
Ritual mandi Safar warga Gili Trawangan ini dimulai dengan pemberian sajian makanan yang ditaruh dalam dulang oleh setiap kepala keluarga. Masing-masing dulang yang disumbangkan kepala keluarga ini harus berisikan makanan sehari-hari dan makanan wajib seperti ketupat, bubur merah, serta buah-buahan.
Makanan-makanan tersebut kemudian disiapkan warga untuk memakan bersama dan diikuti oleh seluruh tamu tidak terkecuali para wisatawan yang ikut hadir.
Prosesi ini merupakan pertanda seluruh warga diwajibkan untuk mencebur ke laut tanpa kecuali. Bagi mereka yang tidak menceburkan diri, maka kewajiban warga lain untuk mengotong dan menceburkannya ke laut. Bahkan wisatawan asing pun ikut diceburkan ke laut.
Prosesi mandi Safar ini menurut tokoh adat Gili Trawangan adalah tradisi warisan nenek moyang warga Gili Trawangan yang berasal dari Bugis. Bagi warga, mandi Safar ini merupakan ritual untuk meminta kepada Sang Kuasa agar terhindar dari bahaya, penyakit dan mensucikan diri dari dosa dengan menceburkan diri ke laut.
Selain sebagai acara ritual, kini prosesi mandi Safar juga dijadikan alat untuk memberikan hiburan bagi wisatawan asing yang berlibur ke Gili Trawangan. Bahkan oleh warga, mandi Safar ini juga dirangkaikan denga pelepasan penyu yang cukup menarik minat wisatawan untuk ikut serta dalam prosesi ini. (Agus Zaeroni/Sup/Ijs)