HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
RAGAM

Menyusuri Kota Tua, Mengenang Sejarah Jakarta



Reporter : Yadi Supyandi
Juru kamera : Damar Galih
Penyunting Gambar : Punto Wibisono
Lokasi : Jakarta
Tayang : Rabu, 20 Juni 2007 Pukul 12.30 WIB

indosiar.com, Jakarta - Inilah kesibukan sehari - hari di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta. Kapal barang sibuk membongkar muatan, terutama kayu dari Kalimantan. Kapal - kapal Phinisi berjajar di sepanjang pelabuhan dengan bentuknya yang khas, meruncing pada salah satu ujungnya dan badan kapal dicat warna - warni.

Pelabuhan Sunda Kelapa ini merupakan salah satu wajah kota tua Jakarta. Pelabuhan ini telah ada sejak abad ke12 lalu. Pada masa itu pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan komoditi lada yang sibuk, yang masuk wilayah Kerajaan Pajajaran.

Kapal - kapal asing dari Cina, India dan Arab berlabuh disini dengan membawa produk unggulan mereka. Seperti porselen, kopi, dan sutera. Barang - barang tersebut kemudian ditukar dengan rempah - rempah yang menjadi kekayaan bumi nusantara.

Bangsa Eropa pertama asal Portugis tiba pertama kali di Sunda Kelapa tahun 1512 untuk mencari peluang perdagangan rempah – rempah. Namun mereka berhasil diusir gabungan kekuatan Kerajaan Banten dan Demak, dengan dipimpin Sunan Gunung Jati yang juga dikenal sebagai Fatahillah.

Sunda Kelapa kemudian berganti nama menjadi Jayakarta, yang berarti kemenangan yang nyata. Hari kemenangan itu bertepatan dengan tanggal 22 Juni 1527. Kini tiap tanggal 22 juni dirayakan sebagai hari jadi Jakarta. Ke arah selatan Pelabuhan Sunda Kelapa, kini masih bisa dilihat Benteng Selatan dan menara Syah Bandar, yang telah berdiri sejak tahun 1839.

Dulunya didekat menara Syah Bandar ini terdapat bangunan yang berfungsi sebagai kantor Pabean dan Pajak barang - barang yang diturunkan di pelabuhan. Lokasi menara yang tingginya 18 meter ini kini menempati salah satu sudut Benteng Selatan yang masih tersisa.

Dari menara Pandang ini. Bisa disaksikan Landscape kota tua Jakarta. Seperti Musium Bahari. Dulunya musium ini adalah gudang tempat penyimpanan barang - barang dagang VOC di abad 17 dan 18. Hingga kini bangunan ini tetap dipertahankan kondisi aslinya untuk pariwisata.

Memasuki jalan kakap di selatan museum bahari terdapat lokasi bekas bengkel kapal VOC. Disini, pada masa lalu kapal - kapal yang rusak diperbaiki. Saat ini bangunan ini berfungsi sebagai restoran. Gerbang di jembatan jalan kakap ini tetap dipertahankan mewakili arsitektur kuno. Ke arah selatan, melewati jembatan tol, menyusuri Kali Ciliwung, terdapat lokasi asli kota Batavia.

Pemerintah kolonial Belanda mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia ketika berkuasa di Jakarta pada abad ke 17.

Kawasan kota lama ini merupakan hasil rancangan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jan Pieterzoon Coen, yang ingin membangun Amsterdam versi timur di Batavia. Dikawasan ini terdapat jembatan unik khas Belanda. Jembatan kayu ini dikenal sebagai jembatan Kota Intan.

Dibangun pemerintah kolonial Belanda tahun 1628 sesuai dengan gaya aslinya di Amsterdam, bisa diangkat ketika kapal melintasinya. Namun kini jembatan ini tidak terurus lagi.

Kayunyapun telah keropos dimakan usia. Masih dikawasan kota lama tepatnya di Jalan Kali Besar Barat dan Kali Besar Timur. Berjajar bangunan - bangunan dari abad 18. Kawasan ini merupakan pusat benteng Kota Batavia.

Beberapa bangunan unik khas Eropa dikawasan ini masih dapat ditemui dengan baik, seperti bangunan Neo Clasic dengan ornamen warna putih. Kawasan Taman Fatahillah merupakan lapangan terbuka berbentuk persegi empat dengan bangunan - bangunan bersejarah di semua sisinya. Disisi selatan berdiri megah bangunan museum sejarah Jakarta.

Bangunan yang berdiri sejak tahun 1620 an ini awalnya digunakan sebagai bangunan balai kota semasa VOC berkuasa.
Kawasan kota tua Jakarta hanyalah salah satu sudut dari beberapa kawasan historis di Jakarta. Dari kawasan inilah asal mula Kota Jakarta hingga kini berkembang menjadi kota metropolitan. (Helmi Azahari/Dv).

Bookmark and Share


Page: 1
29-Sep-2009 14:28:48 WIB by dewi afriyani
ouh... gitu ya awal mulanya
thx ya atas informasinya we jadi bisa ngerti

 

Nama:
Email:
Security Code: