HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Budaya

Peninggalan Sejarah : Jejak Sejarah Bali Kuna di Pejeng



Peninggalan Sejarah : Jejak Sejarah Bali Kuna di Pejeng

Baca Juga:


Tags:

budaya bali wisata

Berita HOT:


indosiar.com, Gianyar, Bali - (Selasa, 07/05/2013) Desa Pejeng dan Gunung Kawi, Tampak Siring, Gianyar, Bali, menyimpan peninggalan sejarah Bali Kuna. Benda-benda bersejarah tersimpan di berbagai pura di Pejeng dan Gunung Kawi. Mulai dari arca bersejarah, Nekara Perunggu, hingga candi yang dipahat didinding tebing. Berikut informasinya untuk anda.

Desa Pejeng, terletak di Kecamatan Tampak Siring, Kabupaten Gianyar, Bali. Konon, Pejeng di masa lampau merupakan pusat kerajaan Bali Kuna, Pejeng Bedulu. Kata Pejeng disebut-sebut berasal dari kata Pajeng, yang berarti payung. Dari sinilah raja-raja Bali Kuna memayungi rakyatnya. Namun ada juga yang menyebutkan kata Pejeng berasal dari kata Pajang yang berarti sinar. Karena dari sinilah kecemerlangan dipancarkan ke seluruh jagat.

Warga Desa Pejeng merupakan pemeluk Hindu yang taat. Berbagai upacara keagamaan kerapkali diselenggarakan, diantaranya upacara Tawur Agung Kesanga, menjelang hari raya Nyepi.

Seperti warga Bali pada umumnya, warga Pejeng juga menjaga budaya leluhurnya. Pawai ogoh-ogoh diselenggarakan setiap menjelang hari raya Nyepi, hampir seluruh warga desa tumpah ruah menyaksikan pawai ogoh-ogoh ini.

Pada awalnya, warga Pejeng hidup dari agraris. Mereka mengandalkan mata pencarian dari bertani di sawah. Salah satu pura bersejarah di Pejeng, Pura Kebo Edan berlokasi diantara areal persawahan dan pemukiman penduduk. Sesuai namanya, di pura ini tersimpan benda peninggalan sejarah, berupa arca kerbau berjongkok.

Selain itu juga terdapat arca Bhairawa Shiwa, setinggi tiga setengah meter, yang ditunjukkan pemangku pura Kebo Edan ini. Peninggalan sejarah penting lain terdapat di pura Penataran Sasih. Lokasinya berada di Banjar Intaran, desa Pejeng, tepat di pinggir jalan utama menuju Tampak Siring.

Peninggalan sejarah di tempat ini diperkirakan telah ada sebelum Hindu masuk ke Bali, sekitar 300 tahun sebelum masehi. Atau setara dengan zaman Dongson di Cina. Sementara Hindu masuk ke Bali sekitar abad ke-8 masehi.

Peninggalan sejarah Bali Kuna lainnya adalah candi Tebing di Pura gunung Kawi Tampak Siring. Kompleks candi ini terdiri dari dua gugusan candi yang berada di sisi Sungai Pakerisan. Pada gugusan pertama terdapat 5 relief candi yang diukir di dinding tebing. Pemangku pura gunung Kawi menunjukkan lokasi candi Tebing yang berada persis disamping pura Gunung Kawi.

Di seberang sungai Pakerisan terdapat gugusan candi lainnya, yang terdiri dari empat relief candi yang juga dipahat di dinding tebing. Kompleks candi Tebing ini dibuat pada masa pemerintahan Raja Marakata, putra Raja Udayana, pada abad ke 11. Lalu dilanjutkan pada masa pemerintahan raja anak Wungsu. Makam abu raja Anak Wungsu dan Raja Udayana disebutkan berada di balik pahatan candi Tebing. Sehingga kompleks candi ini juga disebut sebagai makam dinasti Warmadewa.

Peninggalan bersejarah di Pejeng dan tampak Siring, Gianyar, Bali ini menunjukkan, wilayah ini pada zaman dahulu, memang pernah menjadi pusat pemerintahan Bali Kuna. (Tim Liputan/Sup)

Bookmark and Share