
indosiar.com, Karanganyar -
Sesaji ini harus berasal dari kerbau yang masih perjaka dan belum pernah dipekerjakan. Misalnya untuk membajak sawah atau untuk menarik pedati.
Uniknya, darah segar yang keluar dari kepala kerbau ini harus disertakan sebagai sesaji. Jika syarat dilanggar, niscaya bukan ketentraman yang diperoleh, melainkan malapetaka dan berbagai bencana akan datang silih berganti.
Ritual ini biasanya digelar menjelang bulan Maulid. Namun tahun, ini dimajukan karena banyaknya bencana yang terjadi seperti banjir, tanah longsor, angin ribut.
Ritual sekaligus untuk memohon kepada Tuhan agar melindungi keraton Kasunanan Surakarta. Ritual diawali dengan memasang setangkai bunga matahari dibawah pohon besar.
Menurut Humas Keraton Kanjeng Raden Haryo Tumenggung (KRHT) Bambang Pradoto Naggoro, Hutan Krando Wahono ini diyakini sebagai titik utara mata angin keraton Surakarta. Dengan sesaji dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa, bencana yang biasanya datang dari titik ini bisa dihalau.
Selain kepala kerbau, sejumlah sesaji lain adalah ingkung ayam, serta bermacam sayur seperti opor dan sambel goreng. Kecuali kepala kerbau serta darah segar yang ditanam ditempat ritual, sesaji yang berupa makanan selanjutnya disantap bersama sama. (Ganuk Nugroho Adi,Her/Sup)