
REPORTER : IWAN MUNANDAR
CAMERAMAN : WARSAM AJI
Inilah Asep Sopiyan, lelaki warga jembatan lima, Jakarta Barat, yang sehari-harinya berjualan rokok di Pasar Anyar-Tangerang. Maret 2 tahun lalu, Asep merelakan satu tangannya diamputasi, karena terjadi pembusukan akbat infeksi luka.
Asep sebenarnya tak mau mengingatnya lagi, tapi peristiwa ia terjatuh dari tangga dikebun buah majikannya dua tahun lalu, masih saja membayang di benaknya. Apalagi jika ingat berbagai usaha dan biaya yang ia kleuarkan untuk penyembuhan, karena tak ada hasilnya.
Selama sakit, Asep pulang kerumah orang tuanya di Tasikmalaya, Jawa Barat, terpisah dari anak dan istrinya. Musibah itu menghancurkan banyak banyak harapannya. Akibat ketiadaan biaya, putra sulungnya terpaksa berhenti dari sekolah SD-nya, sementara kondisi tangannya makin mmbusuk
Ia ingat, bagaimana ditengah kebingungannya, sanak keluarga dan kerabat di kampungnya mengumpulkan uang untuk operasi amputasi tangannya, yang makin lama makin membusuk. Majikannya pun membant, tidak saja memberi uang untuk operasi, tapi juga kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Setelah amputasi selesai dan ia tinggal memiliki satu tangan, kebingungan lain menghadangnya. Tangan kanannya tak bisa bebas digerakkan. Ada rasa nyeri. sejak itulah ia tak bisa bekerja, dan perlahan tanggung jawab ekonomi keluarga diambil alih Evi, istrinya.
Tapi Asep tak mau menyerag, apalagi ia sadar posisinya sebagai kepala keluarga. Empat bulan lalu, lelaki nberusia 43 tahun ini bejualan rokok di kawasan Pasar Anyar-Tangerang
Dalam sehari, Asep bisa membawa pulang 20 ribu rupiah, ssebagian besar habis untuk biaya makan anak dan istrinya saja.
Karena hanya memiliki satu tangan, Asep kerap merasa rendah diri. Itu sebabnya, ketika ditengah keramaian, ia selalu mengenakan jaket. Karena itu, Asep sangat mendambakan tangan palsu.
Ya, Asep sangat senang ketika menerima kedatangan tim Peduli Kasih. Secercah harapan datang, karena dengan mimpinya memiliki tangan palsu akan dapat diwujudkan. (Firdaus Masrun/ Rev)