
Sudah sejak lama, hidupku terbelengu dalam kemiskinan, dan menjalani kehidupan yang penuh perjuangan. Aku dibesarkan dari lingkungan keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi. Namun demikian, aku tidak tinggal diam, berbagai upaya aku lakukan, untuk membantu suamiku mencari nafkah, demi menghidupi ketujuh anak-anakku.
***
Orang-orang miskin dengan pendapatan sangat rendah bertebaran di sekitar tempat tinggalku. Mereka umumnnya yang bekerja di sektor informal seperti pedagang makanan. Barang dagangan yang dijajakan tidak seberapa. Pendapatan mereka setiap hari tidak banyak. Tetapi uang yang diperoleh dicukup-cukupkan untuk biaya makan sehari-hari.
Itulah yang menimpa pada diriku. Hadijah nama pemberian orang tuaku, sama sekali tidak memiliki arti. Yang jelas, aku asli Jakarta. Wajahku memang kelihatan lebih tua, jika dibanding usiaku 49 tahun. Mungkin ini, disebabkan aku sering bekerja keras tanpa memperhatikan perawatan tubuhku.
Dari perkawinanku dengan Resun, aku memiliki tujuh anak. Enam laki-laki dan satu perempuan. Tiga diantaranya sudah menikah. Kini, aku tinggal di kawasan Jelambar, Jakarta Barat.
Selama bulan suci Ramadhan, aku terpaksa berjualan makanan seperti mie dan martabak goreng, pada sore hari, sambil menunggu berbuka puasa. Biasanya, sebelum bulan puasa, aku berjualan nasi uduk pada pagi hari. Aku menjajakan dagangan makanan di depan rumahku.
Sekitar pukul 10 pagi, aku mempersiapkan masakan. Aku memasak di ruang tengah yang sekaligus sebagai ruang dapur. Warga atau tetanggaku, mulai sore berdatangan untuk membeli dagangaku.
Suamiku yang bekerja sebagai hansip di perumahan warga, gajinya 150 ribu rupiah, per bulannya. Tentunya, sangat tidak cukup untuk keperluan sehari-hari, termasuk biaya untuk sekolah anak-anaku. Bantuan sandang dan pangan, kadang-kadang aku peroleh dari tetanggaku. Bahkan untuk berjualan, aku terpaksa meminjam uang sebagai modal.
Sudah sejak lama, rumah yang merupakan warisan mertuaku, mengalami kerusakan sangat parah. Bahkan mirip sekali dengan gudang. Di rumah ini, memiliki dua kamar. Rian anakku tidur di bagian atas. Di kamar ini, tidak memiliki udara yang cukup normal.
Di kamar bagian bawah, Gilang anakku yang paling bontot tidur dan belajar dengan kondisi yang sangat pengap. Aku sendiri tidur di sofa, yang sudah kumuh. Kadang anakku yang lain seperti Ari dan Aripin, numpang tidur di rumah tetanggaku. Resun suamiku, tidur di tempat kerjanya, seperti di pos.
Ungkapan miskin sepanjang hari, memang itulah yang terjadi pada keluargaku. Aku tidak hanya kesulitan makan untuk sehari-hari. Tetapi aku dan suamiku kesusahan untuk menyekolahkan anak-anakku, karena tidak memiliki biaya yang cukup.
Dari ketujuh anak-anaku, rata-rata hanya memperoleh pendidikan Sekolah Tingkat Pertama. Dengan predikat itu pun, aku sudah bangga sekali. Bagiku ijazah yang dimilki anak-anaku merupakan harta karun, yang tidak ternilai harganya. Ketiga anakku, belum lama ini, terpaksa harus berhenti bersekolah. Seperti Aripin, Rian dan Ari. Mereka hanya memiliki ijazah SD saja.
Keinginan melanjutkan anak-anakku, yang putus sekolah merupakan target utamaku. Namun apa daya, aku tidak memiliki kemampuan yang cukup di andalkan. Begitu juga dengan suamiku. Aku berdua hanya bisa mengandalkan tenaga.
Gilang Ramadhan, anakku yang paling kecil, kini duduk di bangku kelas lima SD. Ia aku harapkan sepenuhnya agar dapat menyelesaikan sekolah hingga ke jenjang perguruan tinggi. Gilang selama ini, aku anggap lebih mandiri ketimbang kakak-kakaknya. Ia satu-satunya harapan keluargaku.
Kini, aku hanya bisa bermimpi, agar semua anak-anakku dapat bersekolah seperti teman-temannya. Namun untuk menjadikan mimpi itu, aku butuh perjuangan melawan kemiskinan, yang tentunya tidak sendiri. Suamiku dan kakak-kakaknya juga turut diharapkan.(Djoko Sulistyono/Ijs)
Alamat :
Hadijah
Jalan Kebon Pisang, Gang Bidan, RT 04/RW 07.
Jelambar Jakarta Barat.