HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Taruhan Nyawa di Gunung Pongkor



Berita HOT:

Reporter : Ninok Hariyani
Cameraman : Joni Suryadi

indosiar.com, Bogor - Suatu siang, kawasan bisnis pertambangan emas Pongkor, Jawa Barat, tampak sunyi. Tak ada kegiatan penambangan seperti hari-hari sebelumnya. Asap tebal yang masuk ke lobang galian buatan penambang emas tanpa izin, menembus hingga ke level terowongan penambangan milik PT. Antam.

Tragedi Pongkor awal Maret itu, telah menewaskan 12 penambang emas tanpa izin. Seluruh kegiatan produksi pun dihentikan. Perhatian hanya tertuju pada kegiatan evakuasi para korban, yang berjalan tersendat-sendat. Satu per satu jenazah dikeluarkan, untuk selanjutnya dipulangkan ke keluarganya masing-masing.

Fenomena munculnya peti, penambang emas tanpa izin atau dalam bahasa setempat disebut gurandil, hampir bersamaan dengan kegiatan eksplorasi emas Pongkor, yang dikelola PT Antam tbk, di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tahun 1988. Temuan tiga urat kuarsa di Gunung Pongkor yang mengandung emas ini, selain memberi keuntungan besar, disisi lain temuan ini juga menuai persoalan sosial dan ekonomi, dengan kehadiran para gurandil.

Awalnya, gurandil jumlahnya mencapai puluhan hingga ratusan orang. Jumlah itu belum menimbulkan persoalan yang berarti bagi perusahaan. Namun pada tahun 1997, seiring dengan krisis ekonomi, jumlah gurandil meningkat pesat. Mencapai puncaknya pada tahun 1999, sebanyak 8000 lebih gurandil menguasai areal pertambangan seluas 200 hektar dari 6.000 hektar lebih areal pertambangan yang dikelola antam. Para gurandil ini mengincar urat emas.

Dengan berbekal linggis, martil, pemahat, panci kecil, korek api, lilin dan mie instant secukupnya, mereka mengadu nasib mencari batuan mengandung emas di perut Gunung Pongkor. Untuk mencapai urat emas ini, dibuatlah lubang seukuran tubuh manusia, dengan kedalaman bervariasi, 10, 30, atau 40 meter, dengan berbagai macam sudut miring. Kadang mereka tak segan, membangun lubang hingga menembus level terowongan milik Antam. Lubang yang mirip sumur atau terowongan ini, hanya bisa dimasuki dengan berjalan jongkok.

Sekali masuk lubang, para gurandil ini bisa menghabiskan waktu dua-tiga hari hingga berminggu-minggu hanya untuk menemukan urat emas. Begitu mendapati urat emas di dinding lubang, mereka akan terus menggali. Di masa jayanya gurandil, jika nasib sedang mujur, belasan juta rupiah bisa mereka dapatkan dari berjualan bongkahan-bongkahan batu mengandung emas tersebut. Bila nasib kurang mujur, masing-masing hanya mendapatkan 200 ribu rupiah. Jika sedang apes, mereka tak mendapatkan apa-apa.

Membayangkan apa yang mereka dapatkan, sebenarnya tak sebanding dengan besarnya resiko yang mereka hadapi. Begitu masuk lubang, nyawa menjadi taruhannya. Lubang buatan gurandil yang digarap seadanya tanpa pengaman dinding itu, memang sangat rentan longsor. Peristiwa tewasnya gurandil, sering kali terjadi, selain karena asap bakaran seperti yang menimpa 12 gurandil awal Maret lalu, penyebab lain tertimbun tanah longsor.

Emas memang memiliki daya tarik, karena itu banyak orang mencarinya. Namun untuk memburu urat emas di perut Gunung Pongkor dengan menjadi gurandil, bukanlah sebuah pilihan hidup yang menyenangkan. Bekerja sebagai gurandil dengan taruhan nayawa, terpaksa mereka lakukan, demi menyambung hidup.

Sejak tragedi Pongkor awal Maret lalu, yang menelan korban 12 gurandil, suasana di desa-desa yang tersebar di kaki Gunung Pongkor, tampak lengang. Sejumlah warga yang berprofesi sebagai gurandil, juga tak nampak lalu lalang. Tampaknya mereka tengah berisitirahat, menunggu suasana kembali normal. Sebagian warga desa, memang masih merasakan suasana duka. Namun sebagian yang lain, sibuk menggelundung batuan yang dianggap mengandung emas, dengan mesin sederhana.

Peristiwa yang menimpa para penambang tanpa izin, awal Maret lalu, seperti terkena asap bakaran atau tertimbun tanah longsor, sebenarnya sudah sering terjadi. Para penambang itu tak pernah memperhatikan jenis tanah dan tingkat kelongsoran. Ketika menambang pun mereka berbekal peralatan seadanya, tanpa alat keselamatan diri. Kecelakaan yang menimpa lebih sering karena keteledoran semata.

Namun di mata masyarakat, peristiwa itu ditafsirkan lain. tragedi yang menimpa 12 gurandil awal Maret lalu, dikaitkan dengan kisah yang sejak lama beredar di tengah masyarakat. Si penunggu gunung, tengah terusik oleh ulah para gurandil.

Masyarakat juga percaya, di bulan Muharram sebaiknya tidak melakukan kegiatan yang berisiko tinggi. Selama bulan itu lebih baik digunakan untuk beribadah. Serangkaian upacara kecil seperti menyediakan sesajen, memohon doa keselamatan, dan meminta ijin kepada para penunggu, sebaiknya juga dilakukan para gurandil sebelum memasuki lubang galian.

Kegiatan para gurandil, hingga kini memang sulit dihapuskan. Beberapa tahun lalu, sejak unit bisnis pertambangan milik PT Antam berdiri, warga sekitar kaki Gunung Pongkor, sangat tertolong dengan adanya industri kecil-kecilan para gurandil ini. Meski menyadari perbuatan tersebut melanggar hukum dan penuh resiko, namun rezeki yang mereka dapat dari usaha itu, mampu mencukupi kebutuhan hidup. Emas memang menarik perhatian, hingga membuat ratusan orang rela menyabung nyawa demi mendapatkannya.(Idh)

Video Streaming

Bookmark and Share