
indosiar.com, Ogan Ilir - Desa Tanjung Pinang, Kecamatan Tanjung Batu terletak sekitar 10 kilometer dari Indralaya, ibukota Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Sebagian warga desa ini berprofesi sebagai pandai besi.
Seperti Irayadi Nurdin, atau lebih populer dipanggil Yadi ini. Keterampilan menempa besi diwarisinya dari orang tuanya. Ia telah enam belas tahun bergelut dalam usaha pandai besi. Berbagai produk dari besi telah dihasilkannya. Mulai dari pisau, pedang, golok, hingga alat-alat pertanian.
Untuk menjadi pandai besi, dibutuhkan modal sedikitnya dua juta rupiah. Modal tersebut digunakan untuk membuat sarana penempaan besi. Seperti pompa, palu, dan peralatan pendukung lainnya.
Sebagai tempat usaha, kebanyakan warga desa ini memanfaatkan pekarangan tempat tinggal mereka.
Para pandai besi di desa ini lebih menyukai pipa bekas sebagai bahan baku, karena harganya lebih murah. Sehingga harga pisau ataupun golok yang dihasilkan lebih mudah dijual.
Namun kini pipa bekas sulit didapat. Tidak setiap minggu mereka bisa mendapatkan pipa bekas. Kalaupun ada, harganya sudah terlalu tinggi. Padahal tanpa pipa itu, para pandai besi di tempat ini tidak dapat bekerja.
Dahulu, pipa bekas mudah didapat. Sebuah perusahaan minyak nasional yang beroperasi di wilayah ini, kerap menyelenggarakan lelang pipa bekas yang sudah tidak terpakai.
Sulitnya memperoleh pipa bekas, membuat para pandai besi ini berebut bahan baku. Bahkan mereka tidak mempedulikan apakah pipa bekas itu diperoleh secara ilegal.
Dari catatan kepolisian setempat, di kawasan yang dilewati saluran minyak milik perusahaan nasional ini, kerap terjadi pencurian pipa saluran minyak. Namun para pandai besi ini menolak dikatakan bekerjasama dengan kelompok pencuri pipa besi tersebut.
Karena bahan baku terbatas, kini dalam satu hari, Yadi hanya membuat dua puluh bilah parang, yang dibeli pedagang pengumpul seharga seratus tiga puluh ribu rupiah.
Dari pekerjaannya sebagai pandai besi, lelaki yang telah memiliki satu anak perempuan ini, dalam satu minggu dapat mengumpulkan uang sebesar seratus lima puluh ribu rupiah. Karena hasil dari menempa besi terbatas, istri Yadi menenun kain songket, untuk menambah penghasilan.
Desa Tanjung Pinang, memang dikenal sebagai desa penenun songket, disamping sebagai desa pandai besi. Meski usaha pandai besi sedang lesu, Yadi tetap bertahan di bisnis ini, karena ia tidak memiliki pilihan lain.
Hidup penuh perjuangan. Keterampilan menempa besi yang diwariskan leluhur, ternyata tidak cukup untuk menjadi sumber utama mata pencarian. Mereka harus melakukan inisiatif lain, agar mendapat sumber nafkah tambahan.
Sehingga kesejahteraan anak-anak mereka lebih terjamin. Dan kelak memiliki sumber penghasilan lain yang dapat lebih diandalkan. Ketimbang menjadi pandai besi, atau penenun songket. (Idh)