup yang harus kujalani. Aku melihat orang - orang berpacu dengan waktu, sibuk dengan urusan masing – masing, tak mau tahu orang lain. Pernah sebuah mobil menyerempet kursi rodaku.

Aku terkesima, mau marah tak bisa. Sang pengemudi mobil bahkan menuduh cacat yang kuderita hanya tipuan. Duh, seandainya dia semenit saja mau merasakan bagaimana menjadi aku.

Aku tak pernah memanfaatkan cacat ini untuk hal lain, kecuali murni berjual Koran, untuk keluargaku. Kalaupun ada yang memberiku uang lebih, kuanggap itu rezeki, karena ku takkan pernah meminta, apalagi mengemis pada mereka.

Hanya, tak semua bisa mengerti keadaanku. Aku pernah terjaring operasi Trantib. Bukan cuma terusir dari lampu merah, Koran - koran daganganku dan teman - teman juga disita. Setoran terpaksa dihutang.

Dalam sehari, paling banyak koran yang laku 30 eksemplar. Satu eksemplar aku hanya mengambil untung 400 rupiah. Tapi tak setiap hari rezeki di dapat, apalagi jika datang hujan. Koran tak laku, setoran terpaksa ditombok lagi. Hidup memang tak berpihak pada kami yang kecil, apalagi untuk aku yang begini.

Tapi biarlah. Semua akan kujalani. Karena hidup memang harus berjalan. Siapa tahu, kelak waktu berpihak padaku, dan aku bisa membuat kios, keinginan lama yang sampai kini masih kupelihara dalam hati. (Firdaus Masrun/Dv/Idh)

 

Bookmark and Share


Page: 1
3-Jun-2010 10:02:37 WIB by arul
sabar ya bang..kesabaran dan keikhlasan abang menjalani hidup pasti akan di balas Allah SWT.kita semua sama bang yang membedakan dihadapan Allah hanya amal ibadah kita.
3-Jun-2010 09:58:17 WIB by arul
sabar ya bang kita semua sama ko dihadapan Allah..
Orang seperti abang pasti disayang Allah...
di lihat Allah amal ibadah kita.
semoga Do,a dan harapan abang dikabulkan oleh Allah..
2-Jun-2008 14:47:28 WIB by Puspa
Yang tabah ya bang... dengan kesabaran & kegigihan abang dalam menjalani cobaan dari Allah, maka semoga Allah membukakan pintu rezeki yang lebar buat abang dan keluarga..aminn
20-Mar-2007 08:22:32 WIB by erza saladin
subhanaallah begitu lah seharusnya kita mengarungi kehidupan ini , krn hakikat kehidupan itu cobaan dan Allah swt akan melihat kelak siapa yang paling baik amal kebaikkan
19-Mar-2007 12:40:55 WIB by mona
kesabaran selalu membuahkan hasil yg baik.. bahkan sangat baik. klopun manusia blm bs menghargai jerih payah org laen tapi tidak dengan Allah.. saya salut sekali dengan perjuangan ramdhani yg sukses menghadapi rintangan hidupnya. semoga bisa menjadi salahsatu contoh buat kita semua. Amien..
18-Mar-2007 12:37:19 WIB by solihin
hidup adalah ujian.....
kecacatanmu adalah ujian dari Alloh....
semoga kau ditetapkan iman sampai ahir hayat...yg sehat, yg cacat, yg miskin yg kaya ..semua akan kembali kepada Alloh...
kita lahir tidak punya apa apa....
dan kembali juga tidak bawa apa apa...
kecuali amal yg soleh dan ihlas...
17-Mar-2007 11:56:33 WIB by ichayoung
semoga allah swt mendengar dan mengabulkan doa mu idan memang hidup bukan harus diratapi tapi harus diperjuangkan
17-Mar-2007 09:15:26 WIB by Ariena
Yang tabah ya ramdhani, mungkin di dunia kau terhina tapi di akhirat nanti kau akan di muliakan oleh Allah, betapa piciknya orang - orang yang tidak mengerti kesusahan orang lain. Semoga Allah melimpahkan rezeki dan rahmat yang tak terhingga kepadamu (amin). Teruslah semangat dan jangan putus asa atas ejekan orang kepadamu.

 

Nama:
Email:
Security Code: