
Judul: The Year I Turned 16 (Jadi Cewek 16 Tahun)
Penulis: Deeptha Khanna
Penerjemah: Lily Devita Sari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 208 halaman
Cetakan: I, Maret 2009
indosiar.com - Sudah banyak karya fiksi terjemahan bersetting India yang diterbitkan di Indonesia. Hampir semua senada, yakni mengenai wanita dan pria dewasa. Maka karya Deeptha Khanna ini menjadi bacaan segar, terutama bagi yang ingin menelisik cakrawala remaja.
Vinita Sharma mengemukakan kesehariannya dalam novel ini dengan gaya diary. Ringan, ceria, dan membuat kita merenung sesekali serta mengingat seperti apa masa remaja kita dahulu. Generasi kelahiran 70-an akan merasa 'dekat' dengan karakter Vinita sebab settingnya, menurut web resminya, adalah tahun 1991.
Vinita mengagumi Shah Rukh Khan [yang waktu itu masih pemula di Bollywood] sehingga sembunyi-sembunyi menyimpan aneka asesoris dalam boneka beruangnya. Tiap malam ia memimpikannya dan mengangankan menjadi mempelainya. Vinita tidak terlalu memperhatikan fisik, meski ia kecewa karena perhatian para cowok selalu jatuh pada Gargi, teman sebayanya.
Ketika seorang cowok Amerika bernama Marcus datang, hati Vinita mulai goyah. Urusan naksir-naksiran ini biasa tentu saja, dan tidak memakan terlalu banyak porsi buku sehingga The Year I Turned 16 tidak menjadi teenlit romance. Seperti kebanyakan remaja, ia juga perlu ‘curhat’ dan mengalami keterkejutan-keterkejutan ketika beberapa hal berubah.
Daya tarik novel debut Deeptha Khanna [yang bermukim di Jakarta bersama keluarganya] ini terletak pada potret masa transisi masyarakat India yang mulai dilanda westernisasi. Toh, mereka tetap mengenakan sari, bindi dan shalwar kameez. Mereka masih terkaget-kaget melihat adegan ciuman tidak disensor di TV kabel. Vinita bahkan terpaksa berseberangan dengan guru yang diidolakannya karena ia sulit menerima keinginan ibunya untuk bekerja dan tidak berkutat dengan urusan rumahtangga saja.
Terlepas dari alurnya yang agak lambat untuk ukuran buku remaja, The Year I Turned 16 mengandung banyak pelajaran. Untuk ibu yang memiliki anak perempuan, untuk suami, ayah, dan para remaja sendiri yang mulai dihadapkan pada situasi 'sulit' menuju gerbang kedewasaan. Nyaman dibaca karena font besar-besarnya, dihiasi foto-foto lucu, dan banyak pula mengupas masalah pelajaran sekolah. Jadi, siapa bilang fiksi remaja hanya berbicara soal ketertarikan pada lawan jenis?
Penulis resensi: Rini Nurul Badariah, tinggal di Bandung
blog :
http://rinurbad.multiply.com
http://sinarbulan.multiply.com