HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Rastini dan Harapannya



Reporter : Astrid Farma Putri
Kameramen : Joni Suryadi
Tayang: Jumat, 29 Desember 2006, Pukul 12.00 WIB

indosiar.com, Tangerang - Wanita ini bernama Rastini. Ia tinggal di Kompleks Rumah Sakit Kusta Sitanala, Tangerang. Mereka berada di lingkungan ini karena Solehudin, suaminya, dulu seorang  penderita kusta. Untunglah, suaminya sudah sehat,bahkan kini sudah bisa mencari nafkah buat keluarga, dengan menjadi penarik becak.

Rastini sendiri penyandang cacat tubuh. Lihatlah kaki kanannya yang terpotong. Menurut Rastini, kakinya jadi begini gara-gara dulu, 10 tahun lalu, kaki kanannya tertusuk paku.

Tidak adanya biaya, membuat proses penyembuhan terbengkalai sampai kemudian kakinya membusuk. Dokter yang merawat meminta ia merelakan kakinya diamputasi, agar pembusukan tidak menjalar ke seluruh tubuh.
  
Rastini mengaku ikhlas kakinya diamputasi, demi kelangsungan hidup, terutama untuk anak-anaknya yang masih kecil dan membutuhkan kehadirannya. Demikian pula dengan suaminya, walau semuanya sempat bingung.
    
Perlahan, ia mulai membiasakan diri hidup dengan kaki sebelah. Awalnya ia mencoba berjalan dengan menggunakan tongkat, tapi itu tak lama, geraknya terasa lamban dan serba terbatas. Tongkatpun ia simpan dan mulai berlatih, berjalan dengan lutut. Tapi keinginan untuk hidup normal terus ia simpan. Siapa tahu, kelak bisa seperti saat masih memiliki kedua kaki utuh, berkeliling menjajakan makanan kecil.
  
Banyak tetangga yang menyarankannya  menggunakan kaki palsu saja. Siapa yang tak mendambakan alat itu?. Apalagi orang cacat seperti dirinya.
 
Tapi harganya yang mahal membuat mereka, hanya bisa membayangkan saja alat itu. Mereka tak berani memikirkannya, apalagi untuk membelinya. Sangat jauh dari kenyataan. Untuk makan sehari-hari saja mereka bertumpu pada hasil kerja suami.
  
Kini Rastini dan suaminya hanya bisa pasrah pada yang kuasa. Tapi ia masih percaya Tuhan selalu baik kepada umatnya, termasuk kepada dirinya.
 
Kadang, menurut Rastini, ia melamun membayangkan bisa berjalan dengan kaki palsu, dan untuk menunjang keseharian ia bisa seperti dulu lagi, berjualan makanan, di dekat rumahnya. Ia berharap ada yang berkenan membantu mewujudkan impiannya itu, demi kelangsungan hidup, terutama anak-anak mereka. (Suprie)
  
Bookmark and Share