HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
RAGAM

Menanti Sebuah Impian



 

Peliput : Budi Sampurno
Juru Kamera : Deddy Suhardiman - Novi Hartoyo
Produser : Widayat S Noeswa
Tayang : Jumat, 09 Januari 2009, Pukul 12.30 WIB

indosiar.com - Namaku Ekky Febrianto. Namun teman-teman memanggilku Ekky, usiaku kini masih 10 tahun. Namun aku memiliki berbagai penyakit yang mengerogoti tubuhku. Aku sendiri tidak tahu apa sebenarnya  yang terjadi. Yang aku rasakan hanyalah sakit dan perutku makin hari makin besar.

Ya, kata kakek dan nenek aku mengalami kelainan sejak menginjak usia 7 bulan. Aku sering muntah, awalnya nenek mengira aku menderita masuk angin atau sakit perut biasa. Namun ternyata tak kunjung sembuh. Nenek kemudian membawaku ke Puskesmas. Ternyata tidak satupun dokter yang bisa memastikan penyakitku.

Semakin hari justru perutku semakin besar. Tahun ke tahun berjalan apa adanya dan tetap tidak jelas penyakit apa yang menyerang perutku ini. Sejalan dengan itu, aku semakin sering merasakan sakit di perutku. Perih dan melilit, bahkan aku merasakan seperti ada yang bergerak didalam perutku.

Hingga pada suatu hari, setahun lalu, seorang dokter menyarankan aku diperiksa di rumah sakit yang memiliki peralatan lengkap. Setelah dibawa ke rumah sakit dan diperiksa dengan teliti dokter menyatakan, perutku makin membesar karena ada usus yang melilit. Dan yang menyedihkan, ternyata aku juga menderita berbagai penyakit lain seperti kelainan pada ginjal dan jantung. Ya, Tuhan, kata orang-orang penyakit itu amat berat dan menakutkan.

Selama bertahun-tahun aku hanya bisa merasakan sakit yang amat sangat. Selain itu aku juga tak bisa buang air dalam jangka waktu cukup lama. Jika sudah demikian kondisiku, nenekku hanya membawa aku ke Puskesmas terdekat. Dan seperti biasa, dokter memberiku puyer serta vitamin setelah itu kondisiku normal kembali.

Akibat sakitku ini aku sedikit menjauh dari teman-temanku. Untuk bermain-main dengan teman-teman usia sebayaku saja, aku tak sanggup karena sakit tak tertahan di perutku. Pernah kala itu usiaku baru menginjak 7 tahun, aku disekolahkan di sebuah Sekolah Dasar tak jauh dari rumah. Tapi itupun tak lama hanya dua bulan saja. Aku tak kuat menahan sakit di perutku ketika harus berlama-lama duduk di bangku sekolah.

Selama ini aku tinggal dirumah nenek dan kakekku. Ya, aku tak pernah mengenal kedua orang tuaku. Ibu dan ayahku bercerai ketika usiaku menginjak 1 tahun. Kata nenekku, agak jarang kedua orang tuaku menjengukku. Terakhir, baru lebaran tahun lalu keduanya menjengukku. Kadang aku sedih bila memikirkan kondisi seperti. Kadang, aku iri melihat teman-temanku yang sering dimarahi oleh ayah dan ibunya, karena lupa mandi sore akibat keasyikkan bermain. Ah sudahlah, untungnya aku masih memiliki kakek dan nenek yang sangat menyayangiku. 

Keduanya dengan penuh kesabaran merawatku dari aku masih kecil hingga sekarang ini. Ingin sekali aku berbuat sesuatu untuk membantu mereka. Tapi semua itu tak mungkin kulakukan karena keterbatasanku. Aku hanya ingin penderitaan yang aku alami selama bertahun-tahun ini, berakhir. Aku harus sembuh.

Aku juga melihat kakek dan nenekku sudah banyak berkorban untukku. Mungkin, hanya akulah satu-satunya dari 20 cucunya yang paling sering menyusahkannya. Apalagi kakekku hanya tukang servis pompa air, sementara nenekku berjualan nasi uduk.

Andai Tuhan memberikan kesembuhan padaku, ingin rasanya aku bekerja membantu mereka, untuk meringankan beban hidup. Aku hanya berharap ada orang-orang baik yang mau membantu aku, serta kakek dan nenekku. Membantu meringankan beban kami selama puluhan tahun. Aku juga berharap ada dokter yang dapat menyembuhkan perutku yang terus membesar ini. Tak banyak yang ingin aku lakukan. Kelak jika aku sembuh, tentu saja bekerja untuk membayar utang-utangku pada kakek dan nenekku.(Ijs/Sup)

Bookmark and Share


Nama:
Email:
Security Code: