===================
Ruang Serbaguna Lantai 2, Rumah Sakit Kanker Dharmais, awal Agustus lalu, tampak dipenuhi orang. Karena banyak yang datang, kursi yang disediakan pun tidak cukup dan menyebabkan sebagian besar peserta rela berdiri mendengarkan apa yang disampaikan para narasumber dalam acara Pertemuan Odha Se-Jabotabek itu. Mereka tampak saling mengenal satu sama lain. Kebanyakan yang datang adalah pria-pria muda. Ada juga orang tua dan wanita yang membawa serta anaknya.
Tidak ada yang aneh dalam penampilan mereka. Semuanya biasa saja. Mereka tampak sehat. Bahkan beberapa diantaranya, ukuran badannya lumayan besar alias gemuk. Namun saat moderator acara itu mempersilahkan para peserta untuk bertanya kepada Prof. Dr Samsuridjal Djauzi Sp.PD dan Prof. Dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD, barulah diketahui bahwa sebagian besar dari mereka yang hadir adalah para penderita HIV/AIDS positif. Mereka adalah pasien Prof. Samsuridjal di RS Kanker Dharmais dan pasien Dr. Zubairi di Rumah Sakit Kramat 128.
Kok tampak sehat ? tanya penulis pada salah seorang penderita HIV/AIDS, yang merupakan ODHA (orang dengan HIV/AIDS) binaan di LSM Srikandi. "Saya udah 6 bulan minum ARV (antiretrovival,red). Kalau disiplin minumnya, kata Profesor Samsu, penyakitnya bisa berkurang. Cuma saya gak disiplin, sering lupa, jadi berat badan kadang naik kadang turun. Minum ARV gak boleh lupa seharipun," jelas pria kemayu yang tak ingin disebutkan namanya itu.
Yah, ARV saat ini memang menjadi obat yang direkomendasikan seluruh dokter di dunia bagi para penderita HIV/AIDS. Sebagaimana dikatakan Prof Dr. Samsuridjal, di Indonesia, sejak tahun 2004, obat ARV disediakan secara gratis oleh pemerintah. Pertama obat tersebut dapat diperoleh di 25 rumah sakit yang ditunjuk dan sekarang berkembang menjadi 75 rumah sakit. "Yang paling penting agar virus HIV tidak terdeteksi adalah mengkonsumsi ARV secara terus menerus dan tidak boleh dihentikan sehari pun. Kalau satu hari lupa, masih tidak apa-apa, tapi kalau satu bulan tidak mengkonsumsi, virus HIV akan kembali banyak seperti saat pertama kali mengkonsumsi. Sayang kan, sudah berkurang eh karena lupa virusnya malah bertambah," tegas dokter Samsuridjal.
AIDS singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome artinya kumpulan gejala penyakit yang disebabkan karena hilangnya kekebalan tubuh, sistem kekebalan tubuh berfungsi melawan kuman atau virus yang masuk kedalam tubuh. Penderita AIDS terserang berbagai penyakit, karena system kekebalan tubuhnya telah rusak.
AIDS disebabkan oleh virus bernama Human Immuno Deficiency Virus (HIV), yang menyerang dan merusak system kekebalan tubuh. Penyakit ini telah menyebar dengan cepat ke seluruh dunia, sebagian besar ditularkan melalui hubungan seks.
Walaupun AIDS adalah penyakit yang sangat berbahaya, tetapi hanya ada tiga cara penularan :
- Hubungan seksual tanpa pelindung dengan pasangan yang terinfeksi HIV. Resiko akan bertambah besar apabila ada penyakit kelamin lainnya yang diderita pasangan. Resiko penularan dari pihak pria kepada wanita lebih besar daripada sebaliknya.
- Melalui alat suntik atau alat tusuk lainnya (Akupuntur, Tato, Alat Cukur, dll). Juga melalui transfuse darah yang tercemar HIV.
- Dari ibu yang terinfeksi kepada bayi selama kehamilan dan persalinan
Virus HIV tidak ditularkan dengan cara berikut, yaitu:
1. Berpelukan social, berjabat tangan
2. Pemakaian WC, wastafel atau kamar mandi bersama
3. Di kolam renang
4. Gigitan nyamuk atau serangga lain
5. Membuang ingus, batuk atau meludah
6. Pemakaian piring, alat makan atau makan bersama-sama
Dan untuk mencegah penularan, sebaiknya menghindari hubungan seks di luar nikah, memakai kondom pada mereka yang mempunyai pasangan HIV positif, menggunakan jarum suntik dan alat tusuk lainnya yang terjamin sterilitasnya, skrining pada semua kantong donor darah, wanita dengan HIV positif tidak hamil dan kondom untuk kelompok resiko tinggi.
Selain masalah obat, dipertemuan tersebut juga terungkap bahwa ODHA masih mengalami diskriminasi dari masyarakat. Tidak hanya masyarakat awam, bahkan institusi seperti kepolisian dan lembaga kesehatan, juga memberikan diskriminasi bagi para ODHA.
"Dulu saya bekerja disalah satu perusahaan swasta di Jakarta. Begitu mengetahui bahwa saya seorang ODHA, manajemen perusahaan langsung memberikan surat resign dan memutuskan hubungan kerja secara sepihak. Rasanya saat itu, pengen mati aja. Tapi dengan dukungan keluarga, saya mencoba bangkit dan sekarang sudah usaha sendiri. Kecil-kecilan sih," kata Kris, yang mengetahui dirinya positif HIV pada tahun 2004, melalui jarum suntik yang digunakannya saat mengkonsumsi narkoba.
Tidak hanya itu, pada saat anaknya menderita demam berdarah, Kris juga mengalami hal yang tidak mengenakkan sehubungan dengan penyakit yang dideritanya itu. "Rumah sakit langsung memindahkan anak saya dari ruangan biasa ke ruang isolasi. Anak saya diperlakukan seperti penyakitan. Perawat yang menjaga anak saya kelihatan ketakutan, padahal kan anak saya bukan penderita HIV. Masa harus ngalamin yang gak enak," ungkap Kris dengan berkaca-kaca.
Tidak jauh berbeda, ODHA yang lain seperti Mas Agung dan Edward, juga mengalami diskriminasi. Keduanya diberhentikan secara sepihak dari tempatnya bekerja. Alasan utama pemberhentian karena perusahaan takut, karyawan yang lain akan resah dengan adanya penderita HIV/AIDS ditempat mereka bekerja.
Meski ketiganya (Kris, Mas Agung dan Edward) sudah bisa menerima bahwa mereka adalah ODHA, namun Edward masih tampak segan memperlihatkan wajahnya. Berbeda dengan Kris dan Agung, yang terang-terangan menampakkan wajah aslinya, Edward menutupi wajahnya dengan topi. "Saya tidak takut orang mengenali wajah saya. Daripada saya tutupi-tutupi trus mereka baru tahu dan langsung menyingkir, lebih baik dari awal mereka tahu siapa saya," tandas Mas Agung, yang mengetahui dirinya positif HIV/AIDS pada tahun 2004. Ia terinfeksi melalui jarum suntik yang digunakannya untuk mengkonsumsi narkoba.
Mereka juga mengakui, dukungan keluarga dan teman-teman sesama ODHA membuat mereka optimis menjalani hidup. Diluar keluarga dan teman-teman, mereka mengharapkan agar masyarakat bisa menerima mereka seperti apa adanya. Mereka tidak ingin dikucilkan. Mereka bukan penebar virus. Mereka berharap terimalah mereka tanpa mempermasalahkan masa lalu mereka.(Indsib/HIS)