HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Misteri Pembunuhan Direktur Utama PT Asaba



Reporter : Iwan Munandar
Juru Kamera : Warsam Aji Sukmana - Nurkayat

indosiar.com, Jakarta - Budi Harto Angsono, Direktur Utama PT Aneka Sakti Bakti (Asaba), pagi hari tanggal 19 Juli 2003, tewas dengan kepala tertembus peluru. Saat itu, Budi Harto dikawal oleh seorang Bintara TNI, yang juga tewas dengan luka tembakan di kepala. Peristiwa ini menggemparkan Jakarta, karena adanya keyakinan, mereka adalah korban penembakan terencana.

Peristiwa

Tewasnya Direktur Utama PT Aneka Sakti Bakti (Asaba), sangat menggegerkan Jakarta. Peristiwa penembakan di lapangan parkir Gelangang Olah Raga Krida Sasana, Pluit, Jakarta Utara, pada 19 Juli lalu, sangat mungkin direncanakan untuk membunuh Budi Harto Angsono, Presiden Direktur PT Aneka Sakti Bakti. Selain menewaskan Budi Harto, peristiwa pagi hari itu juga menewaskan pengawalnya, seorang Bintara TNI Sersan Edi Seid.

Saksi mata disekitar tempat kejadian menyatakan, melihat seorang lelaki berjaket dan bercelana hitam dengan dibonceng temannya bermotor menembak Edi Seid, di bagian kepala dan tubuhnya. Baru kemudian, pelaku misterius itu menembak Budi Harto, hingga lelaki berusia 60 tahun ini tewas bersimbah darah di tempat kejadian. Sementara supir korban, Darjan, yang telah bertahun-tahun bekerja pada korban, hanya dapat menyembunyikan diri di belakang kemudi mobil korban.

Dari hasil otopsi tim forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, ditemukan dua luka terbuka di kepala serta tiga luka lainnya ditubuh Budi Harto. Sementara tim forensik medik menemukan satu luka tembak dibagian kepala Sersan Edi Seid. Berdasarkan bekas tembakan itu, kuat dugaan pelaku penembakan adalah orang yang telah terlatih melumpuhkan sasaran dengan cara menembak.

Sementara dari tempat kejadian, petugas menemukan 9 selongsong peluru berkaliber 9 milimeter. Jenis kaliber yang sama, juga merupakan amunisi standar bagi senjata militer Indonesia. Meski demikian, pihak kepolisian belum dapat memastikan keterlibatan anggota Tentara Nasional Indonesia dalam peristiwa ini.

Untuk sementara, polisi menganggap peristiwa penembakan ini, diduga berlatar belakang bisnis yang ditekuni oleh korban. Apalagi selang satu bulan sebelumnya, tanggal 6 Juni 2003, seorang kepercayaan korban bernama Paulus Teja Kusuma, juga nyaris tewas.

Saat itu, Paulus yang menjabat direktur keuangan di perusahaan korban, diserang oleh orang tidak dikenal dengan menggunakan senjata di depan Holtel Golden Truly, Jalan Angkasa, Jakarta Pusat. Hingga kini, Teja Kusuma masih menjalani perawatan di sebuah rumah sakit Singapura. Tidak terungkapnya kasus ini, diduga membuat pelaku berani untuk melakukan tindakan serupa.

Kesaksian

Dari rangkaian kejadian tersebut, keluarga korban menduga seorang mantan menantu korban berinisal GNW, berada dibalik semua peristiwa itu. Kuatnya dugaan ini, karena pengadilan memvonis GNW, melakukan korupsi sebesar 25 milyar rupiah di PT Asaba, sedangkan Paulus Teja Kusuma adalah orang yang menjabat keuangan di perusahaan tersebut.

Akibat ulahnya itu GNW dijatuhi 2 tahun hukuman penjara. GNW kemudian mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Salemba Jakarta, lalu dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Kuningan, Jawa Barat. Pada 15 Januari 2003, GNW melarikan diri dengan cara mengelabuhi petugas yang mengantarnya pergi berobat.

Sementara itu, petugas telah memeriksa keluarga korban, juga orang-orang yang dikenal dengan korban, untuk mengetahui pelaku pembunuhan yang diduga mengenal dekat korban, termasuk seorang diantaranya, yang belum disebutkan namanya oleh polisi, yang pernah dimintai GNW untuk menunjukkan tempat untuk mengambil senjata api. Orang ini pernah satu kamar tahanan dengan GNW, saat di Lembaga Pemasyarakatan Kuningan, Jawa Barat. Kini saksi itu dalam perlindungan pihak kepolisian.

Awal hubungan antara Budi Harto Angsono dengan GNW, ketika GNW menikahi putri sulung korban bernama Alice, pada tahun 1991. Sejak saat itu, GNW mendapat hadiah dari korban, berupa kepemilikan saham di tujuh perusahanan dalam lingkungan grup PT Asaba, serta rumah yang mewah di kawasan elit Jakarta. Selang beberapa tahun kemudian, hubungan harmonis GNW dengan Budi Harto Angsono terusik setelah audit perusahaan pada tahun 1998, GNW tidak dapat mempertanggung jawabkan dana milik perusahaan sebesar 25 milyar rupiah.

Direktur Keuangan PT Asaba Paulus Teja Kusuma melaporkan penyimpangan ini. Kemelut keuangan ini akhirnya berujung di pengadilan. Karena terbukti menggelapkan uang perusahaan ini, pengadilan menghukum GNW 2 tahun penjara serta mengambil aset-aset yang dikuasai oleh GNW, antara lain berupa rumah mewah dan vila. Diduga karena hukuman ini, GNW menjadi sakit hati terhadap korban yang pernah menjadi mertuanya itu.

Selain itu, seorang rekan korban yang juga kenal dengan GNW, pernah mendengar GNW akan membunuh mereka yang pernah membongkar kasus korupsi yang dilakukannya, antara lain Budi Harto Angsono, Paulus Teja Kusuma serta Steven Angsono, salah satu dari empat anak Budi Harto yang juga turut menangani perusahaan milik korban. Karena ancaman ini baik, keluarga maupun Kolega Budi Harto Angsono enggan memberikan pernyataan apapun kepada media massa, dengan alasan faktor keamanan diri mereka.

Delik

Sementara itu, kriminolog dari Universitas Indonesia, Muhammad Mustofa, melihat penggunaan tindak kekerasan untuk menyelesaikan persoalan bukan lagi merupakan sesuatu hal yang luar biasa di masyarakat. Hal ini timbul karena pengaruh lingkungan serta sikap penegak hukum, yang seolah-olah membenarkan terjadinya tindak kekerasan. Diantaranya, dengan pemberian pidana yang ringan terhadap pelaku kekerasan.

Melihat dari keadaan demikian, penggunaan tindak kekerasan untuk menyelesaikan permasalahan, juga tidak lagi dimonopoli oleh warga masyarakat kelas bawah. Hal ini terjadi, karena kelompok kelas ini menganggap tidak ada upaya lain untuk menyelesaikan persoalan mereka. Sementara penyelesaian dengan menggunakan perangkat hukum, dirasakan tidak memungkinkan karena keterbatasan akan pengetahuan mengenai hukum.

Meski di Indonesia tidak mudah mendapatkan izin untuk memiliki senjata api, namun dalam beberapa kasus tindak kekerasan, sebagian pelakunya menggunakan senjata api.

Apa Kata Mereka

Meskipun telah banyak saksi yang telah diperiksa petugas, sehubungan dengan tewasnya Budi Harto Angsono dan Edi Seid ini, namun pelaku dan motif dibalik pembunuhan ini masih menjadi misteri.

Namun yang jelas, pelaku penembakan ini mempunyai rencana yang cukup matang sebelum melaksanakan tindakannya. Ini terlihat dari cara pelaku menembak, yang langsung menuju pada sasaran yang mematikan serta waktu dan tempat yang dipilih untuk menghabisi korban. Dalam pasal 340 Kitab Undah-Undang Hukum Pidana, pelaku pembunuhan berencana mendapat ancaman hukuman maksimal berupa pidana mati atau pidana penjara seumur hidup.

Keberanian pelaku kejahatan yang nekad menyerang Direktur PT Asaba bersama personil terlatih seperti Sersan Edi Seid, sangat mengejutkan. Apalagi penembakan itu terjadi saat Presiden Direktur PT Asaba Budi Harto Angsono berada ditempat umum, membuat masyarakat menjadi tidak merasa aman. Rasa aman yang terlindungi yang dirasakan oleh masyarakat, merupakan cerminan hasil pelaksanaan tugas aparat keamanan. Pengungkapan kasus kejahatan tidak meski menunggu jatuhnya korban lagi.

Kematian Direktur Utama PT Asaba ini juga membuktikan bahwa pengawalan dan personil yang terlatih, ternyata belum cukup untuk menjamin keselamatan jiwa orang yang dikawal. Rasa aman rupanya tidak lagi bisa dibeli dengan uang.(Sup/Idh)

Video Streaming

Bookmark and Share