HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Komplotan Pencopet Cilik di Makassar



Berita HOT:

Reporter : Iwan Munandar
Juru Kamera : Arie Wailan Orah

indosiar.com, Makassar - Komplotan pencopet cilik ini, terdiri dari empat sampai lima orang anak, berusia antara 10 hingga 15 tahun. Mereka biasa mangkal di Pasar Panampu Talo, kota Makassar. Sasaran mereka adalah para pengunjung pasar yang kebanyakan wanita.

Sebelum menjalankan aksinya, mereka biasanya menyusun rencana seperti memilih sasaran dan kemudian menyusun taktik, untuk menggaet uang milik sasaran mereka. Para korban biasanya tidak menyangka, bocah-bocah yang ada didekat mereka adalah penjahat yang cerdik.

Peristiwa

Kejahatan pencopetan, atau yang dikenal dalam istilah hukum sebagai kejahatan pencurian, kerap terjadi dibanyak tempat. Siapa saja bisa menjadi korban kejahatan ini. Terkadang, kerugian yang diderita korban nilainya lebih berharga dibandingkan dengan uang. Seperti surat-surat atau kartu identitas. Kerugian seperti ini, yang menimbulkan kekesalan korban terhadap pelaku kejahatan, karena dapat menambah penyelesaian urusan korban berikutnya.

Melihat gejala yang meresahkan masyarakat ini, beberapa markas kepolisian kemudian membentuk unit khusus untuk menanggulanginya. Petugas Polsekta Talo Makassar, Sulawesi Selatan, membekuk tiga pemuda warga Bloru Angin, Makassar, yang masing-masing berinisial AND, RSL dan ARF, yang rata-rata berusia 11 tahun. Petugas meringkus ketiganya di rumah mereka masing-masing, karena diduga sebagai pelaku pencopetan yang kerap meresahkan masyarakat di Pasar Panampu dan sekitarnya. Sementara seorang lainnya berinisial BBY, hingga kini masih menjadi buruan petugas.

Dari hasil pemeriksaan petugas terungkap, ketiga tersangka merupakan satu komplotan yang kerap melakukan pencopetan di kawasan Pasar Panampu. Dalam aksinya, komplotan ini berbagi tugas. Seorang diantara mereka sebagai pengalih perhatian korban, sementara yang lainnya mengambil dompet dari saku atau tas korbannya. Orang lainnya, bersiap untuk membawa lari hasil kejahatan itu ke tempat yang jauh dari keramaian.

Dengan postur dan wajah yang masih belia, banyak orang yang tidak menaruh curiga dengan para tersangka ini. Belum lagi dengan kemampuan melarikan diri tersangka, pencopet ini sulit untuk dikejar oleh korban-korbannya.

Dalam setiap melakukan aksinya, komplotan pencopet cilik ini selalu bersama-sama sebelum beraksi. Setelah mendapatkan sasarannya, para pencopet cilik ini berpencar dan menghilang, diantara keramaian pengunjung pasar. Mereka bertemu kembali beberapa waktu kemudian, disebuah tempat yang sepi dari pandangan banyak orang.

Para pencopet cilik ini, memilih bertemu disebuah komplek pemakaman umum, yang terletak tidak jauh dari tempat pencopetan dan rumah para tersangka. Atau mereka memilih tempat yang cukup sepi dipinggiran Pasar Panampu.

Pembagian hasil tindak kejahatan ini besarnya bervariasi, melihat pada peranan masing-masing pelaku, saat mereka beraksi. Bagian yang terbesar, biasanya diambil oleh pelaku yang langsung mengambil dompet atau barang korban.

Seorang tersangka, AND mengakui adanya perbedaan dalam pembagian hasil kejahatannya, karena pertimbangan resiko yang harus dihadapi oleh tersangka. Besarnya hasil kejahatan kelompok ini, bisa mencapai jutaan rupiah dalam satu kali beraksi. Tersangka sendiri mengaku tidak dapat memprediksi sasarannya, karena ini tergantung pada jumlah uang yang dibawa oleh korban.

Biasanya yang menjadi korban pencopetan kelompok ini adalah wanita yang sedang berbelanja, karena letak dompet yang lebih mudah untuk dijangkau tersangka. Penangkapan para tersangka anggota kelompok pencopet cilik, membuat pengunjung Pasar Panampu menjadi lebih sedikit lega, karena kondisi keamanan yang lebih baik.

Kesaksian

Ketiga tersangka AND, RSL dan ARF, hidup dalam pemukiman yang padat dan bersahaja dikawasan Baru Angin, Talo, Makassar. Sehari-harinya, ketiga tersangka juga mendapatkan uang dengan membantu para pedagang di Pasar Panampu Makassar. ARF yang masih berusia 11 tahun, membantu pedagang buah-buahan membongkar barang dagangannya.

Dalam satu kali pembongkaran, ARF mendapat upah sebesar 2000 rupiah, yang digunakannya untuk membeli makan. Namun uang sejumlah itu tidak mencukupinya, karenanya ARF yang pernah bersekolah hingga kelas II sekolah dasar ini, kemudian bergabung dengan AND yang dikenalnya kerap mencopet di Pasar Panambu, Makassar, Sulawasi Selatan.

ARF, menganggap hasil kejahatan itu lebih besar untuk memenuhi kebutuhan makannnya, daripada pendapatannya memanggul barang selama ini. ARF, pernah ditangkap polisi karena kasus pencopetan. Namun tersangka hanya mendekam selama tiga hari di sel tahanan polisi dan dikembalikan kepada orang tuanya, karena usianya yang masih belia.

Sementara itu, tersangka AND yang menjadi ujung tombak komplotan pencopet ini, masuk ke dunia kejahatan dengan mencopet sejak ia berusia 11 tahun. Aksi kejahatan itu dimulainya, saat ia melihat seorang pencopet beraksi didepan mata. Sejak itu sambil menjajakan buah segar, AND juga mencopet pengunjung Pasar Panampu.

Di rumahnya, orang tua AND tidak mengetahui perbuatannya. Setiap membawa uang dalam jumlah yang cukup banyak, AND yang menggemari olahraga sepak bola ini mengaku, uang itu hasil taruhan dengan teman-temannya menonton pertandingan bola. AND tidak mengatakan uang itu hasil kejahatannya mencopet pengunjung Pasar Panampu, karena tersangka takut dimarahi ayah tiri yang tinggal bersama mereka.

Karenanya, ibu AND menjadi terkejut ketika petugas menangkap putranya. Karena setiap saat akan berangkat meninggalkan rumahnya, tersangka selalu bilang kepada ibunya kalau ia akan pergi berjualan jeruk. Meskipun ibunya menaruh rasa curiga, namun AND tetap membantah tuduhan ibunya itu. Mendapati kenyataan anaknya terlibat dalam tindak kejahatan ,ibu tersangka AND kini hanya dapat menyerahkan penyelesaiannya kepada petugas kepolisian. Ibu itu menyadari, pelanggaran hukum akan beresiko pada masa depan anaknya.

Delik

Dari bukti-bukti dan keterangan saksi serta tersangka, petugas dari Polsek Talo, Makassar memberikan ancaman hukuman yang berat, yakni berupa pidana penjara maksimal 5 tahun. Ini berdasarkan ancaman yang termuat dalam pasal 363 KUHP. Penerapan pidana ini akan menemui kendala, karena tersangka masih berada dibawah umur. Apabila dipaksakan pelaksanaannya, akan menyulitkan penegak hukum Indonesia, karena dapat dianggap melanggar konvensi mengenai hak anak.

Apa Kata Mereka

Hasil kerja petugas Polsekta Talo Makassar menggulung komplotan pencopet cilik ini, membuat sebagian warga menjadi sedikit lega. Karena berkurangnya rasa kekhawatiran akan kehilangan uang saat berbelanja. Sebelumnya, setiap dan akan berbelanja, warga diliputi rasa khawatir menjadi korban pencopetan.

Dari catatan kepolisian sejak para tersangka mendekam didalam tahanan polisi, laporan kehilangan dikawasan ini mulai menurun. Kesungguhan petugas menanggulangi kejahatan, rupanya dapat memperbaiki keamanan dikawasan pasar tersebut.

Agak sulit dimengerti anak-anak ini sudah bisa memanfaatkan wajah dan penampilan mereka yang masih lugu untuk berbuat jahat. Namun kenyataan hidup yang keras, tampaknya membuat anak-anak ini meniru jalan pintas yang dilakukan oleh para penjahat dewasa.(Sup/Idh)

Video Streaming

Bookmark and Share