
indosiar.com, Jakarta - Inilah hasil karya seni kaca patri. Kaca patri ini sangat indah dan mewah. Kaca patri ini merupakan karya putra Indonesia, yang tidak saja menghiasi gedung-gedung di dalam negeri, tetapi juga gedung-gedung bersejarah di mancanegara. Kaca patri masuk ke Indonesia dibawa seniman Belanda sekitar tahun 1900 an.
Seni kaca patri memang berasal dari bangsa Eropa dan sudah ada sejak abad 11 silam.
Di Jakarta, peninggalan kaca patri ini dapat dilihat di gedung–gedung tua, seperti di Gedung De Javasche Bank yang kini menjadi Museum Bank Indonesia.
Gedung yang dibangun pada tahun 1828 ini terletak di kawasan Jakarta Kota dan sedang dalam proses pemugaran.
Di gedung ini terdapat 1509 panel kaca patri yang kini dalam proses perbaikan.Meskipun gedung ini telah berusia tua, namun keindahan kaca patri masih dapat dinikmati hingga kini.
Memperbaiki kaca patri harus dilakukan dengan teliti. Karena kaca patri di gedung ini usianya telah mencapai seratus tujuh puluh delapan tahun.
Tangan-tangan pekerja seni yang terampil ini, tidak saja membersihkan kaca patri yang telah kusam, tetapi juga mengganti kaca patri yang pecah dengan motif yang sama.
Brian telah menekuni pembuatan kaca patri sejak tahun 1981. Awalnya dia hanya hobi, karena terkesan dengan keindahan kaca patri yang dilihatnya saat berkunjung ke negara-negara di Eropa.
Hasil karyanya kemudian banyak yang diminati, sehingga dia kemudian memutuskan serius menekuni usaha pembuatan kaca patri.
Pembuatan kaca patri dimulai dengan membuat sketsa di atas kertas. Ukurannya dibuat sesuai dengan aslinya, sehingga keindahan kaca patri sudah terlihat sejak masih berbentuk sketsa.
Proses selanjutnya adalah menuangkan sketsa ke dalam bentuk kaca patri yang sesungguhnya. Kaca berwarna atau stained glass setebal 3 milimeter dipotong kecil-kecil, lalu disusun dengan rangka timah.
Setelah kaca tersusun kemudian direkatkan dengan cara dipatri. Timah pembatas kaca dipatri sehingga potongan kaca saling merekat kuat.
Untuk menutup pori–pori agar tidak dimasuki air maka diberi dempul. Agar hasilnya bagus, kaca patri yang telah jadi di cuci dan dibersihkan berkali-kali.
Kaca patri dengan aneka ragam corak dan warna ini dihargai mulai dari dua juta lima ratus ribu rupiah permeter perseginya.
Kaca patri karya Brian kini tidak saja menghiasi gedung-gedung di dalam negeri, tetapi juga di gedung-gedung megah di mancanegara, seperti di Hongkong dan Taiwan.
Hasil karya kaca patri memiliki daya magis tersendiri. Karena itu tidak heran, bila dipasang di gedung, kaca patri memberi kesan agung bagi mereka yang memandangnya. (Suprie)