
indosiar.com, Jakarta - Ini merupakan aksi topeng monyet pimpinan Edi. Bintangnya bernama Nangsi, seekor monyet betina berusia satu tahun. Keterampilannya cukup banyak. Seperti mendorong becak.
Dan naik sepeda motor. Selain itu, Nangsi juga bisa berdandan. Lain lagi dengan aksi topeng monyet pimpinan Wira ini. Monyetnya bernama Dewi. Dia bisa menirukan gerakan sholat. Memberi hormat.
Dan meniru gerakan tentara saat berperang. Rombongan topeng monyet ini tinggal di kawasan Perumpung, Jati Negara, Jakarta Timur.
Setiap hari, mereka berkeliling, menghibur warga Jakarta. Penontonnya kebanyakan anak-anak. Karena itu, kedatangan rombongan topeng monyet selalu disambut gembira oleh anak-anak.
Kegembiraan anak-anak ini menjadi rezeki bagi rombongan topeng monyet. Uang saweran dari warga merupakan sumber nafkah mereka menghidupi keluarga.Seperti halnya rombongan topeng monyet pimpinan Edi, asal Cirebon, Jawa Barat ini.
Dia berangkat pagi-pagi sekali dengan membawa monyet sewaan, menyusuri komplek perumahan di kawasan Jakarta, dengan berjalan kaki.
Di dalam rombongan topeng monyet ini, selain sebagai pimpinan, Edi bertugas sebagai penabuh gendang. Sedangkan Ajo, bertugas sebagai pemukul kening, dan Minto bertugas bagai pengarah gaya alias dalang.
Hidup di Jakarta bagi Edi yang hanya tamat SMP ini tidak banyak pilihan pekerjaan. Topeng monyet merupakan usaha yang ditekuni keluarganya turun temurun.Pendapatannya sehari antara seratus hingga dua ratus ribu rupiah. Hasilnya dibagi tiga, setelah di potong uang makan dan sewa monyet serta peralatannnya.
Lain halnya dengan Tukimin. Walau sama- sama mendapat rezeki dari monyet, Tukimin hanya menyewakan monyetnya saja, alias sebagai bandar topeng monyet.
Di rumahnya di kawasan Perumpung di dekat tepian kali Cipinang, Jakarta Timur, Tukimin melatih sejumah monyet liar untuk menjadi monyet pentas. Kini dia memiliki 15 ekor monyet yang disewakan. Tukimin, kakek berusia 65 tahun ini, menjadi bandar topeng monyet sejak 7 tahun lalu.
Di kawasan Perumpung, Jakarta Timur ini, sedikitnya terdapat 150 warga yang sehari harinya mencari nafkah sebagai tukang topeng monyet, dengan lima orang bandar topeng monyet.
Memelihara monyet pentas harus dengan kasih sayang. Karena jika dilatih dengan kasar, monyet akan menjadi galak. Dalam sehari, monyet diberi makan 3 kali. Makanannya mulai dari nasi hingga buah-buahan. Untuk penambah tenaga, monyet diberi susu dan minuman khusus.
Seperti halnya monyet bernama Paul ini, setiap hari dia biasa minum susu dan minuman bersoda. Rumah Tukimin bagaikan asrama penampungan monyet. Mereka di latih berjalan tegak. Memainkan ayunan. Hingga melompat dan salto.
Untuk menjaga kebersihan badannya, monyet dimandikan minimal satu kali dalam sehari. Tidak setiap hari monyet-monyet ini disewakan. Pada hari Senin atau Jumat istirahat. Saat hari istirahat inilah, sang monyet dilatih berbagai atraksi yang menghibur.
Topeng monyet merupakan salah satu contoh upaya manusia memanfaatkan hewan untuk mencari makan. Hidup di Jakarta memang tidak mudah, inilah salah satu cara untuk mencari nafkah di Kota Metropolitan. (Helmi Azahari/Sup)