
Reporter: Asep Syaifullah
Juru Kamera : Rudi Asmoro
Tayang: Rabu, 30 Agustus 2006 Pukul 12.00 WIB
indosiar.com, Tasikmalaya - Inilah Desa Urug, Kecamatan Kawalu, Tasikmalaya, Jawa Barat. Sebagian besar warga desa ini bekerja sebagai petani.
Harga minyak tanah yang mencapai 2,500 rupiah sampai 3,000 rupiah per liter, membuat warga Desa Urug harus menggunakan kompor yang ekonomis untuk keperluan memasak. Apalagi setiap mingg, setiap rumah tangga di desa ini menghabiskan sekitar 5 hingga 6 liter minyak tanah.
Untuk menekan pengeluaran, warga Desa Urug kini beralih ke kompor alternatif yang tidak menggunakan minyak tanah, melainkan serbuk kayu sengon.
Pertimbangannya sederhana, karena limbah kayu sengon banyak dijumpai di lokasi penggergajian di sekitar desa ini. Menurut Dian, pemilik penggergajian, mereka dapat mengambil limbah kayu ini secara gratis, tanpa biaya.
Warga Desa Urug menyebut kompor ekonomis dengan bahan bakar serbuk kayu sengon ini dengan sebutan kompor BKL.
Kompor ini terbukti dapat mengurangi pengeluaran warga sehari-hari. Bahkan rasa masakan terasa lebih enak, karena dimasak dengan menggunakan api dari serbuk kayu.
Menurut Ade, ibu rumah tangga, kelebihan kompor ini tidak banyak mengeluarkan asap dan irit bahan bakar.
Setiap 1 blek atau kaleng serbuk kayu sengon dapat digunakan untuk memasak selama satu hari. Sehingga setiap karung serbuk kayu seberat 10 kilogram, bisa digunakan untuk memasak selama 1 minggu.
Yang lebih meringankan masyarakat, pembuatan kompor BKL yang terbuat dari kaleng ini, mudah dibuat dan biayanya murah. Bahan baku untuk membuat kompor banyak tersedia di pasar.
Adanya kompor BKL, membuat warga Desa Urug, tidak lagi tergantung kepada minyak tanah, sehingga warga dapat menghemat pengeluaran, yang dapat digunakan untuk keperluan lain. (Sup)