
indosiar.com, Jakarta - Seorang remaja putri bernama Kiki Rizkiah terlahir dengan kaki dan tangan yang tidak normal. Siswi sekolah menengah kejuruan ini tidak mau keterbatasannya itu menjadi penghalang baginya melanjutkan hidup. Karena itu, dia membutuhkan bantuan agar bisa menggapai masa depan yang lebih baik.
Sepintas, Kiki Rizkiah, anak pasangan Sarmili dan Zubaidah ini tampak seperti remaja putri umumnya. Lincah, aktif, dan pandai bergaul. Namun ada kejanggalan pada fisiknya. Kedua kaki Kiki tidak utuh, layaknya sepasang kaki normal. Kaki kanannya menggunakan kaki palsu. Begitu pula dengan kedua tangannya, yang tidak memiliki telapak tangan.
Kiki memang sudah memiliki kelainan fisik, sejak dilahirkan 17 tahun silam. Ketika itu, sang ibu, Zubaidah, yang telah berusia 43 tahun, melahirkan Kiki dengan kondisi tubuh cacat kendati di masa -masa kehamilan dia tidak merasa ada kejanggalan.
Sarmili dan Zubaidah, harus menerima kenyataan, putrinya tumbuh tanpa kaki dan tangan yang utuh. Keinginan membelikan kaki palsu, rasanya sungguh berat. Maklumlah, Sarmili hanyalah seorang pengemudi taksi gelap, yang tidak memiliki penghasilan tetap.
Beruntung, ada seorang tetangga yang mengulurkan tangan. Sehingga, sejak usia 1 tahun, kaki kanan Kiki sudah dipakaikan kaki palsu. Sedangkan yang kiri dibiarkan saja, karena masih bisa dipakai berjalan. Kini, Kiki sudah tidak merasa janggal lagi dengan keberadaan kaki palsu. Baginya alat itu sudah merupakan bagian dari hidupnya.
Namun sebagai seorang ibu, Zubaidah tetap merasa khawatir dengan keterbatasan anaknya. Semakin beranjak dewasa, Kiki semakin menerima keadaan dirinya, bahkan kini tengah mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan, jurusan Sekretaris di daerah Kalibata, Jakarta Selatan. Kiki bercita - cita ingin menjadi seorang pengusaha.
Satu hal yang kini tengah dipikirkan Kiki. Kaki palsunya kini harus diganti, karena tidak sesuai lagi dengan fisiknya yang telah tumbuh dewasa. Namun, orang tua Kiki tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan Kiki yang satu ini. Terlebih sang ayah, Sarmili, sudah tidak bekerja, bahkan di usia 63 tahun, sang ayah mulai sering sakit – sakitan. Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari – hari, keluarga ini bergantung pada anak - anaknya yang telah bekerja, atau adik Sarmili.
Ya, Sarmili dan Zubaidah sangat senang, ketika permohonan mereka untuk mendapat bantuan program Peduli Kasih Indosiar, mendapat respon. Mereka berharap, bantuan kaki palsu itu cepat terwujud, agar anaknya dapat mewujudkan cita - citanya. Sekolah setinggi keinginannya. Mereka ucapkan terima kasih kepada mereka yang telah berkenan membantu.
Setiap cobaan, musibah atau apapun namanya, pastilah ada hikmah di dalamnya. Karena itu tetaplah tegar. Tak ada penyakit tanpa obat, tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan. Mari kita bergandeng tangan membantu mereka. (Firdaus Masrun/Dv/rev)