
Reporter : Yadi Supyandi
Juru Kamera : Achmad Susanto
Lokasi : DKI Jakarta
On air : 4 April 2007
indosiar.com, Jakarta - Jakarta merupakan kota budaya dan kota multi cultural. Di tengah perkembangan kota Jakarta menjadi kota metropolitan, tersimpan sejarah peradaban Islam, diantaranya mesjid -mesjid tua peninggalan abad ke16 silam.
Salah satu diantaranya Mesjid Al Anwar, di Jalan Tubagus Angke Jakarta Barat, yang merupakan peninggalan tahun 1761 Masehi.
Mesjid ini dibangun oleh saudagar Cina bermarga Liong. Dia berteman baik dengan warga muslim keturunan Bali dan para prajurit Kerajaan Banten. Oleh karena itu, arsitektur mesjid ini merupakan perpaduan gaya arsitektur Belanda, Bali dan Cina.
Gaya arsitektur Belanda terlihat pada corak jendela mesjid. Sedangkan gaya arsitektur Bali terlihat pada bentuk mihrob yang menyerupai pura, dan ukir - ukiran bunga teratai di pintu mesjid. Sementara gaya arsitektur Cina terlihat pada tiang dan dan atap mesjid yang memiliki hiasan lampion.
Selain menjadi tempat Dakwah Islam, masjid ini dahulu digunakan sebagai tempat menyusun strategi para pejuang muslim untuk mengusir kompeni dari Jayakarta, nama Jakarta pada waktu itu.
Sejumlah pejuang dan ksatria Kerajaan Banten pada massa kejayaan Sultan Fatahilah di makamkan di tempat ini. Diantaranya, Pangeran Tubagus Anjani, atau Tubagus Angke, yang kini di gunakan sebagai nama Jalan Tubagus Angke.
Kompleks Mesjid Angke ini menempati lahan seluas 300 meter persegi dan menyatu dengan pemukiman warga di Kawasan Tambora. Salah satu mesjid tua lainnya adalah Mesjid As Salafiah, yang terletak di Kawasan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur.
Mesjid ini didirikan pada tahun 1619 Masehi. Mesjid ini di bangun oleh Pangeran Achmad Jakarta, yang merupakan cucu raja banten Maulana Hasanudin, yang juga di kenal sebagai Pangeran Jayakarta.
Setelah VOC, atau kompeni menaklukan Jakarta pada tahun 1619, Gubernur Jendral VOC, JP Coen, memporak porandakan masjid kesultanan Jayakarta yang terletak di Kawasn Kali Besar Timur.
Pangeran Jayakarta beserta pengikutnya kemudian hijrah ke Kawasan Jatinegara kaum dan membangun mesjid ini.
Walaupun sudah berusia empat abad, mesjid ini masih kokoh berdiri. Empat tiang utamanya terbuat dari kayu jati hingga kini masih asli. Walaupun mesjid ini telah direnovasi dan diperluas sebanyak 8 kali. Atap mesjid yang bergaya arsitektur Jawa juga tetap di pertahankan keasliannya.
Di samping mesjid, juga terdapat makam Pangeran Jayakarta beserta keluarga dan para pengikutnya.
Di wilayah Jakarta Selatan, juga terdapat mesjid tua, bernama Mesjid Hidayatullah, yang terletak di Jalan Jendral Sudirman, di tengah pusat bisnis ibu kota. Masjid ini kini terhalang oleh sejumlah bangunan tinggi di Kawasan Semanggi.
Padahal dahulu masjid ini merupakan masjid kebanggaan warga Betawi di Kawasan Setia Budi. Mesjid ini di bangun sekitar tahun 1747 di atas lahan seluas tiga ribu meter persegi dan memiliki dua menara.
Pembangunan mesjid ini dilakukan secara bergotong royong, ikut juga diantaranya warga muslim Tionghoa. Karena itu pengaruh gaya arsitektur Cina terlihat pada mesjid ini. Yaitu pada atapnya, yang membentuk lengkungan tipis mirip kelenteng.
Keberadaan mesjid tua di Jakarta bukan hanya peninggalan bangunan bersejarah semata, tetapi juga sekaligus menjadi bukti sejarah peradaban Islam di Jakarta. (Helmi Azahari/Dv/Sup)