
indosiar.com, Sulawesi Selatan - Inilah parade musik bambu di Enrekang, Sulawesi Selatan. Pimpinan kelompok musik bambu merangkap sebagai konduktor yang mengatur jalannya konser.
Seperti Manta ini. Pimpinan musik bambu asal Desa Bolang, Kecamatan Alla, Enrekang. Musik bambu merupakan musik rakyat Enrekang. Setiap kali tampil, musik ini dimainkan minimal oleh 60 orang.
Setiap kecamatan di Enrekang, memiliki kelompok musik bambu. Umumnya para konduktor musik bambu sehari-hari berprofesi sebagai guru. Manta contohnya, sehari-hari ia menjadi guru di SD Negeri 65 Tampo, Nanggi Raja.
Salah seorang konduktor musik bambu yang terkenal di Enrekang adalah R Faisal, pensiunan kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah yang telah berusia 65 tahun ini, bisa dibilang sebagai tokoh musik bambu di Enrekang. Para muridnya kini memimpin kelompok musik bambu yang tersebar di berbagai kecamatan di kabupaten Enrekang.
Salah satu kelebihan Faisal adalah dirinya dapat membuat musik bambu sendiri. Kebetulan di rumahnya di Dusun Kalimboa, Kelurahan Bontongan, Baraka, yang merupakan daerah penghasil salak, terdapat banyak pohon bambu.
Pohon bambu yang digunakan adalah bambu calang. Sebelum ditebang, bambu ditandai terlebih dahulu dengan cara mengetuknya, untuk mengetahui bunyinya. Yang dipilih bambu yang bunyinya nyaring, karena akan menghasilkan nada yang bagus.
Semua jenis alat musik bambu dapat dibuatnya. Terutama alat musik bambu yang menghasilkan bunyi bas. Faisal juga mahir membuat suling. Namun untuk membuat suling diperlukan perapian. Besi dipanaskan di perapian untuk membuat lubang suling.
Ayah 6 orang anak dan kakek 3 orang cucu ini membuat alat musik bambu berdasarkan pesanan. Para pemesannya tidak saja terbatas di Kabupaten Enrekang, tetapi juga hingga ke daerah lain di Sulawesi Selatan, bahkan ke Kalimanta.
Faisal tidak saja terampil sebagai konduktor. Dia juga mahir memainkan semua jenis alat musik bambu. Seperti suling ini. Perjalanan Faisal memainkan musik bambu telah dimulainya sejak masih duduk di sekolah dasar. Namun dia mulai dikenal ketika pada tahun 1964 menjadi juara memainkan musik bambu.
Kini di usianya yang tidak muda lagi, Faisal masih membina kelompok musik bambu di beberapa karang taruna, seperti di Rumbia, Maluak, Tanro dan juga di Palopo.
Untuk menjaga kelestarian musik bambu ini, pemerintah Kabupaten Enrekang telah memasukkannya dalam muatan lokal pelajaran di sekolah. Selain itu, setiap kecamatan juga diwajibkan memiliki kelompok musim bambu. Sehingga kini musik bambu telah menjadi musik rakyat Enrekang. (Sup)