HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Suran di Gunung Srandil, Upaya Nguri-uri Tradisi Budaya



Liputan : Nanang Anna Nurani

indosiar.com, Cilacap - SRANDIL , nama sebuah gunung yang akhirnya menjadi sebuah tempat yang selalu ramai dikunjungi orang pada perayaan Suran (1 Sura).

Gunung Srandil diambil dari nama dusun Srandil yang berada di Desa Glempangsari Kecamatan Adipala, Cilacap. Pada Senin hingga Selasa (04/03) lalu, desa itu benar-benar lain dari biasanya. Karena saat itu sedang berlangsung sebuah prosesi ritual penuh magis. Perayaan itu biasa disebut Suran.

Di dusun itu berdiri bangunan megah. Pada bagian depan bangunan, yang mampu menampung ratusan orang itu, dipagar keliling menggunakan teralis besi dan terdapat dua pintu gerbang di kanan kirinya. Persis didepan pintu utama gedung itu, atau didalam halaman terdapat satu papan bertuliskan 'Padepokan Agung Mandala Giri Srandil' yang diresmikan penggunaannya 20 Maret 2000. Memang bangunan itu masih nampak baru, namun jika memasuki ke dalam ruangan itu akan tercipta satu kesan yang lain.

Bangunan tersebut dibangun oleh Paguyuban Cahya Buwana yang merupakan
Paguyuban Penghayat Kepercayaan pimpinan Drs R Sarwo Dadi Ngudiono. Meski paguyuban tersebut terbilang baru, namun anggotanya mencapai ratusan bahkan ribuan. Jumlah anggota itu bisa terlihat ketika selama dua hari lalu, diadakan satu rangkaian kegiatan ritual menyambut 1 Suro 1936.

Hampir semua kamar yang ada dikanan kiri gedung itu, penuh sesak oleh para pendatang dari berbagai kota. Begitu pula satu bangsal yang berada di tengah-tengah bangunan tersebut, dijubeli para pengunjung yang menginap bersama sanak keluarganya. Di ruangan belakang, nampak wanita dan lelaki sibuk memasak untuk makanan para pengunjung, yang memang sengaja datang ke padepokan itu untuk satu rangkaian acara yang mereka yakini.

Menurut Sarwa Dadi Ngudiono, para anggota Cahya Buwana tersebut dari berbagai latar belakang. Banyak diantara pengunjung adalah orang-orang Jawa, entah itu petani, pedagang mapun dari kalangan birokrasi. Namun tidak sedikit pula berbaur diantara orang-orang Jawa, adalah WNI keturunan Tionghoa. Bahkan, satu rombongan yang khusus datang dari Tegal adalah masyarakat Konghucu Tegal yang berada dibawah naungan Majelis Agama Konghucu Indonesia (Makin) Cabang Tegal.

Ketua Makin Tegal Bs Kim Giok Nio alias Endah Kumolo Wati kepada para wartawan yang diundang untuk meliput kegiatan ritual Paguyuban Cahya Buwana itu, mengatakan, banyak umat Konghucu Tegal yang ikut bergabung dalam paguyuban tersebut. Alasannya mereka satu paham dengan cita-cita paguyuban yang menguri-uri kebudayaan Jawa.

Menurutnya meski dia warga keturunan (Cina-red), namun sadar benar bahwa selama ini hidup di tanah Jawa yang harus ikut menguri-uri kebudyaaan nenek moyang. "Sebab dalam ajaran agama saya, berbaur dengan masyarakat serta menghormati kebudayaannya adalah satu perintah yang harus dilakukan,'' ujar Giok, sapaan akrab Ny Bs Kim Giok Bio.

Dikatakan, nuansa Jawa sangat terasa dalam paguyuban itu. Misalnya saja bagi anggota yang telah dinyatakan diwisuda, maka akan diberi nama depan Teguh bila laki-laki dan Endang atau Endah bila wanita. Begitu pula ruang-ruang yang ada dalam padepokan, diberi nama Jawa, seperti ; Sasana Joli, Sasana Panitra, Upaksi Tamu dan lain-lain. Termasuk sebagai simbol utama paguyuban itu adalah Sangyang Ismpyo atau Ki Semar dengan logo angka 1610. ''Siji, enem, sepuluh itu berarti dalam aksara Jawa Ha, Da, La yang memiliki makna Adilah,'' ucap Drs R Sarwo Dadi Ngudiono, Ketua Paguyuban Cahya Buana.

Drs R Sarwo Dadi Ngudiono mengungkapkan latar belakang didirikannya paguyuban yang bermarkas di Srandil Cilacap tersebut. Katanya, sebagai orang yang dilahirkan di Jawa, maka memiliki keinginan untuk melestarikan kebudayaan Jawa. ''Saya sebenarnya sejak kecil hidup di kalangan Katolik. Bahkan saya disekolahkan oleh orang tua pada sekolah misionaris di Malang untuk menjadi pastur. Ketika akan diwisuda sebagai pastur, saya melakukan tirakat dan mendapat satu wisik untuk membuka padepokan di Srandil", jelasnya.

Setelah sekitar 12 tahun Drs R Sarwo Dadi Ngudiono sering bertirakat di Srandil, akhirnya terbentuklah satu paguyuban. Sarwo Dadi memiliki satu niat dengan pembentukan paguyuban itu akan berusaha membentuk citra Gunung Srandil sebagai tempat yang positif. Sebab selama ini ada kesan Srandil sebagai tempat gelap para penyembah batu atau patung yang dilarang oleh semua agama. ''Dengan pengertian bahwa semua yang hidup itu adalah kehendak Tuhan Yang Maha Esa maka yang ada di Srandil itu adalah tidak terlepas dari kekuasan-Nya,'' ucapnya.

Ujud dari menguri-uri kebudayaan Jawa, dalam perayaan-perayaan yang diselenggarakan Paguyuban cahya Buwana selalu melibatkan kesenian tradisional. Sedangkan dalam kegiatan ritual, untuk pemanjatan doa kepada Sanghyang Ismoyo dengan lagu-lagu macapatan. Seperti yang terlihat ketika upacara larungan sesaji kepala kambing Selasa (4/3) kemarin. Sesaji dari hasil bumi yang melambangkan rasa syukur sebelum dilarung diberi doa dengan ujud tembang-tembang macapat.

Semarak

Perayaan kemarin berlangsung semarak. Kegiatan yang biasanya dipusatkan di pelataran Mandala Giri Srandil kemarin digeser ke padepokan Cahya Buwana yang berlokasi sekitar 200 meter dari Srandil.

Prosesi diawali dengan jalan kaki beriringan para kadang Srandil dari Padepokan Cahya Buwana ke pelataran Mandala Giri, Senin sore. Kemudian mereka melakukan penanaman kepala kambing di bawah pohon bodi yang tumbuh di pelataran Mandala Giri.

Setrelah itu dilanjutkan menuju bangunan segitiga di kaki Gunung Srandil, dimana biasa Ketua Paguyuban Cahya Buwana Drs Sarwa Dadi Ngudiono paring wejang (memberi wejangan). Setelah mereka berkumpul maka prosesi dilanjutkan rawuhan Kaki Semar yang menjadi simbol penguasa Srandil.

Pada ritual tersebut, Kaki Semar yang konon masuk ke dalam raga Ki Sarwa Dadi Ngudiono memberikan berbagai wejangan (nasihat) tentang kehidupan yang baik bagi manusia. Di samping, kaki memberikan sinyal-sinyal tentang peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang. Baik dari segi politik, ekonomi dan kejadian alam yang akan terjadi dalam satu tahun mendatang.

Disebutkan, kondisi perekonomian yang tidak menentu akan terus berlanjut. Aksi menggoyang penguasa juga masih berlanjut, banyak orang pintar membodohi rakyat kecil dengan dalih membela negara dan bangsa serta diramalkan akan terjadi banjir bandang.

Menurut Sekjen Paguyuban Cahya Buwana Eko, prediksi peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang sangat diyakini anggota paguyubannya. Karena dari pengalaman selama ini, peristiwa lengsernya Gus Dur dari jabatan presiden dan peristiwa bom Bali sudah ada sinyal-sinyalnya pada wejangan tahun lalu.

Hanya saja, saat itu tidak banyak orang yang menanggapinya dan baru sadar setelah peristiwa itu benar terjadi. Hal itu yang membuat mereka percaya, sinyal-sinyal peristiwa yang ada dalam wejangan kali inipun diyakini akan terjadi pada masa mendatang.

Nasihat atau wejangan Kaki Semar akan dijadikan tuntunan untuk mengoreksi diri sendiri, sehingga segala tindakannya ke depan tidak ceroboh, hati-hati dan memberikan kebaikan kepada sesamanya. Anggota paguyuban menjadi selalu berpikiran positif baik untuk diri sendiri maupun kehidupan manusia lainnya.

Puncak kegiatan perayaan tanggap warsa 1936 atau Suran di sekitar padepokan Cahya Buwana. Setelah kegiatan berakhir hingga tengah malam, Selasa paginya dilanjutkan dengan kirab bendera pusaka Tunggul Buwana dan larung sesaji ke Laut Selatan dan ditutup dengan pembuatan tolak bala Sura 1936. Dalam larungan sesaji kadang Srandil berebut jolen sesaji agar memperoleh berkah (Idh)

Bookmark and Share