HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Pemulung, Nasibmu...



Reporter  : Astrid Farma Putri
Kameramen : Damar Galih
Tayang        : Jumat, 29 Desember 2006, Pukul 12.00 WIB

indosiar.com,  Jakarta - Di sini, di antara timbunan sampah, di antara pengapnya bau tak sedap, di antara kerumunan lalat dan ulat-ulat belatung, kami hidup dan menyandarkan masa depan. Inilah kenyataan pahit yang harus kami hadapi, sebagai pemulung, mencoba bertahan hidup dari barang-barang sisa. Semua karena sulitnya mendapatkan pekerjaan di negeri bernama Indonesia ini.

Segmen: 1

Bantar Gebang. Siapa yang tak mengenal nama itu jika tinggal di wilayah Jabotabek. Ya, sudah 18 tahun Bantar Gebang yang berada di sebelah utara kota Bekasi ini, menjadi tempat pembuangan sampah warga Jakarta. 200 ton kubik sampah setiap harinya dibuang di tempat yang luasnya 108 hektar ini.

Sebagai tempat pembuangan sampah, tentu saja tempat ini kotor, berbau dan berkembang beragam jenis penyakit. Tentu tak ada yang mau datang ke tempat ini, apalagi tinggal dan menetap. Tapi bagi kami para pemulung, tak ada pertimbangan itu. Kami hanya bicara soal kelangsungan hidup.

Itulah sebab kami tinggal di kampung sumur batu ini, tak jauh dari TPA Bantar Gebang. Saya yakin, menjadi pemulung sampah di Bantar Gebang bukanlah cita-cita. Mana ada yang mau tumbuh dan berkembang di lingkungan kotor dan berbau seperti ini.

Tapi tekanan hidup dan sulitnya mencari pekerjaan, membuat kami tak punya pilihan. Kami harus makan. Dulu, saat di Indramayu, Jawa Barat, saya tak punya pekerjaan tetap. Hanya seorang buruh kasar. Kadang untuk sekedar bisa membeli beras saya menjaga empang orang.

Untuk mendapat tambahan, isteri ikut tetangga mencari kepiting di pantai. Di kampung, tak ada lagi lapangan pekerjaan. Itu sebabnya, saat kakak isteri mengajar bekerja di Jakarta, saya tak berfikir dua kali, walau ternyata pekerjaan itu menjadi pemulung, mengumpulkan barang-barang bekas.

Satu tahun kemudian, isteri saya menyusul bersama anak-anak. Sejak itulah, kami coba merangkai masa depan di tempat ini.Tidak terasa, sudah 10 tahun kami berada di tempat ini, mengumpulkan barang-barang sisa yang mungkin masih laku di jual. Kami tak punya pilihan.

Kalau ada pepatah, bahwa hidup adalah perjuangan, itu benar-benar kami rasakan, karena kami benar-benar berjuang mempertahankan hidup dengan cara seperti ini. 
  
Saat pertama pindah ke tempat ini, saya dan keluarga tak kuasa menghirup bau sampah-sampah itu. Kami bahkan tak sanggup makan selama seminggu. Untunglah, seiring berlalunya waktu, akhirnya kami berhasil melalui ujian itu.Kini, kami sudah terbiasa hidup di antara lalat dan ulat-ulat belatung yang dulu sangat menjijikkan itu.
  
Segmen II

Bekerja sebagai pemulung memang berat. Butuh tekad kuat dan harus tahan banting. Bagaimana tidak?, setiap hari bergumul dengan barang-barang bekas, kotor dan bau. Tak sedikit mereka yang pernah mencoba bekerja di tempat ini, akhirnya mundur.

Ya karena kuat. Hasilnyapun tak banyak. Mungkin tak ada orang seperti kami ini yang bersemangat jika membicarakan masa depan. Tapi bagi saya, setidaknya ini masih  lebih baik, dibanding kami tinggal di kampung dulu yang serba tak pasti. Di sini, dengan hasil pulungan 6 sampai 7 kwintal sampah, setiap bulannya,kami masih bisa makan. 
  
Majikan saya bernama Dul Hadi. Saya senang bekerja dengannya. Setidaknya saya tidak lagi dipusingkan dengan sewa rumah dan biaya listrik. Ia yang menanggung, sehingga hasil kerja harian saya yang 20 ribu rupiah itu bisa saya belikan beras dan lauk pauk untuk makan kami sekeluarga.
  
Pak Hadi juga tak keberatan jika kami meminjam uang saat kami ada keperluan mendesak, misalnya kalau ada dari kami yang sakit dan perlu berobat.
  
Menjadi pemulung memang bukan pilihan, mungkin buat semua orang. Selain kotor, situasi tempat kami bekerja sangat rawan bagi keselamatan kami para pemulung. Bahaya longsor yang kerap merenggut nyawa, selalu mengintai.

Belum lagi bahaya kecil seperti tertusuk paku ataupun kawat berduri. Menderita demam karena infeksi sudah biasa kami alami. Saya pernah mengalami demam hebat, gara-gara tertusuk paku. Yaaa, beberapa hari saya tak bisa kerja. Apa boleh buat, untuk makan terpaksa meminjam dulu dari Pak Dul Hadi.
 
Pekerjaan ini memang berat, tapi tak ada pilihan, karena kehidupan kami, harus terus berjalan. Enam anak saya tumbuh dan besar di lingkungan ini. 2 anak tertua telah menikah, dan mengikuti jejak kami menjadi pemulung, sementara 4 lainnya masih kecil, tinggal berdesakan di  gubuk kami yang sempit.

Saya memang tak sanggup mengangkat kehidupan mereka menjadi lebih baik. Lihatlah isteri saya. Ia sedang hamil lima bulan. Saya kasihan melihat dia. Mestinya ia tidak tinggal di tempat seperti ini, tak baik bagi pertumbuhan jabang bayi yang sedang ia kandung.
 
Tapi mau bagaimana lagi?, iapun tak keberatan membantuku mengais sampah. Biasanya ia baru mau istirahat, jika kandungannya sudah menginjak bulan ke tujuh. Entah sampai kapan kami terus begini. Pernah terlintas di benak saya mencari pekerjaan lain, karena pekerjaan ini memang tak membawa perbaikan bagi kehidupan anak-anak.

Cukuplah kami yang mengalaminya. Tapi saya bingung mau kerja apa?, saya tak punya keterampilan lain. Mau pulang kampung?, sudah tak ada lagi yang bisa diharapkan di sana. Tapi rasa itu masih terus saya pelihara dalam benak ini. Siapa tahu, ada jalan untuk kami mengubah nasib ini. (Suprie)

Bookmark and Share