HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
RAGAM

Petani Garam Merajut Asa



Reporter : Sudrajat
Juru Kamera : Iwan Agung
Tayang : Rabu, 14 Desember 2005, Pukul 12 WIB.

Garam. Sebenarnya mengandung banyak manfaat. Garam dipercaya dapat membantu gerak syaraf, menggerakkan otot, dan menjaga keseimbangan cairan tubuh. Namun dibalik manfaat garam, selama bertahun-tahun petani garam menjerit. Harga garam tak pernah stabil.

Sebut saja Gozali. Seorang bapak dengan tiga putra. Lebih dari 5 tahun, ia menjadi petani garam di Desa Kanci, Cirebon. Seperti halnya petani garam lainnya, pagi buta Gozali sudah bersiap diri berangkat ke ladang. Dengan sepeda miliknya satu-satunya, ia berangkat menuju ladang garam garapannya, menempuh jarak sejauh 4 KM.

Diantara petak tambak garam, terlihat puluhan kincir angin terbuat dari kaleng bekas. Berputar kencang, mengeluarkan bunyi gemuruh. Meski kincir angin ini teramat sederhana penampilannya, namun sungguh besar fungsinya. Bahkan bisa dibilang vital, untuk mengalirkan air laut ke petak-petak tambak. Dengan bantuan panas matahari, diubah menjadi butiran kristal berwarna putih yang disebut dengan garam.

Di Desa Kanci ini, terdapat 3 kelompok petani garam. Petani garam yang menggarap tambak miliknya sendiri. Petani garam yang menyewa tanah dengan harga sewa Rp 500 ribu setahun dan petani garam yang menggarap tambak milik orang lain dengan hasil dibagi dua. Gozali masih dalam kelompok petani penggarap, yang sangat bergantung pada hasil setelah dibagi sama besar dengan pemilik tambak.

Alam menjadi faktor penentu nasib petani garam. Jika hujan, dipastikan air laut tak akan menghasilkan garam. Sebaliknya jika cuaca panas, kegembiraan terpancar dari raut wajah petani garam. Proses air laut menjadi garam membutuhkan waktu paling lama 5 hari.

Saat musim garam langka, antara bulan Juni hingga Oktober, harga garam Rp 100 perkilogram. Jika satu hektar tambak garam mampu menghasilkan 1 ton garam krosok, praktis petani garam memperoleh Rp 100 ribu. Setelah dipotong Rp 50 ribu untuk pemilik tambak dan upah kuli kocok, penggarap tambak paling banter membawa pulang uang sebesar 30 hingga 35 ribu rupiah.

Namun saat masuk musim panen bulan Nopember, harga garam anjlok drastis menjadi 40 hingga 60 rupiah perkilogram. Kerja keras mereka dibawah terik matahari, begitu tak dihargai. Kondisi seperti ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Harga garam tak pernah stabil, akibat ulah tengkulak yang dengan seenaknya mematok harga.

Ketidak stabilan harga inilah yang menjadi kegelisahan para petani garam. Sejauh ini, tak ada petani garam yang menikmati hidup sejahtera dari hasil garam.

Di Desa Kanci, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, kurang lebih ada 200 petani garam, menggarap lahan seluas 390 hektar lebih. Harga garam yang stabil menjadi satu-satunya harapan para petani garam, yang mengandalkan air laut sebagai sebagai sumber kehidupan keluarga. Entah sampai kapan harapan mereka terwujud.(Idh)

Bookmark and Share


Page: 1
28-Dec-2005 22:54:04 WIB by jekson agus S
Contoh di atas dapat mewakili beberapa permasalahan di bidang pertanian terutama yang menyangkut bahan pertanian untuk kesehatan dan juga untuk kebutuhan sehari-hari yang tidak dapat lepas dari kehidupan kita misalkan saja nasi.
Menurut saya, sebaiknya para petani harus dibantu dengan memiliki beberapa pengetahauan mengenai teknologi yang turut berperan serta untuk meningkatkan hasil panenannya. untuk itu para petani perlu diberikan beberapa pengetahuan mengenai hal itu, cara untuk itu yang lebih efektif adalah memberikan penyuluhan di desa2.
siapa2 saja yang memberikan penyuuluhan? jawabannya selalu melibatkan peran serta para peneliti terutama bagi para mahasiswa, sehingga ada timbal balik yang saling menguntukan antara mahasiswa dengan para petani, dimana mahasiswa dapat melihat, menerapkan pengetahuan mereka di lapangan sehingga mahasiswa dapat lebih mengembangkan teknologi yang lebih baik lagi. disamping itu juga perlu adanya peran serta dari berbgaia lembaga yang terkait untuk melakukan berbagai penyuluhan dan berbagai pengembangan teknologi.
Intinya untuk dapat menilai baik tidaknya hasil pertanian tersebut harus selalu mengikutkan civitas akademik.

Pengomentar:
mahasiswa Fakultas Teknologi Industri Pertanian - UNPAD
14-Dec-2005 15:32:02 WIB by 45.2.W
artikelnya ckp bagus n tolong ditambah lagi spy lebih bagus

 

Nama:
Email:
Security Code: