HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
RAGAM

Perjuangan Pencari Cacing



Reporter : Ahmad Baehaqi
Juru Kamera : Medi Kuswadi
Lokasi: Tangerang, Banten
Tayang: Rabu, 31 Januari 2007, Pukul 12.00 WIB

indosiar.com – Cacing, bagi sebagian orang merupakan binatang yang menjijikkan. Namun tidak bagi warga pinggiran sungai Cisadane, Tangerang, Banten. Karena dari cacing inilah mereka mencari nafkah.

Cacing yang dicari adalah cacing sutra. Biasanya hidup di air kotor. Cacing diambil dari dasar sungai sedalam 5 meter. Bila rezeki lagi lancar, dalam sehari para pencari cacing ini bisa memperoleh uang hingga 100 ribu rupiah.

Kampung Tanah Gocap terletak di Tangerang, Banten. Sekitar seratus warga di kampung ini bermata pencaharian sebagai pencari cacing. Mereka hidup dan tinggal di bantaran sungai Cisadane.

Paing, kakek tiga orang cucu yang telah berusia 60 tahun asal Brebes Jawa tengah ini telah sepuluh tahun menekuni usaha mencari cacing. Dia termasuk sukses menjalankan usaha ini, dan telah memiliki puluhan anak buah.

Sebelum mencari cacing, Paing menyiapkan alat berupa bambu sepanjang 15 meter, jaring kecil, serta bak plastik. Dia mengayuh perahu sendiri mencari lokasi yang banyak cacingnya. Paing sudah sangat mengenal lokasi yang banyak cacingnya, yakni air sungai yang tenang dan banyak lumpur.

Dari atas perahu dia mengais lumpur di dasar sungai dengan jaring bertangkai bambu.
Namun kali ini tidak banyak cacing yang terjaring. Musim hujan mengakibatkan permukaan air tinggi dan arus deras. Paing pun memutuskan menyelam untuk mengambil cacing di dasar sungai, dengan kedalaman 5 hingga 10 meter.

Mencari cacing memiliki resiko. Bahkan nyawa taruhannya. Bila air sungai tiba-tiba meluap dan deras, pencari cacing bisa tenggelam. Selain itu, ancaman datang dari lintah dan ular berbisa. Cacing yang diperoleh kemudian dibersihkan di pinggir sungai sungai dengan bantuan sang istri.

Cacing yang diambil diayak dengan menggunakan jaring sehingga campuran lumpurnya hilang. Setelah itu dimasukkan kedalam karung atau bak. Kemudian ditebar di bak penampungan, lalu dicuci, dan direndam air. Setelah itu disekap selama dua jam. Setelah bersih, cacing siap dijual.

Harga cacing sutra per gayung sekitar 5 ribu rupiah.Bila terdapat sisa cacing yang tidak laku terjual, biasanya dimanfaatkan untuk makanan ikan lele.

Semua isi alam diciptakan Tuhan pasti ada gunanya. Begitu juga cacing. Binatang yang sekilas tampak menjijikkan ini, ternyata juga dapat menjadi rezeki bagi sebagian orang. (Irianto Mahani/Suprie)

Bookmark and Share


Page: 1
22-Feb-2007 06:48:05 WIB by yono
bisa minta alamat lengkap pencari cacing sutra gak
14-Feb-2007 14:22:08 WIB by AL-Pacitan
ALLAAHUAKBAR, SUBHANALLAH....SALUT & Salam Hormat-ku padamu wahai para Pencari cacing...kalian semua Jauh Lebih TERHORMAT dari pada Para Pejabat yg Suka KORUPSI....sesungguhnya yg AMAT SANGAT Menjijik-kan mereka semua para KORUPTOR, Bukan Cacing...Salam, AL-Pacitan
9-Feb-2007 02:16:06 WIB by malu-maluin
Bagus-Bagus sekali..apa lagi kalo kita kasih sama si Boss yang ditahan di Brimob.dia tidak ditahan di Cipinang.Takut kali...Dasar tukang korupsi lu Mr Lindung..
3-Feb-2007 19:17:55 WIB by Heryanto
Rubrik ini sanggat bagus sekali, menjadikan pembelajaran kita bahwa Tuhan menciptakan tidak sia-sia,.......meskipun hanya sebuah cacing sutra yang sangat kecil.

 

Nama:
Email:
Security Code: