HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Makanan Kadaluwarsa



Reporter : Erwin Saputra & Iwana Kurniawan
Kameraman : Waluyo Adi Susanto & Iwan Agung
Produser : Widayat S. Noeswa
Tayang : Senin 21 Juli 2008 Pukul 12.30 WIB

Segmen I

indosiar.com, Jakarta - Kasus makanan atau jajan kadaluwarsa kembali mencuat, dalam beberapa bulan yang terakhir. Makanan dan kue kadaluwarsa, atau dibuat dari bahan - bahan yang sudah kadaluwarsa, beredar luas dipasar. Banyak konsumen yang tidak tahu dan akhirnya menjadi korban.

Dalam standar yang ditetapkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan, jelas ditetapkan bahwa makanan yang kadaluwarsa tidak boleh diperdagangkan. Bahkan makanan, minuman dan obat – obatan yang dijual bebas, wajib mencantumkan tanggal kadaluwarsa.

Hal ini untuk melindungi konsumen dari bahaya ketika mengkonsumsi makanan. Maka peredaran makanan, jelas menjadi tanggung jawab produsen, distributor dan penjual. Mereka mestinya wajib mematuhi aturan, dan tidak mencari keuntungan dengan menjual makanan yang membahayakan kesehatan manusia.

Awal bulan ini, petugas keppolisian mengerebek sebuah pabrik, yang terletak di Jalan Waru Delapan, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat. Pabrik ini berkedok sebagai ditributor makanan ringan. Padahal di pabrik ini mengolah makanan ringan, dari bahan - bahan yang sudah kadaluwarsa.

Modusnya, mereka mengumpulkan berbagai makanan ringan yang sudah kadaluwarsa, dan kemudian dimasak kembali menjadi makanan yang seolah - olah baru. Bahkan makanan yang dijual, diberi merek.

Pabrik makanan yang sudah beroperasi selama 4 tahun ini, mampu memproduksi 160 kardus perhari, dan kemudian di distribusikan ke sejumlah daerah termasuk ke Cilegon dan Cirebon. Makanan kue kering ini juga di disrtribusikan ke warung - warung kecil. Makanan kadaluwarsa ini mengandung radikal bebas yang mengancam kesehatan manusia.

Sementara di Cirebon, Jawa Barat, ditemukan pasar khusus yang menjual kue - kue kadaluwarsa. Pasar tradisional yakni Pasar Wates Cirebon, merupakan pusat penjualan kue - kue kering yang sudah kadaluwarsa. di Pasar Wates, dijual berbagai makanan, terutama untuk konsumsi anak - anak yang jelas - jelas kadaluwarsa, seperti kue, sosis, mie instan, dan susu kaleng.

Namun anehnya, banyak masyarakat yang tetap nekad membeli makanan kadaluwarsa ini, karena harganya jauh lebih murah. Jika di bandrol harganya 4 hingga 6 ribu, di pasar ini dijual seribu hingga duaribu limaratus rupiah.

Sementara, aparat kepolisian di Cirebon juga menyita dua truk makanan ringan dari sebuah gudang di kawasan Megu, Kecamatan Seru. Makanan yang disita terdiri biscuit, bistik, mie instan, sosis, dan makanan anak - anak lainya.

Bahkan tanggal kadaluwarsanya mencapai 2 bulan hingga 5 tahun. Makanan ini diduga akan dikemas ulang dan akan di jual ke para pedagang di Pasar Grosir Plered. Diduga kuat pasar makanan ini mencapai kota - kota di luar Pulau Jawa.

Peredaran makanan kadaluwarsa, di Jakarta, juga bukan cerita baru. Hingga kini disinyalir banyak makanan kadaluwarsa yang dijual bebas di pasaran. Terutama di warung - warung eceran, atau para pedagang keliling yang menjajakan makanan di sekolah - sekolah. Salah seorang pedagang mengatakan, makanan kerupuk yang di jualnya memang mengadung bahan pewarna.

Para produsen dan penjual makanan kadaluwarsa, memang tidak memikirkan dampak dari mengkonsumsi makanan kadaluwarsa. Mereka hanya melihat ada peluang untuk mengeruk keuntungan sebesar - besarnya.

Makanan kadaluwarsa, atau kue yang dibuat dari bahan - bahan kadaluwarsa, kini disinyalir beredar luas di pasaran. Apalagi mendekati hari besar keagamaan, terutama hari Raya Idul Fitri, dimana permintaan masyarakat akan makanan dan kue meningkat.

Segmen II

Beredarnya makanan kadaluwarsa, atau di buat dari bahan - bahan yang kadaluwarsa, memang tidak lepas dari tanggung jawab pemerintah. Berdasarkan Undang – Undang Perlindungan Konsumen, masyarakat wajib mendapat perlindungan hak yang paling asasi yaitu, mendapatkan informasi dan keamanan terhadap makanan yang dibeli di pasaran. Karena jika masyarakat mengkonsumsi makanan kadaluwarsa, tentu akan sangat membahayakan kesehatan.

Banyaknya kasus peredaran makanan kadaluwarsa, berdasarkan pantauan Yayasan Lembaga Konsumen karena lemahnya aspek pembinaan, pengawasan dan penegakan hokum. Seperti kasus kandungan formalin pada daging ayam, tahu, dan tempe, selalu muncul dan berulang karena tidak tegasnya pemerintah menangani kasus tersebut.

Padahal, sanksi pidana bagi yang melanggar sudah sangat jelas. Bagi industri kelas besar, yang memproduksi dan menjual makanan kadaluwarsa, bisa diancam hukuman lima tahun penjara atau denda sebesar 2 miliar rupiah.

Dalam kondisi seperti ini, memang tidak ada pilihan kecuali masyarakat harus aktif terlibat dengan apa yang dinamakan jejaring intel keamanan pangan. Sehingga bisa mengetahui, jika ada makanan kadaluwarsa yang dijual bebas di pasaran.

YLKI sendiri rutin mengadakan pemantauan di pasaran, terutama di pasar swalayan, untuk mengetahui apakah makanan yang dijual masih layak atau sudah kadaluwarsa. Terutama menjelang hari Raya Idul Fitri dan Tahun Baru.

Ada dua jenis makanan yang beredar di pasaran, yaitu yang mencantumkan tanggal kadaluwarsa, dan yang tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa. Yang menyulitkan adalah jika tidak ada tanggal kadaluwarsa, terutama makanan yang dijual di warung - warung kecil atau dipinggir jalan. Bagi makanan yang tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa, memang harus melalui uji laboratorium.

Sementara itu, praktik peredaran makanan kadaluwarsa, yang makin meluas ke sejumlah daerah - daerah tentunya sangat mengkhawatirkan, para konsumen. Masyarakat merasa pengawasan dilapangan masih kurang optimal, sehingga masih terus terjadi makanan yang tidak layak dikonsumsi dijual bebas.

Padahal mestinya, fungsi Badan Pengawasan Obat dan Makanan, atau instansi terkait, termasuk pemerintah daerah, memiliki tugas melakukan pengawasan terhadap peredaran makanan, minuman dan obat – obatan, bisa melakukan pengawasan optimal, sehingga masyarakat lebih terlindungi.

Yang lebih mengerikan adalah makanan yang dijual para pedagang keliling, atau di jual para pedagang yang dijajakan di sekolah - sekolah. Karena anak - anak tidak tahu makanan mana yang sehat dan mana yang membahayakan.

Kasus - kasus peredaran makanan yang tidak layak konsumsi memang tidak akan pernah berhenti, karena banyak pihak yang berusaha meraup keuntungan yang sebesar – besarnya, tanpa mempedulikan orang lain. Masyarakat hanya bisa berharap, fungsi pembinaan, pengawasan dan penegakan hukum bisa dijalankan, sehingga masyarakat tidak lagi was - was saat akan membeli makanan.

Segmen III

Apapun jenis makanannya, jika sudah kadaluwarsa tentu tidak layak untuk dikonsumsi. Berdasarkan analisa medis, makanan basi atau kadaluwarsa dipastikan mengandung bakteri dan jamur. Kedua jasad renik tersebut, sangat membahayakan kesehatan manusia. Jamur akan tumbuh pada makanan yang basah atau lembab.

Jika manusia mengkonsumsi makanan kadaluwarsa, dalam jangka pendek bisa mengalami keracunan, karena bakteri akan menyerang saluran pencernaan. Fase ini, akan ditandai dengan mual dan muntah - muntah. biasanya masa inkubasinya akan cepat, yaitu satu jam. Anak - anak kecil biasa sangat sensitif jika mengkonsumsi makanan basi.

Dalam jangka panjang jika dikonsumsi, makanan kadaluwarsa bisa menyerang syaraf, mata, dan otak. Bahkan akibat yang paling fatal bisa menimbulkan penyakit tumor, kanker, atau apa yang disebut hepatorena, atau kegagalan fungsi jantung dan hati. Karena itu, dianjurkan bagi masyarakat untuk berhati -. hati jika membeli makanan, terutama yang tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa.

Sementara, itu biasanya makanan kadaluwarsa yang dibuat dari bahan baku jagung atau kacang tanah, bisa tumbuh jamur aspergillus flavus yang memperoduksi racun aflatoksin. Di laboratorium IPB, untuk mengetahui zat yang terkandung di dalam makanan, biasanya digunakan berbagai analisis dari analisis kimia, mikrobiologi hingga analisis fisik.

Untuk mengakali makanan kadaluwarsa, para produsen nakal, biasanya melakukan reformulasi makanan, sehingga seperti makanan baru. Biasanya makanan yang direformulasi, yang terbuat dari bahan yang relatif tidak tahan lama atau yang mengandung kadar air cukup tinggi, seperti roti atau biscuit.

Untuk keyakinan pembeli, mereka juga mengganti label kadaluwarsa, sehingga terkesan makanan baru. Namun jika dicermati secara teliti, makanan hasil reformulasi secara fisik akan diketahui dari warna dan bau. Atau bahkan kadang - kadang sudah terlihat jamur atau perubahan warna yang berbeda dari aslinya. (Dv/Sup).

Bookmark and Share