
indosiar.com, Magelang - Malam Kamis di lereng gunung Merapi. Udara di dataran tinggi ini sangat dingin menusuk kulit. Namun umat Katolik di Stasi Lor Senowo tetap datang ke Gereja Gubug Selo Merapi. Mereka akan mengikuti misa Kamis Putih.
Satu-persatu umat berdatangan. Ada yang berjalan kaki. Muncul dari kegelapan jalan, diantara pematang sawah. Ada juga yang menggunakan kendaraan umum. Sebagian orang mempersiapkan makanan, nasi dan lauk pauk untuk makan bersama saat acara peribadatan selesai. Semua orang sibuk mempersiapkan misa.
Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, hari Kamis menjadi hari terakhir bagi Yesus makan bersama para murid-muridnya. Peristiwa ini dikenal dengan peristiwa perjamuan terakhir. Hari dimana Yesus menyampaikan pesan untuk saling mengasihi kepada murid-muridnya.Yesus yang mengetahui saatnya hampir tiba, juga meminta agar peristiwa itu diperingati, untuk mengenang karya penebusannya.
Bagi umat di Stasi Lor Senowo yang kehidupannya sederhana, pesan kasih ini tidak hanya diterima sebatas mengasihi sesama manusia. Namun juga mengasihi seluruh alam yang mendukung kehidupan.
Misa Kamis Putih di Gereja Gubug Merapi di bawakan dalam Bahasa Jawa. Begitu pula lagu-lagu pujian, diiringi musik gamelan. Musik tradisional yang menyatu dengan budaya dan tradisi orang Jawa.
Suara pesinden yang melantunkan pujian kemuliaan bagi Tuhan, mengalun disela bunyi alat musik gamelan. Alat musik yang biasa dimainkan pada hajatan-hajatan besar orang Jawa.
Meski dilaksanakan dalam tradisi yang sama sekali berbeda dari tempat asalnya, dalam bahasa yang hanya dimengerti satu suku saja, namun pesan mendasar peringatan perjamuan terakhir, tetaplah sama. Pesan untuk saling mengasihi dan melayani.
Misa yang dibawakan pastur dalam Bahasa Jawa membuat umat mudah meresapi makna Kamis Putih. Dengan ketekunan dan suasana tenang, para petani yang sederhana ini kembali mengenang saat terakhir sang guru di tengah muridnya.
Entah bagaimana mereka menghayati kesedihan Yesus yang akan meninggalkan murid-muridnya terkasih, lalu membiarkan diri disesah sampai mati dikayu salib, oleh orang-orang yang dipenuhi rasa iri dan dengki. Malam dimana Yesus sendiri tahu, murid-muridnya akan berserak dan ketakutan. Sebuah beban berat harus ditanggungnya demi sebuah pembuktian. Bukti tentang kasih.
Selama ribuan tahun pesan kasih ini diturunkan pada setiap generasi baru Katolik. Yesus mengajarkan untuk saling mengasihi dan melayani. Pesan ini disampaikan melalui upacara pembasuhan kaki.
Sebuah tindakan yang dilakukan seorang guru kepada muridnya. Tindakan yang mengisyaratkan kerendahan hati dan rasa cinta. Seorang pemimpin seharusnya tidak hanya dilayani, namun juga melayani.
Ada banyak peristiwa kehidupan yang menarik manusia semakin jauh dari kasih. Peringatan malam Kamis Putih menjadi momen bagi umat Katolik untuk selalu kembali kepada kasih.
Hanya di dalam kasihlah kehidupan akan berlangsung damai. Seperti yang selalu diinginkan setiap orang, juga oleh umat yang malam itu duduk di Gereja Gubug Selo Merapi.
Rangkaian upacara dengan nuansa yang menghadirkan ciri kehidupan para petani di lereng gunung merapi ini dilanjutkan pada kisah sengsara Jumat Agung hingga puncaknya perayaan malam paskah. (Helmi Azahari/Suprie)