
indosiar.com, Karangasem, Bali - Ratusan pemuda desa ini sibuk menyiapkan pandan berduri, yang diikat menyerupai gada, dan akan dijadikan sebagai sebagai senjata, dalam perang pandan.
Para peserta kemudian berkumpul mendengarkan mantra yang dibacakan tetua adat. Mereka juga dibagikan tuak, minuman tradisional setempat, agar para peserta tidak merasa takut. Perang pandanpun dimulai.
Para pemuda ini berperang satu lawan satu dengan diiringi gamelan slonding, khas desa setempat. Mereka saling pukul satu sama lain. Menggesek pandan berduri ke tubuh lawan, sebanyak mungkin. Kendati terlihat berbahaya, prosesi ini juga diikuti oleh anak-anak, bahkan menarik minat, wisatawan untuk mencobanya.
Perang pandan ini digelar setiap tahun pada ushaba sambah, sebagai upacara besar dalam kalender adat ummat Hindu desa setempat. Ritual ini juga dimaksudkan sebagai simbol penghormatan kepada dewa perang, yakni Dewa Indra.
Sebagai penutup ritual mekare-kare, seluruh peserta pun berkumpul di balai agung, untuk makan bersama, tanpa dendam. Mereka saling mengobati menggunakan ramuan khusus, yang diyakini mampu menyembuhkan luka dalam waktu singkat. (Riadis Sulhi/Sup)