
indosiar.com, - Burung-burung perkutut ini berdesakan dalam satu kandang sempit yang hampir tidak terurus. Semestinya, dalam satu kandang hanya diisi sepasang burung perkutut saja. Namun ini tidak, lihat saja, burung perkutut ini harus berebut tempat untuk mengerami telur-telurnya.
Barangkali bagi sebagian peternak, menempatkan perkutut dalam satu kandang menguntungkan, karena biayanya lebih murah.
Namun lain bagi penangkar burung perkutut. Kandang yang berdesaan seperti ini justru menimbulkan masalah. Burung hasil penangkaran tidak laku di pasaran. Masa suram peternak perkutut nampak nyata di depan mata. Beberapa bahkan sudah membongkar tempat penangkarannya.
Penggemar perkututpun membiarkan sangkar burungnya tergantung tanpa penghuni. Ini adalah penangkaran perkutut milik Haji Sanen, di Desa Bojong Kulur, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat. Sejak wabah flu burung memukul peternak unggas di Indonesia, burung-burung perkutut hasil penangkarannya tidak terjual.
Haji Sanen tidak tahu harus berbuat apa dengan 400 ekor burung perkututnya. Beralih ke usaha lain juga tidak mungkin.
Sebelum wabah flu burung menyerang, kisah sukses penangkar perkutut kerapkali merdu terdengar, semerdu suara burung perkutut.
Kontes merdunya suara burung perkutut selalu dipenuhi peserta, dan menghasilkan perkutut juara. Seekor burung perkutut juara kontes bahkan bisa berharga hingga dua miliar rupiah.
Kini kisah sukses itu sudah berlalu. Tidak jauh berbeda dengan nasib Haji Sanen di Bogor, Haryanto memiliki kisah lain sebagai penangkar perkutut.
Hasil penangkarannya kerap menghasilkan burung perkutut juara. Dia mendatangkan indukan perkututnya langsung dari Bangkok, Thailand. Dia juga menjadi pemandu bagi pemula yang ingin belajar memelihara burung perkutut. Tempat penangkarannya di Kranggan, Cibubur, dulu selalu ramai dikunjungi pecinta perkutut.
Pada masa jayanya, sepasang anak burung perkutut atau piyik dapat berharga 150 juta rupiah. Bahkan untuk sekedar memiliki telur juara, pecinta burung perkutut harus inden dan merogoh kantong cukup dalam.
Perkutut adalah burung yang tahan panas. Burung ini tahan terhadap sengatan sinar matahari berjam-jam dalam sangkar yang digantung seperti ini.
Burung perkutut pada zaman dahulu merupakan peliharaan para raja Jawa. Burung ini ditempatkan di dalam sangkar khusus yang tidak pernah berubah sejak dahulu. Kini virus H5N1 pembawa maut bagi unggas menghapus kemegahan itu.
Bahkan para pecinta burung perkutut harus berlapang dada menerima keputusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Nomor 15 tahun 2007, yang mengatur tata cara kepemilikan unggas.
Meski penangkaran burung perkutut kini sedang menghadapi masa suram, namun Haryanto dan Haji Sanen tetap yakin, selama suaranya masih merdu, burung perkutut tetap akan disukai orang. Walaupun tidak ada yang dapat memastikan waktunya kapan. (Helmi Azahari/Sup)