HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Perayaan Hari Raya Nyepi



Reporter : Iwan Munandar - Masudin
Cameraman : Medi Kuswadi
Lokasi : Bali & Jakarta
On air : 21 Maret 2007

indosiar.com, Ini merupakan pawai ogoh-ogoh. Pawai ini ditampilkan dalam rangkaian kegiatan perayaan hari raya Nyepi tahun baru Saka 1929, di Denpasar, Bali.

Pawai ogoh-ogoh ini digelar saat malam pengrupukan atau malam sebelum Nyepi. Ogoh-ogoh diarak keliling, dan setiap ogoh-ogoh dilengkapi sinar obor yang dibawa anak-anak. Suara khas tabuh gamelan Bali membuat suasana pawai bertambah meriah.

Menurut Ketut Suda, seorang tokoh masyarakat setempat, ogoh-ogoh merupakan simbol Bhuta Kala atau mahluk jahat. Pawai ini diharapkan dapat mengusir mahluk jahat yang akan mengusik jalannya perayaan Nyepi.

Sementara itu, ummat Hindu di Jakarta mengawali perayaan hari raya Nyepi tahun baru Saka 1929 dengan upacara Melasthi.Ini adalah kesibukan umat Hindu di Pura Segara (baca : Pure Segare), saat mempersiapkan upacara Melasthi. Pura ini terletak di tepi Teluk Jakarta. Tepatnya di kawasan Cilincing, Jakarta Utara.

Bagi umat Hindu, Melasthi merupakan kesempatan untuk membersihkan diri, dan intropeksi diri selama satu tahun.

Berbagai sesaji ini merupakan pencerminan dari manifestasi dewa dalam kehidupan manusia di jagat raya. Bentuk sesaji dihias seindah mungkin, namun disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Melasthi diawali dengan sembahyang. Dalam kesempatan ini ummat Hindu memohon keselamatan, agar kehidupan yang dijalani mendapatkan kebahagiaan.

Dalam agama Hindu dipercayai, di laut ada intisari kehidupan. Karena itu, peringatan ini juga memiliki tujuan memohon air suci untuk menyucikan diri. Memohon kepada Tuhan dalam perwujudannya sebagai Dewa Baruna penguasa samudera agar memberi ketenangan kepada umat.

Menjelang tengah malam, upacara Melasthi hampir mencapai puncaknya. Rombongan kecil ini adalah perwakilan dari masing-masing wilayah di Jakarta untuk mengambil air suci, atau Tirtha Amartha, yang berada di tengah laut.

Air suci nantinya akan dibagikan kepada masing-masing umat yang ada di Jakarta, untuk dipergunakan dalam kegiatan spiritual. Keesokan harinya, terlihat kesibukan di Pura Aditya Jaya, yang terletak di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur.

Di tempat ini akan berlangsung Tawur Agung, yang juga merupakan rangkaian dari upacara Hindu sebelum melaksanakan Nyepi.

Tawur Agung adalah upacara korban suci bagi Buta Yadnya, atau mahluk halus yang dipercayai oleh umat Hindu mempunyai kekuatan khusus. Sebelum mengikuti prosesi Tawur Agung, umat Hindu yang datang ke pura ini melakukan sembahyang.

Dalam upacara ini, dipersembahkan berbagai sesaji, berupa hewan, palawija, serta hasil bumi lainnya yang merupakan bahan pangan.

Ini adalah caru. Sesaji yang dipersembahkan bagi butakala, yang dipercaya sebagai sarana untuk menjauhkan manusia dari kekuatan di luar manusia yang bersifat negatif, mengganggu, atau merusak manusia.

Upacara yang dipimpin oleh tiga Paninhdita, atau Pendeta Hindu ini, dilanjutkan dengan melakukan persembahyangan bersama di halaman pura.

Prosesi ini merupakan perlambang untuk membersihkan diri manusia dari segala hal-hal buruk menjelang melakukan Nyepi pada keesokan harinya. Nyepi sendiri merupakan upacara untuk menyambut tahun baru Saka.

Saat pergantian tahun baru Saka umat Hindu menyambutnya dengan suatu brata, atau latihan spiritual pada saat hari raya Nyepi,

Empat Brata Nyepi yang lazim di kalangan umat Hindu disebut catur brata, yang meliputi amati geni, amati karya, amati lelungan,dan amati lelangun.

Amati geni secara leksikal berarti tidak menyalakan api. Amati karya berarti tidak melakukan aktivitas atau kerja. Dan amati lelungan berarti tidak keluar rumah atau bepergian. Sedangkan amati lelangun berarti tidak menikmati kesenangan. (Helmi Azahari/Sup)


Bookmark and Share