HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
RAGAM

Martir Seroja



Peliput : Erwin Saputra - Budi Sampurno
Waluyo Adi Susanto - Iwan Agung
Juru Kamera : Dedi Suhardiman
Produser : Widayat S. Noeswa
Tayang : Jum’at, 9 Mei 2008 Pukul 12.30 WIB

indosiar.com, Bekasi - Purnomo adalah potret seorang pejuang yang tulus dan ikhlas berkorban untuk tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peperangan boleh menghentikan langkahnya di medan pertempuran. Namun tidak akan pernah menghentikan semangatnya untuk berjuang menghidupi anak dan istrinya.

Aku tidak pernah melupakan kejadian tragis 24 tahun lalu. Tepatnya di bulan Februari tahun 1984. Saat aku bertugas di Timor Timur yang sekarang telah terpisah dari NKRI dan negara menjadi Timor Leste.

Sebagai seorang prajurit aku bangga bisa ditugaskan ke medan perang. Dengan berbekal semangat pengabdian kepada bangsa dan negara aku berangkat dengan penuh keyakinan. Namun nasib manusia hanya Tuhan yang tahu. Saat aku tengah menjelajah bersama anggota lain, tiba-tiba aku terkena ranjau granat. Aku sempat tidak sadarkan diri. Tubuhku terluka parah dan kedua mataku terkena serpihan granat.

Ya Tuhan, itulah titik balik kehidupanku. Tuhan menakdirkan aku tidak bisa melihat lagi. Melihat keindahan dunia. Saat itu aku sempat shok. Sebagai prajurit, tentu aku menerima dengan penuh kepasrahan, karena memang itu resiko dalam tugas. Namun sebagai manusia, aku merasa masa depanku telah hancur.

Kini hari-hariku ku lalui dalam kegelapan. Aku tinggal di Komplek Seroja, perumahan yang memang khusus dihuni oleh para korban perang di Timor Timur. Aku sempat bingung apa yang bisa ku perbuat dengan kondisiku seperti itu. Namun Tuhan memang adil. Dalam kebimbangan dan kegelapan, aku dipertemukan dengan seorang gadis yang kemudian aku nikahi.

Awal-awal perjalanan perkawinan kami lalui dengan penuh keprihatinan dan aku bersyukur aku bisa melaluinya dengan penuh keyakinan bahwa perjuangan hidup tidak boleh menyerah dengan keadaan. Sebagai prajurit, aku memiliki jiwa perjuangan dan pengabdian yang tinggi. Aku dididik dengan kedisiplinan dan pantang menyerah. Itulah bekal yang hingga kini aku pegang teguh.

Sebagai suami dan orangtua, aku tentu memiliki tanggungjawab untuk menghidupi anak dan istri. Karena itu aku tidak menyerah. Dalam kondisi seperti ini aku tetap berusaha bekerja sebisa yang aku lakukan.

Aku berusaha keras agar anak-anaku bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuanku. Aku tidak ingin keluargaku terlantar.

Untuk mencari penghasilan tambahan, aku dan istrinya menjadi perakit kepala korek api. Ya dalam keseharian kami bisa merakit 2000 kepala korek api dengan penghasilan 12 ribu rupiah.

Selain itu aku juga membuka praktek memijat di rumahku. Kini aku bersyukur anak sulungku sudah lulus dari akademi perawat dan kini sudah bekerja. Sementara adiknya masih sekolah. Aku kini mencoba menikmati kehidupanku apa adanya.

Semua takdir dari Yang Maha Kuasa aku terima dengan penuh keihlasan karena aku sadar manusia hanya bisa berencana, namun Tuhanlah yang menentukan. Aku juga sadar aku masih memiliki beban untuk mengantar putri bungsuku agar bisa sekolah setinggi-tingginya. Apapun akan aku lakukan demi anakku.

Ya aku sadar hidup ini terus berjalan, namun aku tidak akan pernah terbelenggu dengan masa lalu dan keadaanku. Sebagai seorang prajurit, aku bangga bisa menyumbangkan jiwa dan ragaku untuk negara dan bangsa ini, meskipun aku harus kehilangan kedua mataku. (Sup)

Bookmark and Share


Nama:
Email:
Security Code: