
indosiar.com, Bogor - Rambutan merupakan buah-buahan yang banyak digemari. Apalagi rambutan semacam ini yang rasanya manis, berdaging tebal dan ngelotok.
Sekilas rambutan ini tidak ada bedanya dengan rambutan lainnya. Namun ini bukan rambutan biasa, melainkan rambutan varietas unggulan yang dapat dipanen di segala musim.
Di kebun Pusat Kajian Buah Tropika Institut Pertanian Bogor seluas lima hektar di kawasan Tajur, Bogor, Jawa Barat inilah pohon rambutan varietas unggulan ditanam.
Di tempat ini terdapat sekitar 200 batang pohon rambutan yang telah berusia 13 tahun. Pohon rambutan ini tergolong istimewa, ukuran buahnya cukup besar, ngelotok dan berdaging tebal. Sedangkan rasanya manis dengan sedikit rasa asam.
Menurut Prof Dr. Roedhy Poerwanto, MSC, Peneliti Pusat Kajian Buah-buahan dan Tropika IPB, agar buahnya memuaskan, pohon rambutan harus ditanam dan dirawat dengan teknologi khusus. Bibitnyapun harus unggulan. Yang terbaik adalah rambutan jenis Binjai.
Pohon rambutan yang baik adalah yang batangnya kokoh, dan tahan terhadap kekeringan. Karena itu pokok batangnya dipilih dari rambutan jenis si nyonya. Sedangkan cabang buahnya diambil dari rambutan Binjai yang ditempel dengan cara okulasi.
Penempelan cabang dilakukan sejak pohon rambutan masih berupa bibit. Pertama-tama, mata cabang rambutan Binjai dikupas dengan pisau. Pokok batang rambutan si nyonya juga dikupas pada bagian mata cabangnya. Kemudian mata cabang rambutan Binjai ditempelkan di pokok batang rambutan si nyonya dan dibalut dengan plastik.
Setelah bibit pohon rambutan berumur 2 bulan, barulah ditanam ke tanah yang telah diberi pupuk dengan jarak antar tanaman 5 hingga 10 meter. Pohon rambutan berbuah setelah berusia dua tahun.
Walaupun buahnya belum begitu banyak. Seperti pohon rambutan ini. Agar dapat berbuah di segala musim, pohon rambutan harus mendapat perlakuan khusus, dengan menggunakan teknologi ringing disertai aplikasi zat pemecah dormansi.
Penerapan teknologi ini tidak sulit. Pokok batang rambutan dibuat lingkaran dan dikupas kulitnya setebal 1 centimeter. Kemudian ditutup dengan menggunakan selotip hitam.
Setelah dibiarkan selama satu hingga dua bulan, luka sayatan di kulit pokok batang rambutan akan sembuh. Saat inilah disemprotkan zat kalium nitrat sebagai pemecah dormansi.
Teknologi yang dikembangkan Pusat Kajian Buah Tropika IPB ini telah diakui di dunia internasional.
Rambutan memang enak rasanya. Namun akan lebih enak lagi, bila bertani rambutan dapat menjadi usaha yang menguntungkan. Karena pasarnya akan tetap ada, selama rasa buahnya manis, sesuai harapan semua orang. (Suprie)