
indosiar.com, Jakarta - Bangunan museum sejarah Jakarta, atau lebih dikenal juga sebagai Museum Fatahillah ini, menorehkan banyak kenangan bagi mereka yang pernah tinggal, maupun hanya singgah di Jakarta tempo doeloe.
Dahulu kala, gedung ini menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda, setelah kekuasaan Kerajaan Jayakarta runtuh pada tahun 1619. Pada tahun itu pula, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jan Pieterzoon Coen, membangun kastil di atas reruntuhan Jayakarta, yang menjadi cikal bakal berdirinya kota baru, Batavia.
Sebelumnya, Fatahillah atau Fadillah Khan, seorang panglima perang utusan Kerajaan Cirebon, merebut daerah ini yang disebut Sunda Kelapa, pada 22 Juni 1527. Dia kemudian mengubah nama kota ini menjadi Jayakarta, yang kemudian hari berubah menjadi Jakarta.
Saat itu wilayah ini termasuk daerah kekuasaan kerajaan Sunda Kelapa, yang merupakan bagian dari Kerajaan Pajajaran. Sunda Kelapa saat itu dikenal sebagai bandar yang diramaikan oleh perniagaan rempah-rempah dan aneka komoditi dari mancanegara.
Penduduk Jakarta asli dikenal sebagai orang Betawi. Suku ini lahir dari perpaduan etnis lain yang sudah lebih dulu tinggal di Jakarta, seperti Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, dan Melayu.
Istilah suku Betawi muncul setelah tahun 1930, saat pemerintah Hindia Belanda memasukkan kategori suku dalam sensus penduduk. Saat itu tercatat jumlah orang Betawi hampir mencapai 779 ribu jiwa, yang merupakan mayoritas penduduk kota Batavia.
Namun dari waktu ke waktu, seiring perkembangan kota Jakarta, jumlah orang Betawi semakin menyusut.
Setelah tahun 1945, yang menjadikan Jakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia, kota ini menjadi sentra pemerintahan maupun kegiatan perekonomian. Ini membuat Jakarta dibanjiri imigran dari berbagai daerah dan negara.
Budaya Betawi yang bersifat terbuka terhadap berbagai hal baru yang dibawa oleh pendatang, Memunculkan perpaduan budaya Betawi dengan budaya dari daerah dan asing, yang memperkaya nuansa Betawi.
Hal ini membuatnya tak lagi memiliki ciri khas. Sehingga membuat orang Betawi seolah menjadi minoritas di kampung halamannya sendiri.
Proses asimilasi dari berbagai bangsa ini masih terus berlangsung. Sayangnya, beberapa bagian budaya ini hilang karena generasi baru yang tidak memahami nilai tinggi budaya itu.
Menurut seorang pedagang kerak telor bernama salam, semestinya generasi muda melestarikan budaya Betawi, seperti makanan khas kerak telor.
Di tengah kemegahan metropolitan Jakarta, sebagian orang Betawi seperti menjadi penonton atas kemegahan kotanya ini. Tak banyak memang orang Betawi yang menduduki posisi strategis, baik di pemerintahan, maupun sektor ekonomi.
Dalam kehidupan modern Jakarta, mendengar istilah Betawi, orang akan lebih mengenalnya sebagai lakon jenaka, atau jago-jago silat legendaris. Padahal merekai dapat berbuat lebih daripada itu, untuk membangun Jakarta.(Idh)