
Tepuk tangan riuh dan decak kagum membuncah dari salah satu ruangan yang disebut aula sekolah bagi para siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Fajar, Depok. Dengan mikropon di tangan, seorang wanita muda setengah berteriak mengajak dan meminta pendengarnya yang seluruhnya anak-anak sekolah itu, mengikuti arahannya.
Kamis siang, 20 Juli 2006 lalu, menjadi hari penting bagi anggota Kelompok Peduli Penyakit Lupus yang tergabung dalam Yayasan Lupus Indonesia. Mereka memberikan pengarahan bagi 80 pelajar yang berasal dari 40 sekolah di Depok, untuk menjadi duta penyakit Lupus di sekolah masing-masing.
Tiara Savitri, sang pembimbing, kemudian mengeluarkan buku kecil berwarna ungu berbentuk sayap kupu-kupu dari dalam tasnya. Sambil membuka-buka buku kecil itu, dia menunjukkan gambar-gambar menyedihkan tentang seorang penderita Lupus, yang menderita kerusakan pada seluruh kulit. Menurut Tiara Savitri, penyakit Lupus seperti fenomena gunung es. Penyakit yang mematikan ini memang belum banyak diketahui oleh masyarakat. Saat ini, jumlah penderita yang berhasil dirangkum Yayasan Lupus hingga bulan Juni 2006 mencapai 6 juta orang.
Banyak orang tidak mengetahui apa itu penyakit Luput atau lengkapnya Systemic Lupus Erythematosus (SLE) . Sehingga cukup banyak yang beranggapan Lupus merupakan penyakit langka. Jika tidak diketahui secara dini, Lupus sama berbahayanya dengan penyakit kanker, jantung, maupun AIDS, yang bisa mengancam jiwa dan menyebabkan kematian.
Apa penyakit Lupus itu? Dalam pemaparan singkat Tiara Savitri kepada para siswa sekolah menengah atas itu, penyakit Lupus adalah penyakit kronik dan menahan dan dikenal sebagai penyakit autoimun. Penyakit ini menyerang seluruh korban tubuh manusia, dengan paling banyak menyerang organ vital. Penyakit Lupus terjadi akibat produksi antibodi berlebihan, sehingga tidak berfungsi menyerang virus, kuman atau bakteri yang ada di tubuh. Penyakit ini justru menyerang sistem kekebalan sel dan jaringan tubuh sendiri.
Sampai saat ini faktor penyebabnya belum bisa diketahui dengan pasti. Berbeda dengan AIDS, penyakit ini tidak disebabkan oleh virus atau bakteri, juga bukan penyakit turunan dan menular. Sayangnya, untuk mengenali seseorang terjangkit penyakit ini sulit untuk diketahui, lantaran tidak ada gejala khusus pada orang-orang yang terkena.
Setelah 2 jam berlalu, para siswa calon duta-duta pun masih terdiam. Mereka sibuk membolak balik halaman buku kecil yang dipegang. Mana yang dipahami dan tidak. Siap atau tidak, duta-duta Lupus itu tetap diterjunkan ke dalam kelas, guna mensosialisasikan penyakit Lupus kepada 1300 siswa.
Kata Tiara Savitri, siap atau tidak tugas sosialisasi harus dilakukan oleh pelajar. Hasil survei terbaru, penyakit ini menjangkiti anak usia 4 tahun dan dewasa 77 tahun. Namun, mayoritas penderita adalah remaja usia produktif mulai 14 - 40 tahun. "Kalau bukan mereka, siapa lagi yang akan memberikan peringatan dan pengayoman terhadap rekan-rekan sesama pelajar yang rentan terhadap penyakit Lupus," kata Tiara.
Buat Fathur, berdiri depan kelas menerangkan apa penyakit Lupus, kepada rekan sejawat bukan hal mudah, apalagi remaja pria kelas 2 salah satu SMA Negeri di Depok ini mengaku tidak pernah tampil di muka umum. Meski demikian, ia akan tetap menjalankan tugas sebagai Duta Lupus. Walau dibantu obsevator Tiara Savitri, dengan suara lantang dan keras, Fathur menjelaskan tentang penyakit Lupus dihadapan 27 orang siswa. Beberapa pertanyaan yang menghadangnya tetap dijawab dengan segala kemampuannya.
"Saya senang bisa menjadi bagian dari gerakan sosialisasi Penyakit Lupus." Walau tidak mengalami salah satu gejala penyakit Lupus, tapi Fathur mengaku penyakit itu akan menghantuinya. Sebagai ramaja produktif, dirinya berharap kepada rekan-rekan pelajar lain agar lebih memperhatikan kesehatan lingkungan dan keseimbangan hidup dan terbebas dari narkoba.(Hr/Idh)
* ODAPUS, Orang Dengan Penyakit Lupus