
Peliput :
Iwan Munandar
Joni Suryadi
Damar Galih
Tayang : Rabu, 30 Januari 2008, Pukul 12.30 WIB
indosiar.com, Jakarta - Wafatnya pak Harto pada hari Minggu (27/1/2008), tidak hanya menyisakan duka bagi pihak keluarga. Tapi juga menyisakan duka bagi seluruh bangsa Indonesia. Ini terbukti dengan banyaknya animo masyarakat yang datang melayat di Jalan Cendana Jakarta Pusat ini pada hari Minggu dan hari Senin (28/1) kemarin.
Wafatnya mantan Presiden Soeharto tidak hanya membuat duka bagi keluarga Cendana. Bagi masyarakat Indonesia, peristiwa ini juga menunjukkan mantan penguasa Orde Baru ini masih punya kharisma sebagai seorang pemimpin.bJabatan yang diembannya sebagai presiden sejak tahun 1967, telah membawa banyak perubahan bagi Indonesia. Karena itu tidak heran pada hari Minggu malam tanggal 27 Januari kemarin, ribuan warga berdatangan ke rumah duka di Jalan Cendana Jakarta Pusat, untuk mengucapkan belasungkawa.
Mereka berusaha agar dapat masuk kedalam rumah, supaya bisa berdoa didekat jenazah Pak Harto. Namun untuk ketertiban, aparat keamanan yang berjaga hanya memperbolehkan beberapa orang saja yang masuk kedalam rumah duka.
Karangan bunga yang dikirimkan sebagai ucapan belasungkawa atas wafatnya Pak Harto, banyak yang diambili oleh warga yang datang ke rumah duka. Mereka beralasan, bunga-bunga ini sebagai kenang-kenangan terakhir dari Pak Harto. Bahkan beberapa orang diantaranya, datang dari luar Jakarta hanya untuk melihat jenazah Pak Harto. Bagi mereka, jarak jauh yang ditempuh tidak jadi masalah.
Dampak buruk pada era pemerintahan Pak Harto seperti tidak adanya kebebasan berpendapat atau hal buruk lainnya, tidak lagi dipedulikan. Karena setelah mengalami masa-masa sulit seperti pada saat ini, orang lebih melihat pada dampak positif dari kebijakan pemerintahan masa Pak Harto.
Seperti yang pernah diutarakan Pak Harto, Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghargai pemimpinnya. Selamat Jalan Pak Harto.
Jenazah Pak Harto telah diberangkatkan pada Senin (28/1/2008) ke Astana Giribangun di Karanganyar, Jawa Tengah. Memang sudah sejak lama, makam ini dipersiapkan disamping almarhumah Ibu Tien yang telah berpulang terlebih dahulu pada tahun 1996.
Upacara pemakaman berlangsung hari Senin, 28 Januari lalu. Pagi itu, semua mata tertuju pada Jalan Cendana, Jakarta Pusat, tempat kediaman almarhum Pak Harto. Tepat jam 7 pagi, jenazah almarhum diserahkan Mbak Tutut sebagai wakil keluarga kepada Ketua DPR RI Agung Laksono, selaku inspektur upacara mewakili pemerintah.
Ketika iring-iringan kendaraan jenazah Pak Harto melalui sejumlah ruas jalan dari Cendana menuju Lanud Halim Perdana Kusuma, sepanjang jalan warga menanti. Melambaikan tangan seperti sebuah ucapan perpisahan. Tak pelak kesempatan warga itu menambah rasa haru bercampur duka pada putra putri almarhum.
Tiba di lapangan udara Halim Perdana Kusuma Jakarta, peti jenazah Pak Harto berpindah ke Pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara dengan nomor penerbangan A 1341. Pesawat ini khusus berisi peti jenazah dan para pembawa peti. Sementara pihak keluarga naik pesawat lain. Semuanya menuju Bandara Adi Sumarmo, Solo.
Tiba di Solo, Jawa Tengah, perjalanan belum selesai. Iring-iringan jenazah beranjak meninggalkan Bandara Adi Sumarmo menuju tempat pemakaman di Astana Giribangun Karanganyar yang jaraknya sekitar 40 kilometer arah timur kota Solo. Di Astana Giribangun, upacara pemakaman Pak Harto berlangsung jam 12 siang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Panglima TNI dan ketiga Kepala Staf TNI dari Angkatan Darat, Laut dan Udara serta Kapolri terlibat aktif dalam pemakaman sang jenderal besar.
Segmen 3
Pada saat Pak Harto menjabat sebagai presiden, beliau dikenal dengan program pembangunannya. Antara lain program pembangunan lima tahun atau Repelita. Dan karena konsistensinya menjalankan program pembangunan itu Indonesia pernah mencapai swasembada pangan pada 1984.
Sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan dilingkungan pertanian, mantan Presiden Soeharto amat paham pada kehidupan rakyatnya, dimana meski Indonesia menuju era industrialisasi sebagian besar rakyat Indonesia tetap mengantungkan hidup dari sektor pertanian.
Ketika perjalanan hidup menarik Pak Harto ke arena politik dan pengabdian sipil, hal pertama yang dilakukannya adalah melakukan perbaikan kehidupan rakyat. Kebutuhan pangan yang tidak memadai sehingga membuat tingkat inflasi melambung sampai 650 persen pada tahun 1966 membuat tidak ada pilihan lain untuk dilakukan kecuali memperbaiki system produksi pertanian.
Dari kisaran angka inflasi 650 persen melunak menjadi 100 persen tahun 1967 kemudian terkendali diangka 13 persen tahun 1969, bisa dibilang sebagai prestasi yang diraih pemerintah saat itu. Kemudian para ahli ekonomi Universitas Indonesia yang dipimpin Prof Wijoyo Ninti Sastro dan Prof Ali Wardhana sebuah konsep pembangunan ekonomi jangka panjang yang terprogram pun dirancang dibawah bendera Garis Besar Haluan Negara yang diterjemahkan dalam rencana pembangunan lima tahunan (Repelita).
Arah yang dicapai dalam Repelita pertamanya pada tahun 1969 sangat sederhana, yakni bagaimana bangsa Indonesia bisa memenuhi kebutuhan pangan dan juga sandang sendiri.
Pelibatan semua komponen bangsa dilakukan agar program pembangunan bisa berjalan dan berhasil, misalnya mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang dilibatkan untuk turun ke lapangan mendampingi para petani agar bisa menjalankan program bimbingan masal.
Pak Harto juga tidak segan untuk langsung bertemu dan bercakap - cakap dengan petani. Konsistensi dalam menjalankan program pembangunan itulah yang akhirnya membawa Indonesia menggapai swasembada pangan tahun 1984. Prestasi besar itu membawa mantan Presiden Soeharto meraih penghargaan dari badan pangan dan pertanian dunia PBB FAO.
Setelah berhasil mencapai swasembada pangan barulah Repelita diarahkan ke bidang perumahan, pendidikan, kesejahteraan sosial dan kemudian pembangunan industri. Pencapaian pembangunan ekonomi yang dilakukan Indonesia selama 32 tahun kepemimpinan Presiden Soeharto sangat luar biasa.
Buktinya konsep pembangunan pak Harto cukup banyak yang ditiru negara - negara lain. Hal yang sangat disayangkan oleh pak Harto adalah tidak ada catatan tertulis yang bisa dijadikan sejarah bagaimana orde baru membangun perekonomian bangsa, sehingga kerja keras yang dilakukannya tidak cukup bisa dijadikan bahan pembelajaran bagi generasi selanjutnya. (Arni Gusmiarni/Sup/Ijs)