HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Pengrajin Senapan Cipacing, Bergulat Melawan Kebangkrutan



Reporter : Nurfuad
Juru Kamera : Iwan Agung

indosiar.com, Bandung - Melihat kecepatan dan halusnya tekstur senapan angin ini, sepintas kita pasti mengira, bahwa senjata kaliber 4 setengah ini merupakan produk luar negeri. Senapan angin ini sebenarnya hasil pekerjaan tangan pengrajin lokal dari daerah Cipacing dan Cikeruh, sebuah kota kecamatan yang terletak 20 kilometer dari pusat kota Bandung.

Di daerah ini, hampir 80 persen penduduknya hidup dari membuat senapan angin. Ada banyak jenis senapan angin yang bisa dibuat disini, mulai senapan jenis pompa, senapan patah lop atau bsa hingga senapan gas.

Menurut Edi Suhaidi, salah seorang pengrajin, sekaligus Ketua Koperasi Bina Bhakti Senapan Angin, masyarakat Cipacing dan Cikeruh sudah membuat senapan angin sejak tahun 1964. bermula dari keterampilan mereparasi senapan, masyarakat akhirnya tertarik membuat sendiri senapan angin ini. Sejak saat itu, di Cipacing dan Cikeruh bermunculan bengkel-bengkel yang khusus memproduksi senapan angin kaliber 4 setengah. Jumlah pengrajinnya ditaksir mencapai 300-an lebih.

Hanya kurang dari dua tahun, produksi senapan angin dari Cipacing dan Cikeruh sudah berkembang sangat cepat. Wilayah pemasaran yang semula hanya seputar Jawa Barat, melebar ke seantero nusantara, dan berkat senapan angin ini pula masyarakat Cipacing dan Cikeruh menjadi masyarakat makmur, gemah ripah loh jinawi.

Sejauh itu pembuatan senapan angin produk Cipacing, sebatas masih meniru senapan angin buatan luar negeri, seperti senapan BSA merek Diana atau senapan jenis pompa merek Benjamin.

Pesatnya perkembangan produksi dan pemasaran senapan angin di Cipacing ini, tidak lepas dari kondisi sosial politik yang saat itu relatif lebih aman, disamping itu bahan baku besi dan logam masih cukup murah. Sehingga dengan modal hanya beberapa ribu saja, pengrajin bisa membuat senapan angin dengan harga jual antara 150 sampai 200 ribu rupiah. Menurut para pengrajin, dalam sebulan mereka bisa memproduksi sampai 20 pucuk senapan angin.

Tapi era keemasan itu tidak berlangsung lama, terutama setelah terpaan krisis ekonomi tahun 1997 dan bergolaknya daerah seperti Aceh, Ambon dan lain-lain. Senapan angin yang tadinya bebas diperjual belikan, saat itu mulai dibatasi ruang geraknya. Setidaknya untuk wilayah Aceh, Ambon, Kalimantan dan Sulawesi, penjual senapan angin dilarang masuk.

Padahal daerah itu merupakan jalur gemuk untuk bisnis senapan angin. Menurut para pedagang senapan, dulu sebelum ada larangan menjual senapan ke daerah konflik, dalam sebulan 500 pucuk bisa terjual, sekarang ini 100 pucuk senapan angin saja belum tentu terjual habis dalam sebulan.

Akibat adanya larangan itu, maka bisnis senapan angin lesu. Satu persatu pengrajin rontok dan terancam gulung tikar.

Seiring dengan itu, jumlah pengrajin senapan angin di Cipacing maupun Cikeruh berangsur menurun. Menurut data dari Koperasi Bina Bhakti Senapan Angin, sejak tahun 1990 jumlah pengrajin senapan angin mencapai 300 orang. Memasuki tahun 1997 berkurang menjadi hanya 240 orang dan jumlah itu terus menurun sampai awal tahun ini.

Inilah cara Idih, sang Ketua Koperasi Senapan Angin, agar ia tetap bisa bertahan, Idih harus banting tulang membuka ladang untuk menambah penghasilan. Sebab kalau hanya mengandalkan bisnis senapan angin saja, bisa dipastikan tidak cukup untuk makan. Hal yang sama juga dijalani Anan. Bapak tiga putera yang sejak awal menggantungkan hidupnya hanya di senapan, juga mulai banting stir mencari tambahan penghasilan dengan bertani.

Menurutnya, lesunya perdagangan senapan angin akhir-akhir ini tidak hanya disebabkan kondisi politik saja, tapi juga faktor harga bahan baku yang terus melambung sementara harga senapan dari dulu tetap sama.

Di masa-masa sulit seperti saat ini, para pengrajin juga mengubah pola kerjanya. Kalau dulu seorang pengrajin mampu membuat senapan secara keseluruhan. Artinya dari pengadaan tabung, popor dan lain-lain dikerjakan sendiri. Sekarang pola itu diubah, menjadi pola usaha yang bersifat spesialisasi. Misalnya, pengrajin yang spesialis membuat popor, cukup membuat popor, begitu juga dengan spesialis pembuat lop atau tabung pompa.

Contohnya Idih, sudah hampir tiga tahun ini dia hanya merangkai saja senapan jenis pir. Bahan baku pir, lop dan popor cukup memesan dari pengrajin spesialis tadi. Menurut Idih, cara ini dianggap lebih murah, mudah dan tidak banyak menyita tenaga kerja. Satu cara yang cukup cerdik dari para perajin senapan angin menghadapi masa sulit seperti saat ini.(Idh)

Video Streaming

Bookmark and Share