
Reporter : Deni Muhamad Arif
Producer : Widayat S Noeswa
Tayang : 23 Januari 2009
indosiar.com, Garut - Tidak ada pilihan bagi hidupku kini, kecuali pasrah menjalani takdir yang kuasa. Lihatlah ......... Ada tumor besar, yang sudah bertahun tahun menggerogoti kepalaku. Penyakit ini mulai menyerang saat aku berusia 17 tahun. Waktu itu aku lagi senang-senangnya melawati masa remaja yang begitu indah.
Awalnya ada tanda merah sebesar kelereng dikepalaku.
Karena terasa gatal tanda merah itu terus digaruk. Aku juga belum merasa risau dan terganggu dengan benjolan itu. Apalagi orang tuaku juga bukan orang berada, sehingga penyakit itu aku biarkan saja. Tanpa disadari lama kelamaan kepalaku sedikit demi sedikit membesar dan terasa sakit.
Bahkan, penyakit ini dengan setia menemani perjalananku, saat masih remaja, hingga aku menikah dan punya anak. Usiaku kini 38 tahun. Penyakit ini bukan hanya terasa sakit, tapi juga mengganggu. Karena daging tumbuh sudah membesar, menyamai kepalaku. Apalagi ada luka yang mengangga, karena sebagian sudah membusuk. Aku terpaksa menutupnya dengan kain.
Beruntung istriku tercinta, selalu membersihkan luka membusuk dikepalaku, setiap hari kepalaku dibalut kain agar tidak kelihatan orang lain bahwa kepalaku menjijikan seperti ini. Aku sangat berhutang sekali pada istriku yang selalu setia merawatku. Ya Tuhan Allah aku berharap istriku kuat dan diberi kebahagian kelak karena selama ini aku tidak bisa memberikan kebahagian.
Jika sedang kambuh, aku merasakan sakit yang teramat sangat. Aku merasa sangat tersiksa. Aku sebenarnya pernah berobat ke rumah sakit. Saat itu aku mendapat infus, tapi kemudian tidak ada tindak lanjut. Menurut perawat, aku harus menebus obat. Tapi aku tidak punya uang. Aku pasrah.
Kini hanya obat obat tradisional, yang sedikit mengurangi penderitaanku. Atau kadang kadang aku harus berjemur. Karena panas matahari bisa sedikit bisa mengurangi rasa sakit di kepalaku. Ya Tuhan ..... Aku tahu ini cobaan berat, yang harus aku hadapi. Namun rasanya aku tidak kuasa melawan penyakit mengerikan ini.
Rumahku berada di perkampungan cukup jauh dari pusat keramaian kota. Gubuk inilah yang menjadi tempat ku berteduh. Aku sangat bersyukur pada Tuhan karena aku sudah dianugrahi anak perempuan dari istriku tercita yang selalu sayang terhadap diriku walau dalam keadaan sakit seperti ini selama belasan tahun.
Selama belasan tahun istriku tak pernah mengeluh lelah, atau sudah bosan merawatku bahkan ia terlihat semakin sayang dengan kondisiku seperti ini. Dalam keadaan sakit, aku terus berjuang mencari nafkah sebagai suami yang bertanggung jawab menghidupi anak dan istriku.
Ya….aku menjadi pemecah batu. Batu batu ini aku ambil dari sungai. Setiap hari aku harus berjalan tiga kilometer, menuju tempat kerjaku. Hanya pekerjaan inilah yang bisa aku lakukan selama ini. Batu-batu kerikil ini aku jual dengan harga 30 ribu perkubik. Untuk menghasilkan satu kubik kerikil, aku harus bekerja selama lima hari. Ya memang tidak besar, uang yang aku dapatkan.
Apalagi jika untuk berobat. Pekerjaan ini memang berat, apalagi kondisi fisikku seperti ini. Tapi aku harus melakukannya. Aku masih punya beban berat untuk menyekolahkan anakku. Karena hingga kini, ia belum sekolah, karena tidak ada biaya. Mungkin inilah cobaan yang diberikan Tuhan. Harapanku saat ini bisa membesarkan dan menyekolahkan anaku, walau entah berapa lama lagi aku bisa bertahan dari penyakit ini. (Sup/Ijs)
Nama: Aon
Kampung Babakan Huni
RT/RW 03/04 Desa Banjarwangi
Kecamatan Banjarwangi
Kabupaten Garut, Jabar