HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Pisang Abaka, Tumpuan Masyarakat Essang



Reporter : Asep Syaifullah
Juru Kamera : Dedi Suhardiman
Tayang: Rabu, 09 Agustus 2006, Pukul 12.00 WIB

indosiar.com, Sulawesi Utara - Kepulauan Talaud terletak di bagian paling utara Pulau Sulawesi. Kepulauan ini dihuni hampir 800 ribu jiwa. Untuk mencapai Kepulauan Talaud memerlukan waktu sehari semalam menggunakan kapal motor dari Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara.

Pulau ini memiliki berbagai potensi produk perkebunan. Salah satu diantaranya pisang abaka. Budi daya pisang abaka banyak dilakukan warga di Kecamatan Essang. Untuk mencapai Essang tidak mudah.

Bila kondisi ombak sedang tidak bersahabat pada bulan Juli dan Agustus, satu-satunya cara yang paling aman menuju Essang menggunakan sepeda motor yang dapat ditempuh dalam waktu 5 jam. Penduduk Essang tidak begitu banyak. Hanya sekitar 220 keluarga. Mereka sebagian besar berkebun pisang abaka.

Pisang abaka tumbuh subur di sekitar kuala atau sungai Essang. Untuk mencapai lokasi perkebunan hanya dapat dilakukan dengan menggunakan perahu kecil.

Pisang abaka mulai ditanam secara massal oleh penduduk Essang pada tahun 1988 lalu, dan pernah mencapai masa kejayaan pada tahun 2000.

Pisang abaka sudah tumbuh di wilayah ini sejak zaman dahulu. Para leluhur penduduk Essang saat itu menggunakan kulit pisang abaka sebagai bahan penutup badan. Sementara buah pisang abaka dapat digunakan untuk mengobati penyakit jantung dan darah tinggi.

Kini pisang abaka ditanam penduduk karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Secara sepintas, pohon pisang abaka tidak berbeda dengan pisang jenis lainnya. Namun hampir seluruh bagian pohon pisang abaka memiliki nilai ekonomi.

Menurut Max Patone, Wakil Kepala BKPMUD Talaud, kulit pohon pisang abaka dijadikan serat untuk bahan baku pakaian dan uang kertas dolar. Selain itu juga dapat diolah menjadi jaket anti peluru dan jok mobil. Sementara daunnya dapat diolah menjadi tisu.

Pisang abaka terdiri 2 jenis, yaitu abaka putih dan abaka merah. Yang memiliki kualitas terbaik adalah pisang abaka merah.

Proses pengolahannya dilakukan dengan cara sangat sederhana dan tradisonal. Batang pisang abaka setelah dipotong, diambil kulitnya. Kemudian dilembutkan dengan kayu dan diambil seratnya.

Menurut Ester Lin Panaha, pemilik kebun pisang abaka, pada tahun 2000 lalu dirinya pernah merasakan kejayaan pisang abaka. Saat itu para pembeli datang membeli pohon pisang abaka sebesar Rp 7.500 per batang.

Sayangnya masa kejayaan pisang abaka di Essang telah berlalu. Ratusan pohon pisang memang masih tumbuh subur. Namun pemanfaatannya tidak lagi optimal. Untuk memanfaatkan pohon pisang abaka yang melimpah, penduduk Essang kini mengolahnya menjadi produk kerajinan, seperti tas dan topi.

Masyarakat Essang berharap pemerintah daerah setempat membantu pemasaran pisang abaka dan produk olahannya ke luar pulau. Dengan demikian potensi pisang abaka dapat dimanfaatkan secara maksimal, untuk meningkatkan pendapatan warga. (Sup)

Bookmark and Share