HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Layang - Layang di Angkasa



Layang - Layang di Angkasa

Tags:

layang layang

Berita HOT:

Reporter : Iwan Munandar
Cameraman : Nyoman Iffrozim
Tayang :Rabu, 9 April 2008 Pukul 12.30 WIB

indosiar.com, Bogor - Berbagai bentuk layang-layang raksasa ada di Bogor, Jawa Barat. Bahkan layang-layang berbentuk ikan harganya mencapai 100 juta rupiah.

Secara garis besar, ada empat jenis layang-layang yakni layang-layang tradisional, sport, modern, dan layang-layang adu. Nah, untuk mereka yang hobby bermain layang-layang, disebut sebagai pelayang.

Walaupun relatif sederhana, tapi layang-layang bisa dibilang permainan yang abadi. Lucunya, sampai saat ini belum ada kepastian, darimana asal mula layang-layang itu.

Banyak negara misalnya seperti Cina yang menyebut, layang-layang sudah mereka kenal sejak tiga ribu tahun lalu. Tapi Indonesia sendiri juga punya bukti lho, kalo mainan itu juga dikenal jauh sebelum bangsa Cina datang ke tanah air. Ada lukisan purba tentang layangan di sebuah gua di Muna, Sulawesi Selatan, yang umurnya diperkirakan lebih dari tiga ribu tahun.

Layang-layang berbentuk ikan ini ukurannya memang di atas rata-rata. Panjangnya enam meter, dengan ketinggian mencapai empat meter.

Selain harus memperhitungkan kekuatan angin yang bertiup, sedikitnya butuh enam orang untuk menerbangkan layang-layang buatan Selandia Baru ini. Ribet ya?!? Yah.. panteslah, harganya aja mahal banget! seratus juta rupiah oy!

Sekarang ini orang emang pada kreatif bikin layang-layang dengan macam-macam bentuk. Bisa juga dilombakan seperti lomba mewarnai layangan misalnya. Singkat kata, banyak yang bisa dieksplor!

Selain bentuk, angin pastinya juga jadi faktor penentu bisa nggaknya layang-layang terbang. Siapapun setuju, main layangan cocok jadi permainan keluarga. Mungkin mimpi abadi manusia untuk bisa terbang, bikin layangan populer jadi mainan sepanjang masa. (Arni Gusmiarni/Sup)

Bookmark and Share