HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
RAGAM

Kesaksian Gusti Saat Tenggelamnya Kapal



Reporter : Tim Liputan
Juru Kamera : Tim Liputan
Penulis Naskah : Ahmad Baehaqi, Yadi Supyandi
Lokasi : Perairan Pulau Seribu
Tayang: Rabu, 28 Februari 2007, Pukul 12.00 WIB

indosiar.com, Jakarta - Kita berangkat dari Ditpolair Metro Jaya sekitar jam 12.00 WIB. Ada 3 kapal milik Ditpolair yang berangkat. Satu ditumpangi wartawan dan KNKT, yang dua lainnya ditumpangi Tim Puslabfor dan Tim dari Polri.

Lama perjalanan kira-kira 20 hingga 30 menit, sampai di lokasi 3 kapal mengitari Kapal Motor (KM) Levina I melihat situasi. Apakah memungkinkan kapal untuk dinaiki.

Sebelum berangkat kami sudah diberitahu dari Ditpolair bahwa Kapal Motor (KM) Levina I masih berasap, asumsinya kapal masih panas, sehingga kita mungkin tidak bisa naik.

Jadi dari awal kita berangkat, mindsetnya adalah tidak masuk ke Kapal Motor (KM) Levina I, cuma mendekat saja.

Tidak lama kemudian tim dari Puslabfor merapatkan kapalnya ke Kapal Motor (KM) Levina I dan mereka naik, disusul Tim dari Polri dan KNKT.

Tidak berapa lama kemudian kapal kami merapat dan diberi izin naik ke kapal.

Kita tahu Kapal Motor (KM) Levina I kondisinya miring, tapi karena ada lampu hijau untuk naik, kita pikir ok, tidak apa - apa kita naik ambil gambar sebentar lalu pergi.

Kita sempat wawancara dengan Ditpolair, wawancara cuma berlangsung 3 hingga 4 menit. Saat itu kapal semakin miring.

Kita bertemu dengan Kapuslabfor. Tidak berapa lama kapal Ditpolair yang berada tidak jauh dari Kapal Motor (KM) Levina I memberi peringatan agar kami segera turun dari kapal karena kapal semakin miring.

Pada saat saya turun, air sudah masuk dengan cepat. Akhirnya kapal tenggelam. Prosesnya cepat, kurang lebih hanya 5 menit. Saat saya berada di dalam air, saya berpegangan pada baling-baling.

Saat itu ada suara minta tolong, ternyata Guntur rekan Cameraman dari SCTV. Saya sempat raih tangan dia dan tarik dia ke atas. Tiba - tiba ombak besar datang, saya berpengangan pada besi, sedangkan Guntur jatuh lagi ke laut.

Tiba-tiba ada lemparan tali. Saya pegang tali, Saya ulurkan tangan ke Guntur, tapi mungkin dia sudah lemas atau pingsan, sehingga tidak dapat meraih tali dan tenggelam dengan perlahan. Setelah itu saya lalu dilempari pelampung dan diangkat keatas kapal. (Helmi Azahari/Sup/Dv).

Bookmark and Share


Page: 1
2-Mar-2007 11:57:07 WIB by ernest
apapun yang terjadi kita kembali pada satu hal..!! bahwa keselamatan jiwa kita pada dasarnya adalah menjadi tanggung jawab kita sendiri kita tidak bisa menyandarkan tanggung jawab keselamatan jiwa kita pada orang lain dimanapun walaupun ada kata AMAN... kita harus selalu waspada semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua...
1-Mar-2007 22:04:55 WIB by Liantye EK
Nasib manusia hanya Tuhan Allah yang maha tahu. Kapal sudah miring dan kalau kita pakai logica_sehat kapal itu dalam proses tenggelam. Kenapa harus ada lampu hijau menaiki kapal yang sedang karam?
1-Mar-2007 15:01:02 WIB by komdis
aduh gimanan nih pekerjaan basarnas. masa kapal yang sudah tak berpenghuni bisa tenggelam
1-Mar-2007 08:39:56 WIB by Linda
saya tidak mau menyalahkan polisi yang mengijinkan atau para wartawan yang keras kepala,mungkin ini salah satu kehendak Tuhan.akaan tetapi tidak ada salahnya klo kita lebih mendahulukan keselamatan jiwa dari pada profesi karena kita hidup tidak hanya untuk kita sendiri tapi kita hidup utuk orang lain terutama orang yang mencintai kita seperti anak,istri,orang tua bahkan untuk seorang kekasih.
28-Feb-2007 16:36:05 WIB by inet
saya sarankan kepada wartawan yang meliput berita mendatang, meliput kapal atau daerah lautan diharapkan memakai pelampung untuk menjaga keselamatan anda.

 

Nama:
Email:
Security Code: