
indosiar.com, Parung - Inilah pekerjaan Kanta sehari-hari. Menangkap belut. Berbeda dengan penangkap belut lainnya yang menggunakan pancing, jebakan dari bambu, atau ngobor di malam hari, Kanta, warga Desa Cibentang, Parung, Bogor, Jawa Barat yang telah berusia 50 tahun ini justru melakukannya dengan tangan kosong.
Dia sengaja mencari belut pada siang hari. Karena sarang belut lebih mudah dilihat. Menangkapnya pun tidak terlalu sulit. Dia hanya menelusuri jejak belut yang lubangnya sudah diketahui, dan menangkapnya dengan tangan.
Walaupun terlihat mudah, menangkap belut dengan tangan kosong memerlukan keahlian tersendiri. Kalau tidak, bisa-bisa yang ditangkap bukan belut tetapi ular atau kepiting. Lubang belut memang mirip dengan lubang sarang ular dan kepiting. Karena telah berpuluh tahun menjadi penangkap belut, Kanta sangat paham membedakan antara lubang belut, ular dan kepiting. Meski demikian, pernah sekali waktu dia mendapati lubang yang salah.
Semula diduganya lubang belut, namun setelah ditelusuri ternyata sarang ular sawah. Untungnya, ular tersebut tidak berbisa, sehingga tidak membahayakan jiwanya, meskipun tangannya terkena gigitan. Ciri lubang belut keluar pasir dan bersih. Sementara lubang ular, biasanya berisi tanah. Sedangkan lubang kepiting umumnya besar.
Kanta menangkap belut selama 4 sampai 5 jam setiap hari. Biasanya dia berhasil mendapatkan 2 sampai 4 kilogram belut.Belut hasil tangkapannya selain dimakan bersama keluarga juga dijual, kepada penduduk atau warga sekitar kampung. Bila hasil tangkapannya berlebih, dia menyimpannya di tempat penampungan.
Belut hasil tangkapan Kanta dijual seharga 15 ribu sampai 20 ribu rupiah perkilogram. Kanta juga kerapkali mendapat pesanan belut, dalam jumlah besar, dari Jakarta dan sekitarnya.
Belut hasil tangkapan Kanta memang belut spesial, karena merupakan belut liar yang berkembang biak di alam lepas, bukan hasil budi daya.
Keterampilan menangkap belut diwarisi Kanta dari ayahnya, yang juga ahli menangkap belut. Meskipun sejak kecil dirinya telah terbiasa menangkap belut, Kanta semula tidak menjadikannya sebagai mata pencarian.
Dia awalnya bekerja sebagai buruh tani, sebagaimana warga Desa Cibentang, Parung lainnya, pasalnya Kanta tidak memiliki sawah yang luas. Ia hanya memiliki sedikit kebun di sekitar areal rumahnya.
Pada tahun 1976, Kanta juga pernah mengadu nasib di Jakarta sebagai pedagang dan tukang becak. Namun selama tiga tahun di Jakarta hasil yang didapat tidak mencukupi.
Akhirnya dia pulang ke Desa Cibentang, kembali menjadi buruh tani, dan beternak. Karena pekerjaannya sebagai buruh tani juga tidak mampu menopang hidup keluarganya, dia pun banting setir menjadi penangkap belut.
Hidup bagi Kanta dan keluarganya sangat sederhana, bagaimana bisa mencari makan untuk hari ini dan menyekolahkan anaknya. Karena keterbatasan biaya, anak-anaknyapun hanya sempat mengeyam pendidikan tingkat dasar. Di rumahnya yang sederhana, Kanta kini tinggal bersama istri, sebagian anak-anaknya, dan cucu.
Kanta kini masih dapat hidup tenang, namun seiring dengan pesatnya pembangunan pemukiman yang juga merambah wilayah Parung tempat tinggalnya, mata pencarian Kanta menjadi terancam.
Bila sawah telah berubah menjadi pemukiman, belut liar tak akan ada lagi, karena tidak ada tempat untuk berkembang biak. Jika sudah demikian, makaKanta juga akan kehilangan sumber mata pencarian. (Sup)