HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
RAGAM

Tak Kulepas Jasadmu



Reporter: Budi Pranoto - Mashyuri Wahid
Juru Kamera: Dedi Suhardiman
Tayang: Kamis, 15 Juni 2006 Pukul 12.00 WIB

indosiar.com, Cirebon - Sepintar-pintarnya menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga. Kalimat yang sebetulnya merupakan ungkapan ini, ternyata betul-betul terbukti dalam Jejak Kasus kali ini.

Seorang pelaku pembunuhan menyimpan jenazah korbannya selama beberapa hari, bahkan ia sempat tidur bersama. Sebelum akhirnya ketahuan karena bau mayat yang mulai menyengat. Pelaku enggan membuang jenazah korban karena amat menyayanginya. Sebuah kisah kasih tragis hubungan sesama jenis.

Kamar jenazah RSUD Sunan Gunungjati Cirebon, Jawa Barat beberapa waktu lalu mendapat kiriman mayat yang sudah dalam keadaan membusuk. Kondisinya sangat mengenaskan. Akibat sudah lama meninggal wajahnya rusak dan hancur tak bisa dikenali. Kedua tangan dan kakinya masih dalam keadaan terikat tali plastik.

Korban yang kemudian diketahui bernama Roy Sandi itu masih berusia 15 tahun. Ditemukan dalam sebuah gerobak kios jamu di Desa Karang Sembung, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Korban pertama kali ditemukan oleh seorang pedagang bubur yang berjualan tepat bersisihan dengan sebuah gerobak jamu. Saat itu sang tukang bubur merasa terganggu dengan bau busuk menyengat yang tampaknya berasal dari kios jamu, tepat disebelah dia berdagang.

Biasanya, si pemilik kios jamu tidur didalam warungnya tersebut. Tapi hari itu ia tidak ada. Dan kios pun dalam keadaan terkunci. Bersama dengan warga Suhanda, si tukang bubur lalu menelusuri sumber bau busuk yang menganggu itu.

Mayat didalam kios tersebut memang langsung dikenali warga sebagai Roy Sandi, remaja yang tinggal hanya beberapa meter dari tempat kejadian. Menurut pihak keluarga, sudah tiga hari Roy tidak pulang ke rumah.

Mereka juga baru melaporkan pada polisi soal kehilangan pemuda itu pagi hari sebelum jenazah Roy ditemukan. Siapa sangka, Roy akhirnya pulang dalam keadaan tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan.

Bersamaan dengan ditemukannya mayat Roy Sandi, pemilik gerobak jamu yang bernama Rosid tiba-tiba menghilang. Rosid yang sehari-harinya membuka kios jamu di Pasar Karang Sembung, oleh warga sekitar dikenal berprilaku menyimpang dan menyukai bocah laki-laki. Tak pelak, muncul dugaan kematian Roy Sandi terkait dengan kejahatan seksual.

Apa yang dilakukan tersangka sungguh berdarah dingin. Selain tidur bersama dan tetap berjualan dengan mayat korban ada didekatnya. Tersangka juga berlagak tidak tahu apa-apa ketika orangtua korban datang menanyakan keberadaan putra mereka itu.

Kepolisian Resor Cirebon yang menangani kasus pembunuhan ini menangkap sang pemilik kios jamu Abdul Rosid, tidak lama setelah menerima laporan masyarakat.

Berdasarkan hasil pemeriksaan polisi, pembunuhan terhadap Roy Sandi terjadi pada hari Minggu, 28 Mei 2006 sekitar jam 11 malam didalam kios jamu milik Abdul Rosid. Atau tiga hari sebelum jenazah korban ditemukan.

Dari kasus ini pula terungkap hubungan asmara antara tersangka Rosid dengan korban. Bukan sekedar kisah kasih, tapi sudah memasuki hubungan yang lebih intim. Menurut tersangka, malam saat kejadian itu, korban datang ke warung jamunya yang sudah tutup.

Abdul Rosid pedagang jamu asal Desa Japura Kidul, Astana Japura, Cirebon kini ditahan di Mapolres Cirebon. Rosid mengaku mayat korban sengaja ia simpan didalam kios dengan alasan masih menyayangi korban.

Selama dua hari sebelum bau busuk menyengat itu terendus warga sekitar, tersangka tetap menganggap mayat korban sebagai teman tidurnya. Lelaki berusia 42 tahun itu juga tetap membuka kios jamunya seperti hari-hari biasa.

Bersanding dengan mayat korban yang ditutupi kardus, seakan tidak pernah terjadi apa-apa diantara berdua. Untuk menyamarkan bau, tersangka menyiramkan minyak wangi ke jasad korban.

Tidak ada yang curiga sama sekali tersangka menyembunyikan mayat didalam warung jamunya yang kecil itu. Termasuk ayah korban yang sempat mencari putranya ke warung jamu tersangka.

Didepan polisi, tersangka memang secara gamblang menceritakan hubungan intimnya dengan korban. Bahkan menurut tersangka, hubungan intim sesama jenis itu juga ia lakukan dengan sejumlah bocah lelaki yang tinggal disekitarnya. Semua atas dasar suka sama suka.

Tapi hanya pada korbanlah hatinya tertambat. Sejak pembunuhan itu pula, tersangka selalu membacakan doa bagi arwah remaja yang menurutnya sangat dikasihinya itu.

Warga sekitar yang tahu, masih tetap tidak curiga karena tersangka memang biasa beribadah didalam warung jamunya yang relatif sempit itu.

Warga sekitar mengaku sama sekali tidak curiga kalau ada hubungan cinta menyimpang antara korban dan tersangka. Selama ini warga mengenal tersangka sebagai pribadi yang baik. Apalagi, gaya bicaranya yang lembut dan agak feminim, membuatnya justru banyak disukai.

Kasus pembunuhan Roy Sandi, remaja belia berusia 15 tahun sampai saat ini menimbulkan tanda tanya besar bagi warga Desa Karang Sembung, Cirebon, Jawa Barat. Selama ini tersangka Abdul Rosid, pria yang tetap melanjang di usianya yang ke 42 tahun, dikenal sebagai pribadi yang baik dan suka menolong.

Tim Jejak Kasus juga mengunjungi keluarga korban di Blok Pahing, Desa Karang Sembung, tidak jauh dari lokasi pembunuhan itu. Ayah korban tidak percaya anaknya dihabisi seperti itu.

Selama ini anak ketiga dari empat bersaudara tersebut tidak menunjukkan gejala atau perilaku yang aneh. Ia hanya tahu, Roy dan teman-teman sebayanya memang sering nongkrong di kios jamu milik Abdul Rosid.

Ia juga mengaku selama ini kurang memperhatikan anaknya yang tengah beranjak dewasa itu karena disibukkan dengan berjualan bensin eceran di kiosnya.

Kakak perempuan korban sebenarnya sudah melihat perubahan dalam diri adiknya. Terutama sejak Roy Sandi tidak melanjutkan pendidikannya dari sekolah dasar setahun lalu. Namun ia merasa hal itu wajar, mengingat Roy beranjak tumbuh dewasa. Menurut tersangka, pertemanannya dengan Roy sudah dimulai sejak Roy masih sekolah.

Awalnya, bocah itu sering mengadu soal keluarganya kepada tersangka. Lama kelamaan, hubungan itu berkembang kearah hubungan intim sejenis.

Tidak hanya korban Roy Sandi yang diakui tersangka dekat dengan dirinya. Selama berjualan jamu di Pasar Sembung, setidaknya ia pernah mengauli 5 anak laki-laki.

Sebut saja salah satunya Boy. Ketika Tim Liputan Jejak Kasus mewawancarainya, sang bocah itupun tidak mengelak. Ia mengaku, hubungan badan tersebut hanya dilakukannya satu kali. Kios jamu tersangka memang sering jadi tempat berkumpul anak-anak muda di kampung itu.

Prilaku tersangka yang lemah lembut dan terkesan rajin beribadah, membuat warga sekitar tak pernah curiga telah terjadi hubungan cinta sejenis yang ujung-ujungnya menyebabkan hilangnya nyawa salah seorang diantara mereka.

Sementara itu setelah Rosid ditangkap di rumah yang ia huni bersama ibunya, sang ibu seperti tidak percaya, anak lelaki satu-satunya tersebut melakukan kejahatan seperti itu. Di mata sang ibu, Abdul Rosid yang sudah menjadi yatim sejak kecil itu tidak menunjukkan perilaku menyimpang.

Tersangka yang jadi tulang punggung keluarga itu, bagaimanapun harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Korban yang masih dibawah umur, menyebabkan Rosid bukan hanya menanggung jeratan hukum pidana. Tapi juga dikenakan pasal Undang Undang Perlindungan Anak. (Sup)

Bookmark and Share


Page: 1
15-Aug-2009 02:44:30 WIB by agus
oalahh tole-tole, ampunkanlah dosa-dosanya ya ALLAH
10-Jul-2006 12:16:35 WIB by Agus Nawawi
artikel di atas sudah baik tapi lebih baik lagi bila di sisipi pendapat para ahli Psikologi di lihat dari sudut Pskologi mengenai latar belakang kasus yang sedang di bahas.
2-Jul-2006 15:54:48 WIB by arsita dewi
pak menikah ajalah dari pd kayak gt
20-Jun-2006 15:48:53 WIB by jonatan
dasar orang gak laku, amit2 cabang bayi

 

Nama:
Email:
Security Code: