
indosiar.com, Sulawesi Selatan - Horison kali ini akan singgah kesebuah desa di pedalaman Sulawesi Selatan. Penjaga tambak disana memanfaatkan waktunya dengan memelihara kepiting tangkapan yang ternyata juga punya nilai ekonomi.
Air sungai berwarna coklat. Tanaman bakau dan semak belukar di tepian sungai. Mendominasi pemandangan sepanjang perjalanan menuju Desa Pusong Ake di pedalaman Sulawesi Selatan.
Dari atas perahu Ketiting yang membelah air sungai terlihat tambak-tambak bandeng dan udang tersembunyi dibalik rimbunan pohon palm dan bakau. Diselingi rumah-rumah panggung sederhana.
Di tempat inilah penduduk setempat memelihara kepiting bakau berkualitas ekspor. Umumnya penduduk di desa Pusong Ake bekerja untuk tambak bandeng dan udang milik orang lain yang tinggal jauh dari desa.Sedang para buruh tani tambak ini tinggal disekitar tambak yang mereka jaga. Sebagian dari mereka membawa serta keluarganya.
Sambil menunggui tambak, biasanya mereka mengisi waktu dengan memancing kepiting yang hidup liar di rawa-rawa atau diantara rimbunnya akar bakau. Alat pancing berupa batang-batang bambu dengan tali nilon diujungnya ditancapkan secara acak di tepian rawa.
Kepiting kecil yang tertangkap akan dijadikan bibit. Sedangkan kepiting berukuran besar akan digemukkan dulu didalam tambak selama seminggu hingga 1 bulan. Tak diperlukan lokasi khusus dan biaya besar untuk membesarkan kepiting bakau. Langkah ini diambil dari alam dan hanya bisa dilakukan bersama bandeng dan udang.
Selama berada di tambak, kepiting diberi makanan berupa ikan kering dan ikan-ikan kecil lainnya agar berat badannya mencapai berat standar untuk diekspor. Jenis makanan yang diberikan sangat menentukan kualitas daging kepiting.
Kepiting yang telah cukup beratnya segera di panen dan dibawa ke tempat pengempul di desa terdekat. Di tempat pengemul inilah kepiting yang masih segar disortir berdasarkan berat.
Seekor kepiting super beratnya bisa mencapai 1 kilogram. Harga jualnya pun sungguh mengiurkan. Di pasaran, harga kepiting perkilonya 20 ribu hingga 25 ribu rupiah. Kepiting bakau yang dipelihara dalam tambak-tambak di Cendrana selama ini dinilai memiliki kualitas gizi terbaik dibanding kepiting bakau dari Kalimantan atau daerah lain.
Negara-negara yang mengimpor kepiting dari daerah ini punya selera yang berbeda. Konsumen Taiwan lebih menyukai kepiting betina bertelur. Konsumen dari Singapura, Jakarta serta Bali lebih menyukai kepiting jantan yang memiliki cabit besar dan gemuk.
Kepiting di Kecamatan Cendrana Bone menjadi komoditas ekspor yang layak diperhitungkan. Dan para buruh tani tambak pun sangat diuntungkan dengan memelihara kepiting bakau didalam tambak yang mereka jaga. Hasilnya bisa untuk menyambung hidup sekeluarga. (Sup)