HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Pasar Prumpung, Sorga Dunia Mainan



Pasar itu berada dipertigaan dua jalan besar, yaitu Jalan Achmad Yani dan Jenderal Basuki Rahmat. Tak jauh dari tempat itu, terdapat Universitas Mpu Tantular dan Pasar Cipinang Baru. Meski dinamakan pasar, namun lokasi itu tak seperti pasar, karena hanya berupa deretan bangunan semi permanen dipinggir jalan raya.

Dan jangan membayangkan bangunan berupa kios-kios ini akan menjual berbagai ragam yang biasa terdapat di pasar. Karena yang dijual disini sebagian besar adalah mainan anak-anak, peralatan tulis menulis, pernak-pernik hiasan rambut dan aksesoris. Selain itu tempat untuk berjalan hanya cukup untuk dua orang. Tak heran, bila disini, orang kerap bersenggolan, baik badan maupun bokong.

Di Pasar Gembrong atau Pasar Prumpung atau Pasar Senggol ini, kalau bisa jangan membawa anak-anak. Karena sama saja menguras isi kantong Anda, karena harga yang ditawarkan di pasar ini bisa membuat mata mendelik dan silap mata. Mendelik bukan dalam artian karena harganya mahal, tetapi bingung karena mau ditawar berapa lagi.

Karena itulah, jangan heran kalau yang datang kesini tidak hanya kaum kaya raya yang uangnya bisa diibaratkan tak berseri, tetapi juga kalangan menengah kebawah. Dipasar ini disediakan permainan anak mulai dari mobil-mobilan (dari yang terkecil hingga terbesar) atau mobil Tamiya, boneka-boneka terutama barbie (dari yang termurah hingga termahal) dan segala pernak perniknya seperti baju barbie beraneka jenis, rumah-rumahan barbie, kendaraan barbie, dan tempat tidur serta meja hias barbie.

Selain itu dijual juga mainan seperti yoyo, ludo aneka jenis, peralatan mandi bola, kereta api dari yang lengkap dengan rel pendek atau panjang, kartu-kartu, atau pistol-pistolan. Sedangkan alat tulis, mulai dari buku tulis, buku gambar, pinsil dari yang termurah hingga termahal, pinsil warna berbagai jenis bahkan merek staedler ada, crayon hingga 36 warna, tempat pinsil, tempat minum, celengan berbagai jenis, karpet abjad berbagai warna, pulpen, penghapusan dan sebagainya.

Harga yang ditawarkan untuk semua jenis barang itu bisa dikatakan murah alias miring. Bayangkan saja harga yang ditawarkan untuk satu jenis boneka barbie produk dari Cina, yang biasanya ada juga di mall-mall bukan penjual resmi boneka Barbie buatan Mattel, sekitar Rp 35 ribu, belum ditawar. Kalau kita pandai menawar satu boneka bisa dihargai sekitar Rp 15 ribu. Untuk boneka barbie buatan Mattel sendiri, dihargai sekitar Rp 150 ribu, bayangkan dengan harga boneka Barbie buatan Mattel yang berada di Mall Kelapa Gading yang mencapai Rp 200 - hingga Rp 250 ribu tanpa bisa ditawar tentu saja ! Belum lagi baju barbie yang dijual Rp 10.000 untuk 3 jenis pakaian.

Untuk harga peralatan tulis dan aneka mainan lainnya, juga tidak jauh berbeda. Apalagi jika Anda membelinya dengan partai besar atau grosiran. Bayangkan saja, untuk satu set tempat pinsil yang berisi pinsil, rautan dan penghapusan dihargai sekitar Rp 5000 dan jika Anda membelinya setengah lusin atau 12 biji maka harga perlusinnya bisa sekitar Rp 40 ribu hingga Rp 45 ribu, tempat tabungan (celengan) aneka macam 1 lusin dihargai Rp 150.000, persatuannya Rp 15 ribu. Dan kertas kado isi 10 jenis seharga Rp 6000.

Murahnya harga di Pasar Prumpung atau Pasar Gembrong atau Pasar Senggol ini membuat pasar ini selalu dipenuhi pembeli setiap harinya. Apalagi pada hari Sabtu, Minggu dan liburan, para pembeli tidak hanya para konsumen yang ingin lagi menjual barang yang dibeli dari pasar tersebut, tetapi juga konsumen yang membeli untuk kebutuhan pribadi. Oh ya, pasar ini buka dari pukul 07.00 hingga pukul 19.00 WIB.

Seperti yang dilakukan Ajat, seorang pedagang aneka jenis aksesoris rambut dan perhiasan imitasi di kawasan Klender, Jakarta Timur. Menurut Ajat, sebelum tahu Pasar Prumpung, ia kerap membeli barang jualannya di wilayah Kota, tepatnya di Asemka, yang memang terkenal sebagai sorga barang grosiran. "Saya tuh dikasih tahu sama teman yang ternyata suka belanja di Pasar Prumpung dan bilang harganya gak jauh beda dengan Asemka. Karena katanya pemasok di Pasar Prumpung hampir sama dengan yang di Asemka. Karena lokasinya juga deket sama tempat tinggal saya di Klender, saya jadi belanja kesini aja setiap seminggu sekali," jelas Ajat yang berjualan di sekolah-sekolah di Klender.

Keuntungan yang didapat Ajat dari berjualan barang-barang tersebut cukup lumayan. Karena untuk para konsumen yang akan menjual kembali barang-barang yang dibeli di Pasar Prumpung, akan diberi harga khusus. "Apalagi kalau sudah kenal dan jadi pelanggan di satu tempat, kita bisa minta barang dulu trus bayarnya nanti bulanan. Enaknya lagi, untuk barang-barang tertentu bisa dikembaliin dan diganti baru kalau memang gak laku. Jadi kita ngejualnya enak," lanjut pria kelahiran Karawang ini. "Apalagi, anak-anak sekarang kan tau model dan suka tanya ada ikat rambut yang model baru. Untungnya di Pasar Prumpung, barang-barangnya gak ketinggalan jaman dan selalu ada model baru".

Sementara bagi Wulan, perempuan pekerja yang memiliki tiga orang anak, Pasar Prumpung merupakan sorganya dalam memenuhi kebutuhan anak-anaknya akan mainan dan alat tulis. "Wah kalau saya sih bisa dibilang hampir tiap dua minggu sekali kesini. Ada aja yang dicari, kalau gak mainan, alat-alat tulis, ikat-ikat rambut dan perhiasan imitasi. Malah sekedar jalan-jalan, buat cuci mata karena kebetulan rumah saya di Duren Sawit gak jauh dari sini," jelas wanita berkulit putih dan bertubuh langsing itu.

"Anak saya kan dua orang perempuan, jadi seneng aja lihat macam-macam ikat rambut yang harganya bisa kita suka lupa diri. Bayangin aja, satu jenis ikat rambut satu lusinnya seharga Rp 12 ribu. Padahal satu jenis itu terdiri dari 24 ikat rambut, yang kalau dijual sama abang-abang penjual ikat rambut, dihargai Rp 1000 untuk satu ikat rambut. Berarti kan kita udah untung Rp 12 ribu. Apalagi kalau beli di mall, wah dua ikat rambut sejenis harganya bisa mencapai Rp 12 ribu. Belum lagi karet-karet rambut aneka warna itu, kalau disini untuk yang kualitas murahan harganya hanya Rp 500 perak. Makanya saya kalau kesini suka ngeborong...he...he," kata Wulan sambil tertawa.

Tidak hanya aksesoris rambut, Wulan juga kerap membeli alat tulis dalam jumlah banyak karena kebetulan ketiga anaknya sudah bersekolah, sementara ia dan suaminya pun bekerja. "Kalau untuk mainan tidak terlalu heboh karena anak saya yang paling besar laki-laki sudah kelas 3 SMP, nomor dua dan tiga perempuan, masing-masing di kelas 6 dan 1 SD. Paling yang kecil aja masih suka sama boneka Barbie. Kalau yang laki cuma suka sama mobil Tamiya, itu aja kalau gak beli gak apa-apa".

Ternyata kesukaannya itu bisa juga menghasilkan, karena barang-barang yang dibelinya di Pasar Prumpung juga ditawarkannya kepada teman-teman sekantornya yang sudah mempunyai anak. "Sekedar jualan aja, gak rutin. Kalau ada yang bagus dan lucu, biasanya saya tawarin sama teman kantor dan harganya juga gak terlalu jauh berbeda. Yang penting kembali modal aja. Yang sering sih teman-teman beli perhiasan rambut sama alat tulis," ungkapnya.

Sementara bagi Eva, seorang pedagang alat-alat tulis menulis, perlengkapan sekolah dan stationary lainnya, keuntungan yang diraihnya bisa dikatakan lumayan. Tanpa mau menyebutkan berapa pastinya, menurut Eva keuntungan perbulannya sudah bisa menutupi harga sewa kios berukuran 1,5 x 3 meter sebesar Rp 3 juta per tahun.

Wanita berkulit putih ini sudah sejak tahun 2000 berjualan di Pasar Prumpung. Awalnya ia ikut saudaranya berdagang di Asemka, yang kemudian melebarkan daerah dagangannya ke Pasar Prumpung ketika pasar tersebut mulai terkenal sebagai pusat grosiran baru di tahun 1998. "Makanya barang-barang dagangan saya ini bisa dibilang asalnya dari Asemka. Kualitasnya juga bagus dan kebanyakan pembeli ditempat saya juga jadi pelanggan," jelas wanita lajang ini.

Meski saingannya di Pasar Prumpung cukup banyak (ada sekitar 10 pedagang alat tulis), namun Eva tidak khawatir barang dagangannya tidak laku. Ia percaya rejeki itu pasti ada selama mau berusaha. "Buat apa takut, kan yang belanja gak cuma satu atau dua orang. Selain itu kita juga punya pelanggan yang senang dengan service yang kita berikan. Alhamdulillah, ditempat saya, setiap hari ada saja yang beli," kata Eva yang selalu ramah melayani pembeli dan tidak pernah menampilkan muka masam itu. "Kalau saya cemberut, ntar yang beli gak jadi deh...he....he...".

Pasar Prumpung sendiri sudah ada sejak tahun 1960-an. Dahulu di pasar ini merupakan pasar tradisional yang menyediakan berbagai macam jenis sayuran, ikan, dan lainnya. Pada tahun 1998, seusai kerusuhan, beberapa warga sekitar Cipinang, mulai membangun kios disana. Awalnya hanya beberapa pedagang yang menjual mainan dan perlengkapan menulis namun kemudian berkembang menjadi grosiran hingga sekarang.(Indjul)

Bookmark and Share