HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Rongsokan Tongkang dan Besi Tua



Berita HOT:

Berkah Buat Pengusaha Besi Tua

Reporter : Ninok Haryani
Juru Kamera : Joni Suryadi

indosiar.com, Jakarta Utara - Jika anda berkunjung ke kawasan pantai di daerah Pengasingan, Jakarta Utara, anda akan melihat kapal dan tongkang rongsokan bersandar disana. Tentu saja bukan untuk menunggu penumpang, tapi kapal besar tersebut akan dipotong-potong, untuk selanjutnya akan didaur ulang. Besi potongan kapal ini dijual ke pabrik peleburan besi, keuntungannya bisa mencapai milyaran rupiah.

Bagi sebagian orang, rongsokan tongkang dan kapal-kapal tua ini, mungkin tak ada artinya. Namun bagi pengusaha besi tua, rongsokan tongkang dan kapal tua tersebut bagai emas. Bisa menghasilkan uang setiap saat dibutuhkan. Jika pandai berhitung bisnis, besi tua bisa mendatangkan keuntungan milyaran rupiah.

Menekuni bisnis besi tua dari tongkang atau kapal yang sudah tidak layak berlayar lagi, selain membutuhkan modal ratusan juta rupiah juga memiliki seni tersendiri. Perhitungan yang cermat, kelihaian menaksir bagian-bagian kapal atau tongkang yang mempunyai nilai jual ikut menentukan untung rugi bisnis ini.

Jika salah menaksir bisa-bisa modal ratusan juta rupiah melayang begitu saja. Tak hanya itu, naluri bisnis pun ikut berperan seperti usaha besi tua milik Haji Sidik dikawasan Pengasingan, Cilincing, Jakarta Utara. Selain berbekal pengalaman, Haji Sidik masih mengandalkan nalurinya.

Tongkang tua ini misalnya, DWP atau beratnya sesuai surat jalan mencapai 12 ribu ton, namun ketika dinyatakan sudah tidak layak berlayar lagi, rongsokan besi tua ini beratnya akan berkurang dimakan usia. Disinilah kelihaian menaksir diperlukan, tongkang rongsokan yang didatangkan dari Manado ini, ditaksir kini bobotnya berkisar 9 ribu ton setelah dikurangi bagian-bagian yang tak bernilai jual.
Harga belinya hampir mencapai 600 juta rupiah, belum termasuk ongkos menarik tongkang dan biaya masuk ke Jakarta yang mencapai 350 juta rupiah, total modal awal yang diperlukan sekitar 900 juta rupiah.

Rongsokan tongkang ini kemudian dipotong-potong, biasanya untuk mengerjakan pemotongan pengusaha besi tua mempercayakannya kepada seorang pemborong. Selanjutnya sang pengusaha tinggal menghitung keuntungan yang akan diperoleh dari penjualan besi-besi tua.

Jika sebuah tongkang yang telah dipotong-potong mencapai bobot 10 ribu ton, maka setidaknya seorang pengusaha besi tua bisa memperoleh keuntungan besi 10 milyar rupiah, menggiurkan memang. Disini lain resiko berbisnis besi tua juga cukup tinggi.

Ratusan juta rupiah bisa melayang, itu terjadi jika salah menaksir bobot kapal atau tongkang dan waktu yang dibutuhkan selama pemotongan jauh lebih lama dari yang diperkirakan, sehingga biaya operasional membengkak.

Setiap bisnis pastilah mempunyai resiko, hal ini pula yang disadari Haji Sidik dan rekan-rekannya sesama pengusaha. Potensi rugi memang ada tapi peluang keuntungan milyaran rupiah pun menanti. Pada rongsokan kapal dan tongkang tua inilah mereka menyandarkan hidup.

Kejadian melihat peluang adalah langkah awal memulai suatu usaha. Selanjutnya tentu saja keberanian menanggung resiko dan pada akhirnya naluri bisnis. Usaha besi tua seperti milik Haji Sidik ini tentu saja memerlukan seni tersendiri agar memperoleh keuntungan. Pemborong dan para pekerjanya punya adil besar dalam hal ini.

Pemborong dalam bisnis besi tua kapal ini juga punya resiko menanggung kerugian, jika salah menaksir bobot kapal. Namun juga punya potensi untuk mendapat keuntungan hingga puluhan juta rupiah, jika pengerjaannya selesai lebih cepat dari waktu yang disepakati.

Tenaga pemotongnya pun mendapat bayaran hingga 100 ribu rupiah per hari, karena besarsnya resiko yang harus ditanggung umumnya mereka yang terlibat dalam usaha besi tua kapal bekas ini telah saling mengenal.

Menjalankan bisnis besi tua seperti pemotongan kapal atau tongkang, memang tidak semata butuh modal ratusan juta rupiah. Kemampuan lain yang tak kalah pentingnya adalah jitu menaksir bobot kapal atau tongkang dan mampu menghitung lamanya waktu yang dibutuhkan untuk memotong-motongnya hingga tak bersisa.

Biasanya pekerjaan mulai dari menaksir bobot kapal hingga pemotongan termasuk menyediakan tenaga kerja dipercayakan kepada seorang pemborong. Di sini pemborong punya peran cukup penting, jika penghitungan meleset bisa-bisa biaya operasional membengkak. Itu berarti keuntungan yang diperoleh berkurang.

Pemborong kapal bekerja berdasarkan kontrak, upah diperoleh dari pelihaian si pemborong menghitung waktu yang dihabiskan untuk memotong tongkang secara keseluruhan. Untuk mengerjakan tongkang ini, minimal diberi waktu 4 bulan oleh si pengusaha besi.

Padahal menurut perkiraannya, pemotongan tongkang bisa selesai dalam jangka waktu tiga bulan. Kelebihan biaya operasional itu yang mencapai puluhan juta rupiah menjadi keuntungan si pemborong. Hanya saja, si pemborong juga harus menanggung resiko jika ternyata pengerjaannya molor dari batas waktu yang ditentukan.

Agar terhindar dari resiko si pemborong tak sembarang mempekerjakan orang, karena itu tak heran beberapa pekerja upah per harinya bisa mencapai 100 ribu rupiah. Biasanya mereka ini telah memiliki pengalaman kerja puluhan tahun dibidang pemotongan besi tua.

Tenaga yang telah berpengalaman ini, umumnya berasal dari Madura, Jawa Timur, bisa bekerja dengan cepat dan cukup disiplin dalam soal waktu. Tak heran jika bisnis besi tua banyak didominasi oleh orang-orang Madura.

Lain lagi dengan upah untuk tenaga baru, umumnya berkisar antara 45 ribu hingga 70 ribu rupiah. Upah seluruh tenaga pemotong yang jumlahnya mencapai 30-an orang itu, menjadi tanggung jawab pemborong. Begitupula dengan biaya operasional lain, seperti pembayaran tabung oksigen, tabung elpiji, sewa truk dan ongkos angkut dari tempat pemotongan ke perusahaan peleburan besi juga menjadi tanggung jawab si pemborong.

Hambatan selama proses pemotongan nyaris jarang ditemui, kalaupun ada biasanya dikarenakan faktor alam, disaat ombak besar para pekerja akan mengalami kesulitan melakukan pemotongan tongkang atau kapal. Jika terjadi hal demikian, kerugian tak bisa dihindari.

Peluang menjadi pemborong besi tua, memang masih terbuka lebar apalagi hambatan yang dihadapi relatif jarang, asal pandai berhitung dan menyiasati waktu bisa mengantong keuntungan puluhan juta rupiah.(Sup/Idh)

Video Streaming

Bookmark and Share