HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Motor, Penyebab Polusi Udara ?



indosiar.com - Polusi udara di Kota DKI Jakarta, ibu kota negara Indonesia, saat ini dikatakan meningkat tajam. Penyebabnya, bertambahnya jumlah kendaraan bermotor yang lalu lalang ditiap kilometer ruas jalan kota. Kalau belum berubah, Pemerintah Daerah DKI Jakarta akan kembali melaksanakan Perda Nomor 2 tahun 2005, yang mengatur tentang Pengendalian Udara Bersih.

Berdasarkan penelitian Kelompok Kerja Udara Kaukus Lingkungan Hidup, tahun 2004 dan 2005 lalu, jumlah hari dengan kualitas udara terburuk jauh dibawah 50 hari. Namun di tahun 2006 kemarin, jumlahnya justru naik diatas 51 hari.

Pemicunya karena banyaknya asap pembuangan kendaraan bermotor. Saat ini rata-rata, kendaraan bermotor yang melintas di setiap kilometer panjang jalan mencapai 3000 kendaraan. Asap knalpot kendaraan bermotor, merupakan penyumbang utama polusi udara di Jakarta. 70 persen polusi udara di Jakarta diakibatkan asap knalpot kendaraan bermotor. Asap ini mengandung bahan berbahaya, seperti karbon, timbal, dan bahan beracun lainnya.

Perkembangan jumlah motor di Jakarta saat ini, sudah sangat tinggi. Pada tahun 2005, jumlah motor sudah menembus angka 4 juta dua ratus lebih. Jumlah ini lebih besar dibanding kendaraan roda empat yang hingga kini mencapai 2 juta lebih. Bahkan produsen sepeda motor yang tergabung dalam Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) memperkirakan sepeda motor yang ada di Jakarta sampai akhir 2005 bisa mencapai 5 juta kendaraan. Angka ini tidak termasuk Bekasi, Tangerang, dan Bogor.

Praktis saat ini di Jakarta kepemilikan sepeda motor jika dibandingkan dengan jumlah penduduk sudah mencapai satu berbanding lima, sama dengan Malaysia dan Thailand. Sedangkan untuk skala nasional, 1 berbanding 15 penduduk. Akibat membludaknya motor di Jakarta, sejak awal tahun 2004 lalu Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, telah memproduksi nomor polisi dengan tiga huruf setelah nomor.

Analisa Bank Dunia, menempatkan Kota DKI Jakarta sebagai kota ketiga berpolusi udara terburuk setelah Meksiko, Bangkok dan Thailand. Upaya penilaian udara terbersih dan terbersih terhadap kota-kota di dunia ini dilakukan oleh bank dunia sejak lima tahun lalu. Kondisi itu, sudah tidak lagi sesuai dengan kondisi udara Jakarta saat ini.

Masih berdasarkan laporan Bank Dunia, kerugian dari buruknya kualitas udara di tahun 1990 mencapai 62 juta US dollar. Jika kondisinya memburuk di tahun ini, maka di tahun 2008 mendatang, kerugian yang akan diderita bisa mencapai 222 juta US dollar.

Padahal, untuk itu Gubernur Sutiyoso bahkan mendapatkan penghargaan sebagai salah satu pemenang The 2006 Asian Air Quality Management karena dianggap bisa menurunkan tingkat polusi dengan memindahkan 14 persen pengendara mobil menjadi pelanggan moda transportasi Trans Jakarta.

Sutiyoso berharap, dengan semakin banyaknya koridor busway yang dioperasikan, kemacetan lalu lintas di Jakarta dapat dikendalikan. Selain itu, polusi akibat kendaraan bermotor juga dapat dikurangi. Karena warga Jakarta yang semula memakai kendaraan pribadi dapat beralih menggunakan bus Trans-Jakarta.

Menurut survei, sejak busway dioperasikan, indeks pencemaran udara di Jakarta mengalami penurunan. Sebelumnya hari tanpa polusi di Jakarta hanya 20 sampai 22 hari dalam setahun, kini mencapai 30 hari.

Pakar lingkungan hidup yang juga mantan Menteri Lingkungan hidup Emir Salim berujar, Jakarta dan Indonesia secara umum terlalu memanjakan kendaraan bermotor dengan menganaktirikan kendaraan pengangkut massal. Sayangnya, tidak dibarengi dengan pembangunan sarana angkutan massal lainnya seperti terowongan bawah tanah, pembangunan jalan tol, dan jalan layang. Sehingga memicu masyarakat membeli kendaraan pribadi.

Sepaham dengannya, Wahana Lingkungan Hidup mengeluarkan rilis tentang adanya kelemahan terhadap penerbitan PP No 2 tahun 2006. Ulasannya, perda ini tidak diikuti oleh peraturan gubernur tentang peraturan pelaksanaan masing-masing pasal. Dari 16 Pergub yang harus disahkan hingga saat in, baru Pergub No. 75/2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok. Itu pun luas implementasinya, karena larangan merokok terbagi menjadi larangan didalam ruangan dan diluar ruangan.

Tidak hanya itu, konsistensi Pemda DKI Jakarta terhadap penciptaan udara bersih masih menyimpan banyak pertanyaan. Pasalnya, sejak Oktober 2006 lalu, stiker dan formulir isian uji emisi (gas buang) yang diterbitkan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta tak lagi beredar. Padahal, ketentuan uji emisi yang tertuang dalam Perda No.2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara (PPU) itu merupakan syarat perpanjangan membayar pajak kendaraan.

Atas alasan itu, boleh jadi sebagian mobil di ibu kota dan sekitarnya yang jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan ribu unit dengan mulus melenggang dengan produksi karbon monoksidanya tanpa harus repot-repot menghikuti tes uji emisi dan langsung membayar pajak. Terlebih tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor dari tahun ke tahun terus meningkat.

Berdasarkan catatan BPLHD DKI Jakarta di tahun 2006, persentase kualitas udara tidak sehat di Jakarta meningkat dari tahun sebelumnya. Apabila pada tahun 2005, dari pencatatan kualitas selama 312 hari dalam setahun, ditemukan 18 hari udara berkualitas tidak sehat. Maka pada tahun 2006, dari pencatatan kualitas udara selama 358 hari dalam satu tahun, terdapat 51 hari atau 14,25 persen udara dalam kualitas tidak sehat di Jakarta.

Dalam catatan Polda Metro Jaya, sekitar 1.250 sampai 1.500 unit kendaraan sepeda motor baru muncul di jalan setiap harinya. Tiap tahunnya, baik kendaraan roda dua dan roda empat pertambahannya mencapai 40 persen. Hingga akhir tahun 2006, jumlah yang terdaftar mencapai 7.015.000 unit. Yang mengeherankan, 98 persen diantaranya adalah kendaraan milik pribadi.

Hingga tahun 2014 nanti jumlah kendaraan bermotor semua jenis diperkirakan membengkak dua kali lipat antara 10-14 juta unit. Sayangnya, hal ini tidak didukung dengan pertambahan ruas panjang lebar jalan yang saat ini mencapai 7.639.136 km.

Terlepas dari semua beban berat yang harus ditanggung oleh udara Jakarta itu, masih terbuka kesempatan bagi pemerintah kota DKI Jakarta bersama warganya untuk bisa kembali menghirup udara alam segar tanpa ada yang harus tersingkirkan dan dikorbankan. Semuanya tergantung kepada niat tulus dan kemauan dari masing-masing manusianya sendiri sebagai pelaku polusi udara dengan kesadaran mau menghilangkan kebiasaan yang bisa menimbulkan polusi udara. Bisa kan ?(Hr/Idh)


Bookmark and Share