HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Malioboro, Jalan Legenda di Yogyakarta



Berita HOT:

Bertahun-tahun, magnet dan pesona Malioboro tak pernah surut ditelan masa.
Bahkan, saat ini nyaris tak ada tempat lapang di daerah wisata tersebut.....

Malioboro. Demikian nama sebuah jalan di Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta. Nama tersebut terkenal bukan hanya di Indonesia tetapi juga di mancanegara. Setiap musim liburan tiba, Jalan Malioboro dipastikan padat wisatawan baik dalam maupun luar negeri.

Malioboro merupakan salah satu simbol Yogyakarta, selain Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Bisa dibilang Jalan Malioboro sudah menjadi jalan legenda. Yang khas dari Jalan Malioboro adalah, banyaknya bertebaran toko-toko dan pedagang kaki lima yang menjual cendera mata khas Yogyakarta, dan Pasar Beringharjo, yang menjual berbagai macam pakaian dan kain batik. Para pedagang tersebut kebanyakan berjualan di trotoar sepanjang Jalan Malioboro.

Untuk menikmati Jalan Malioboro, umumnya wisatawan melakukannya dengan berjalan kaki. Karena jika menggunakan kendaraan, anda tak bisa memperhatikan satu persatu keaneka ragaman barang dagangan para penjual tersebut. empat tahun yang lalu, Jalan Malioboro masih bebas dinikmati para pejalan kaki, namun saat ini, kemacetan di Jalan Malioboro, luar biasa kisruhnya.

Karena banyaknya kendaraan roda empat berplat luar kota seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya, jalan-jalan seperti Jalan Suryatmajan, Dagen, hingga Alun-alun Utara, yang biasa penuh dengan pejalan kaki, kini menjadi tempat parkir dadakan, sehingga para pejalan kaki pun semakin sulit mencari tempat yang lapang untuk berjalan-jalan.

Kemacetan di Malioboro nampaknya menjadi rutinitas setiap tahun saat liburan tiba. Kemacetan itu juga semakin diperparah dengan makin banyaknya becak dan andong, yang memang menjadi ciri khas angkutan di Malioboro. Dengan becak atau andong, anda dapat berkeliling Jalan-jalan diseputaran Jalan Malioboro seperti Jalan Dagen, Alun-alun, untuk membeli oleh-oleh seperti kaos Dagadu, bakpia atau salak pondoh.

Para tukang becak tersebut, biasanya menawarkan ongkos Rp 3 ribu keatas untuk para penumpang yang ingin diantar ke mengitari Jalan Malioboro dan jalan-jalan lainnya. Sementara untuk andong relatif mahal. Bisa mencapai Rp 30 hingga Rp 50 ribu untuk mengitari Jalan Malioboro, Alun-alun, Jalan Ahmad Dahlan, Jalan Mataram, Jalan Loji Kecil atau Pecinan, Tugu, Pasar Kembang, dan jalan lainnya.

Mahalnya tarif andong menurut penarik andong, Tarjio, karena penumpang andong yang dibawa bisa mencapai lima sampai tujuh orang. Dan jalan-jalan yang dilalui bisa lebih jauh. "Umumnya yang naik andong ini, turis dari luar negeri dan orang-orang dari luar Yogyakarta. Yang ingin menikmati jalan-jalan di Yogyakarta sambil naik andong," jelas Tarjio.

Tarjio merupakan satu dari 990 penarik andong yang resmi, yang dikelola orang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Para penarik andong resmi tersebut juga bernaung dibawah Perkumpulan Olah Raga Berkuda Indonesia (Pordasi) cabang Yogyakarta. Diluar yang resmi tersebut, banyak juga penarik andong yang beroperasi sendiri.

Tak ada beda memang, antara penarik andong resmi dan tidak resmi, karena semuanya bebas beroperasi di Jalan Malioboro. Yang membedakan, jelas Tarjio adalah mereka, penarik andong yang resmi adalah kerap diajak perlombaan atau acara-acara di Keraton. Dan harus membayar iuran sekitar Rp 50 ribu per tahun.

Tarjio sendiri sudah puluhan tahun menjadi penarik andong, hingga ia lupa kapan tepatnya mulai menarik andong. "Lali (lupa, red.) eh, dik. Sudah lama, jadi lupa. Andong ini merupakan warisan keluarga sedang kudanya sudah ganti-ganti," jelasnya dengan logat Jawa halus.

Yang jelas, menurut pria yang selalu berblangkon dan berpakaian Jawa ini, perubahan atas Jalan Malioboro dia ikuti. Mulai dari areal pertokoan yang makin mewah dengan banyaknya bangunan-bangunan mall yang bertambah di Malioboro, hingga keadaan Pasar Beringharjo yang dari lantai tanah menjadi berlantai ubin.

"Dulu pedagang yang berjualan di Malioboro, hanya pedagang souvenir sekarang pedagang makanan lesehan juga sudah banyak. Kalau beli makanan lesehan di Jalan Malioboro, harus tanya dulu harganya, kalau tidak bisa dipatok mahal," jelasnya sambil terkekeh.

Selain itu, makin banyaknya kendaraan roda empat juga tak lepas dari pengamatan pria ini. Menurutnya, Jalan Malioboro sekarang makin sempit dan membuat andongnya tidak bebas bergerak. "Dulu, tidak ada pembatasan jalan becak dan andong serta mobil. Kalau sekarang, di Jalan Malioboro, andong dan becak di satu jalan, sementara jalan lain dipakai kendaraan lainnya. Tapi tetap saja macet, karena mobil-mobil yang datang semakin banyak, terutama kalau liburan," ucapnya.

Meski mengeluhkan macetnya arus lalu lintas di Jalan Malioboro, namun Tarjio memakluminya. Karena dengan banyaknya wisatawan yang datang, tak sedikit yang memanfaatkan jasanya sebagai penarik andong, dan pemasukan yang diterimanya pun bertambah. Dari yang biasanya sehari hanya dua atau tiga kali tarikan, dengan banyaknya orang yang berlibur, tak jarang ia bisa mendapat lima sampai enam kali tarikan. Dengan demikian, pemasukan untuk dapur istrinya pun bertambah.(Indah Julianti Sibarani)


Bookmark and Share